Hari ini, lagi-lagi saya menemukan sebuah alasan bersyukur yang aneh… Di ‘dinding facebook’ seorang teman saya menemukan gambar seperti ini:
dengan caption seperti ini:

Anak ini harus bekerja keras untuk mendapatkan sedikit uang, mengorbankan kebahagiaan masa kecilnya untuk mengisi perutnya yang lapar.

Sebagian besar anak dan kita saat masih kecil dahulu, menemukan makanan sudah siap tersedia di meja.

jika hidup Anda lebih baik darinya..
maka syukurilah…

jika pekerjaan Anda lebih ringan darinya..
berhentilah mengeluh…

Saya setuju bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan untuk anak ini, setidaknya jika kita hidup terpisah begitu jauh dari anak ini. Namun pertanyaan saya, apa yang dilakukan si pemotret? Memberi sedikit uang? Memberi sedikit sedekah? Atau hanya menjadikan anak ini obyek potret yang kemudian dijadikan kata-kata indah mengajak orang lain untuk bersyukur? Saya berharap bukan yang terakhir.

Saya sendiri tidak berani menghakimi orang yang mengambil gambar ini maupun yang menyebarluaskannya dengan bahasa yang (terdengar) indah. Mungkin saja dia sudah melakukan sesuatu untuk anak ini (ataupun untuk kemanusiaan). Saya hanya merasa perlu meluruskan beberapa hal di sini…

Kenapa begitu banyak orang menggunakan ketidak beruntungan orang lain sebagai alasan untuk bersyukur, alasan untuk berpikir bahwa dirinya ‘lebih dikasihi’ Tuhan dibanding orang lain…

Kenapa begitu banyak orang menggunakan ketidakberuntungan orang lain sebagai alasan untuk tidak mengeluh… alasan untuk merasa lega karena dirinya diberi berkat lebih dari orang lain…

Bukankah itu sesuatu yang jahat??

Sekali lagi (dan ini bukan yang terakhir kali sepertinya), bagi saya alasan bersyukur bukanlah karena orang lain lebih tidak beruntung dibanding kita. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing dalam kehidupan… Mereka semua beruntung karena mereka istimewa di mata Penciptanya, dan menyadari hal itu…

Bersyukur adalah menyadari bahwa semua yang diterimanya adalah pemberian Tuhan, tanpa mempedulikan apa yang diterima orang lain. Bersyukur adalah ketika kita menerima semuanya dengan hati yang rela, tanpa membandingkan apa yang kita terima dengan orang lain.

Ada satu kejadian unik yang terjadi hari Minggu yang lalu. Setelah acara Ibadah bersama Pelajar Kristen SDN, kami memutuskan untuk merayakannya bersama Menara SInger. Setelah makan di KFC, kami mengajak mereka untuk belajar belanja di Yogya Dept. Store. Kami memberi mereka batas jumlah uang, dan mempersilahkan mereka berbelanja.

Setelah selesai berbelanja yang mereka ributkan adalah seberapa dekat jumlah belanjaan mereka dengan batas yang diberikan. Ada yang hanya berselisih beberapa ratus rupiah, ada yang selisihnya sampai tiga ribu rupiah. Satu hal yang menggelitik kami, para pembina, adalah sebuah pernyataan dari seorang anak “rugi yang aku mah selisihnya sampe tiga ribu, dia mah untung selisihnya cuma lima ratus” (karena kami tidak memberikan mereka kelebihan uangnya).

Kami saling pandang dan kemudian membahasnya, mengapa anak-anak itu tidak memikirkan keuntungan yang mereka peroleh secara cuma-cuma (Rp. 17.000) dan justru fokus pada selisih (Rp. 3.000) yang lebih besar dibanding orang lain. Sebaliknya, mereka yang selisihnya kecil pun senang bukan karena apa yang mereka dapat (Rp. 19.500) tapi justru karena selisih mereka (Rp.500) lebih kecil dari selisih orang lain.

Saya jadi teringat dengan potongan film singkat yang saya saksikan di GBI Kings menjelang ibadah. Berikut cuplikannya:

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=ru5unwKNQ48]

Dalam video itu diceritakan Yesus memberi Coca Cola 240 ml kepada seorang wanita yang kemudian menerimanya dengan sukacita. Sukacita nya dengan segera menguap dan hilang ketika ia melihat orang lain mendapatkan Coca Cola dengan ukuran 500 ml. Semakin lama kemudian sukacitanya makin hilang ketika ia melihat orang lain mendapat Coca Cola yang ukurannya lebih besar dari dirinya.

Terkadang kita fokus pada apa yang tidak kita dapatkan sehingga kita mengeluh. Akibatnya, kita butuh melihat apa yang orang lain tidak dapatkan untuk membuat kita bersyukur.

Saudara, rasa syukur tidak ditentukan dari apa yang orang lain terima. Rasa syukur adalah menerima apa saja yang Tuhan berikan dengan ikhlas, tanpa syarat!

Advertisements