Kasih Sayang Pembantu


Saya mendapat gambar di samping dari seorang teman. Mengatakan bahwa betapa dia sangat sedih melihat bagaimana pembantu lebih dianggap mampu memberi kasih sayang dibanding ibu oleh seorang anak kelas 1 SD.

Sayang sekali bagian kiri dari gambar itu tidak terlihat. Padahal saya ingin sekali tahu apakah guru yang bersangkutan menganggap jawaban itu salah atau benar. Kalau saya jadi gurunya, saya akan memanggil anak ini, tidak dengan perasaan kasihan, tapi dengan perasaan ingin tahu…

Saya sama sekali tidak kasihan melihat anak ini menyilang pilihan A (pembantu), mengapa? Menurut saya ini mutlak kesalahan si pembuat soal. Ini juga merupakan sebuah kesalahan paradigma yang umum di kalangan anak kelas 1 SD.

Baik mari kita bahas mengenai ‘kesalahan soal’ yang saya maksudkan.

Pertama, lihat saja gambar di samping soal itu, mungkin bagi si anak, gambar itu lebih terlihat seperti pembantunya daripada ibunya. Mungkin bagi si anak, ibunya terlalu cantik untuk digambarkan menggunakan pakaian mirip kebaya dan duduk dengan cara seperti seorang Mba.

Jika kita melihatnya dari sudut pandang itu, bukankah kita jadinya akan menemukan bahwa anak ini mengasihi ibunya lebih dari pembantunya??

Saya pernah mengajar anak kelas 1 SD, tidak lama… selama 3 bulan saja. Namun hal ini cukup bagi saya untuk mengenal tipikal anak kelas 1 SD. Saya setiap hari bersama mereka, saat istirahat saya memutuskan untuk duduk di luar bersama mereka (mencari anak-anak yang tidak terperhatikan teman-temannya), saat tidur siang, saya bersama dengan anak yang sulit tidur siang. Karena saat itu posisi saya bukan sebagai guru wali kelas, maka saya dapat memposisikan diri saya sebagai teman mereka, dan saya dapat mengenal mereka lebih dekat.

Dengan menganggap bahwa soal itu diberikan kepada anak dari kalangan atas yang sanggup memiliki pembantu atau baby sitter, mari kita bahas tipikal anak kelas 1 SD ini… Anak kelas 1 SD menganggap bahwa ibunya adalah seorang ‘selebritis cantik’ yang diagungkannya. Tak peduli apakah ibunya bekerja atau di rumah, seorang anak kelas 1 SD lebih memilih menceritakan ibunya daripada pembantunya.

“Mama saya cantik” adalah jawaban umum yang sering kita dengar jika Anda bertanya “seperti apa mamamu” pada anak kelas 1 SD. Walau “dibawain sama Mba” memang merupakan beberapa jawaban kalau kita tanya “siapa yang buatkan bekal kamu?”.

Seorang anak kelas 1 SD yang sejak TK menyanyikan lagu “kasih ibu sepanjang masa” tidak mungkin salah membedakan ibu dengan pembantu jika tidak ada gambar jelek yang ada di samping soal itu. Anak ini hanya tidak tega menyamakan ibunya yang cantik dengan gambar yang ada di soal itu.

Seorang anak SD pun tidak sinis sehingga  ingin ‘membalas dendam’ pada ibunya dengan memilih ‘pembantu’ dibanding ‘ibu’ untuk jawaban soal itu. Anak kelas 1 SD memiliki pemikiran sederhana…  Ayahnya mengasihi dia, Ibunya mengasihi dia, pembantunya pun mengasihi dia. Dia hanya tinggal memilih, gambar itu lebih mirip ayahnya, ibunya atau pembantunya… hehehe…

Kesalahan kedua dari soal itu menurut saya adalah ‘MENGAPA MENYEJAJARKAN AYAH DAN IBU dengan PEMBANTU?’. Menurut saya ini adalah pemikiran picik dari guru pembuat soal. Mengapa? Ingin menunjukkan pada orangtua yang terlalu sibuk bahwa anaknya memilih pembantu dibanding mereka? Bukan begitu caranya!! Apakah Anda sedang menggunakan siswa Anda untuk membenarkan teori Anda mengenai ‘akibat orangtua sibuk di tempat kerja?’. Maaf, bagi saya, Anda adalah guru yang sangat jahat…

Apakah pantas soal untuk anak kelas 1 SD dibuat seperti itu, membingungkan seorang anak karena adanya perbandingan orangtua dengan pembantu? Mengapa tidak kakek, nenek, paman, kakak? Masih banyak pilihan lain bukan?

Saya melihat masalah ini dari sudut pandang berbeda, jelas!!

Seseorang pernah menceritakan pada saya mengenai seorang remaja SMP yang mengatakan bahwa ia lebih merasakan kasih sayang pembantu dibanding orangtuanya.  Jika soal seperti gambar di atas diberikan pada anak SMP, saya percaya bahwa dia mungkin menjawab pilihan A. Namun saya berani bertaruh, kebanyakan yang menjawab seperti itu bukan karena dia lebih merasakan kasih sayang pembantu, tapi karena dia ingin membalas kedua orangtuanya yang terlalu sibuk.

Gejala seperti ini harus dikritisi dari banyak pihak. Seorang anak perlu tahu mengapa orangtuanya sibuk, sementara orangtua perlu tahu bahwa anak-anaknya membutuhkan mereka. Namun sekali lagi, tugas seorang pendidik bukanlah menjadi ‘kompor’ yang memanas-manasi hati anak maupun remaja. Tugas seorang pendidik seharusnya menjadi perantara antara orangtua dan anak (jika ada masalah).

Jadi, jika suatu saat saya mendengar ada remaja yang mengatakan “saya lebih merasakan kasih sayang pembantu dibanding orangtua”, saya akan menoyor kepalanya dan berkata, “Apakah kamu tau apa yang kamu baru saja katakan? Apa kamu sadar atau sekedar butuh belas kasihan? Apa kamu sedang bermain menjadi drama queen?”

Ada perbedaan antara kalimat “orangtua saya terlalu sibuk hingga tidak ada waktu untuk saya” dengan “pembantu saya lebih sayang saya daripada orangtua saya” NON SENSE! Jika kalian, para remaja mengatakan ‘orangtua saya terlalu sibuk’, kita bisa mencari jalan keluarnya, namun jika kalian berkata ‘pembantu saya lebih sayang saya daripada orangtua saya’, kalian hanya sedang menipu diri atau hendak menyakiti hati orangtua kalian saja.

Adakah kasih sayang pembantu? Tentu saja ada, tapi TIDAK DAPAT DIBANDINGKAN dengan kasih sayang orangtua! Tidak akan pernah bisa!

Advertisements