EXTRAORDINARY


PERHATIAN! Tulisan kali ini agak rumit… Saya sendiri bingung bagaimana mengungkapkan isi kepala saya. Tidak perlu dibaca jika Anda mengkhawatirkan kesehatan pikiran Anda!! Jika Anda masih mau membacanya, well, sudah saya peringatkan 🙂

Saya pernah menulis tentang “hutang kepada pencipta“, sebuah cerpen sederhana mengenai tujuan hidup. Banyak yang berpikir itu cerpen mengenai diri saya. Well, saya tidak pernah berjumpa dengan seorang pengemis pandai, namun apa yang Jo dapatkan di kisah itu kurang lebih merupakan suatu pemikiran yang saya dapatkan sebelum saya menuliskan cerpen itu. Saya akan jelaskan melalui tulisan di bawah ini (saya anggap Anda tidak berkeberatan membuka link cerpen “Hutang kepada Pencipta” di atas sebelum melanjutkan membaca).

Saya membagi manusia ke dalam tiga kategori jika dilihat dari pencapaian hidup. Kategori pertama adalah mereka yang (seolah) tidak memiliki pilihan dalam hidup. Mereka penuh dengan keterbatasan sehingga sulit sekali mengubah apa yang mereka namakan “nasib”. Keterbatasan secara finansial, tempat tinggal dan kondisi orangtua seringkali dijadikan alasan bagi mereka untuk tidak berbuat apa-apa. Pertanyaan yang sering saya ajukan adalah, “apakah sebenarnya mereka punya pilihan? Apakah sebenarnya mereka dapat mengubah nasib mereka?”

Kategori kedua adalah mereka yang memilih untuk menjadi biasa-biasa saja. Mereka menjalani hidup dengan biasa, “mengikuti aliran air” merupakan moto mereka dan biasanya mereka cukup puas dengan sekedar “bertahan hidup” atau “memiliki banyak uang untuk diri mereka sendiri”. Dengan kata lain, kategori kedua adalah mereka yang hidup dengan berpuas diri, menganggap bahwa hidup adalah untuk memuaskan diri sendiri, menganggap bahwa alam semesta berputar mengelilingi dirinya, menganggap bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk orang lain. Ini merupakan kelompok paling banyak di dunia.

Saya tidak mengatakan bahwa kategori kedua ini buruk. Beberapa orang cukup bahagia dengan hidupnya, dan mungkin mereka memang terpanggil untuk menghidupi kehidupannya begitu saja. Sesuai teori Maslow… tiga kebutuhan mendasar manusia adalah psikologis, rasa aman, dan sosial. Beberapa orang merasa hidupnya cukup jika tiga kebutuhan dasar mereka terpenuhi.

Kategori ketiga adalah mereka yang (menurut teori Maslow) berusaha mencapai kebutuhan tertinggi dalam “menjadi manusia”, yaitu aktualisasi diri, mencapai potensi tertinggi dalam hidupnya.

Dalam cerpen ‘hutang pada pencipta’, Jo diberitahu bahwa setiap orang memiliki potensi yang diberikan Tuhan dalam hidupnya. Beberapa orang tidak menyadari potensinya sehingga (sedihnya) tujuan hidupnya tidak tercapai. Jo belajar bahwa setiap orang hidup di dunia dengan suatu tugas dari Pencipta di mana untuk tugas tersebut Pencipta memberikan perlengkapan yang dinamakan POTENSI.

Manusia dalam kategori ketiga tidak puas menjadi ‘biasa-biasa saja’, mereka berusaha melakukan sesuatu, memaksimalkan kemampuannya, memenuhi panggilan Tuhan dalam hidupnya dan mencapai potensi tertinggi dalam hidupnya. Walau pada akhirnya tidak ada kata “tertinggi” karena suatu saat hal terbaik digantikan dengan hal terbaik lainnya di masa yang akan datang.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kategori ketiga ini menemukan kebahagiaannya? Karena seorang yang berusaha melakukan hal yang luar biasa untuk dirinya sendiri pada akhirnya tidak akan pernah merasa puas. “Ter” yang pertama kemudian akan digantikan oleh “ter” berikutnya. Apa yang kita pikir baik hari ini ternyata tidak begitu baik karena besok kita mungkin menghasilkan apa yang lebih baik.

Jo menemukan jawabannya, yaitu ketika kita melakukannya untuk orang lain yang membutuhkannya! Beethoven tuli, dan dia tetap dapat menghasilkan karya besar. Mengapa? Karena dia tidak menulis lagu untuk dirinya sendiri! Hellen Keller buta, tuli, bisu, dan dia mencapai potensi maksimal dalam hidupnya… Anne Sulivan seorang guru biasa yang berubah menjadi pengajar luar biasa ketika ia melakukannya untuk siswinya yang bisu, tuli dan buta.

Pertanyaan berikutnya, apakah melakukan sesuatu untuk orang lain semata-mata dapat membuat kita bahagia? Sorry to say… TIDAK! Walau Tuhan memerintahkan kita untuk melayani seorang akan yang lain, namun manusia tidak akan suka dengan istilah “melayani orang lain”. Ya…manusia pada dasarnya ingin dilayani, ingin menjadi tuan, ingin di atas, ingin diistimewakan.

“Melayani orang lain” terus menerus dalam waktu yang lama akan menimbulkan suatu perasaan lelah, apalagi jika orang yang kita layani tidak bereaksi sebagaimana yang kita harapkan. Lalu bagaimana? Bagaimana caranya menjadi orang luar biasa yang bahagia?

Jawabannya seperti ini:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Aku = Tuhan) – Matius 25:39

Ya!! Melayani diri sendiri pada akhirnya frustrasi karena manusia tidak pernah puas. Melayani orang lain juga bisa berakhir kelelahan dan frustrasi karena reaksi mereka tidak seperti yang diharapkan. Namun ketika kita melayani orang lain untuk Tuhan, kita sedang mencapai puncak aktualisasi diri kita… (bahasanya mulai seperti Vicky?? ngga kan?)

Ketika kita berkarya untuk orang lain dan melakukannya dengan kesadaran bahwa itulah yang Tuhan ingin kita lakukan, maka kita sedang berusaha mencapai hal LUAR BIASA dalam hidup.

Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Melakukan sesuatu untuk Tuhan tidak sesederhana kedengarannya. Melakukan sesuatu untuk Tuhan berarti kita mengeluarkan usaha terbaik yang bisa kita lakukan. Jika Anda penari, Anda sedang mengeluarkan koreo terbaik Anda. Jika Anda guru, Anda sedang mengeluarkan teknik mengajar terbaik Anda (yang diperlengkapi dengan banyak belajar). Jika Anda seorang karyawan, Anda sedang bekerja dengan usaha terbaik Anda. Jika Anda seorang penulis, Anda berusaha berkomunikasi dan berbahasa dengan gaya terbaik yang bisa Anda lakukan.

Itulah yang membedakan kategori kedua dan ketiga… Mungkin kegiatannya sama, tapi hasilnya bisa jadi berbeda! Karena kategori kedua melakukannya untuk diri sendiri, dan kategori ketiga melakukannya untuk Tuhan. Kategori kedua menjadi orang biasa-biasa saja, kategori ketiga menjadi orang LUAR BIASA!

Advertisements