Sebuah curhat melankolis dari seorang Greissia….

Pernahkah Anda merasa begitu lelah setelah sebuah kegirangan besar? Perasaan letih yang membuat Anda seolah tak ingin kembali kepada rutinitas Anda? Atau perasaan takut bahwa ini adalah kegirangan terakhir yang dapat Anda buat (atau rasakan). Entah bagaimana saya menggambarkannya, tapi itulah yang sedang saya rasakan.

Setelah kelelahan bertubi-tubi (baik, istilah yang saya gunakan memang agak berlebihan), mulai dari tiga minggu berturut-turut persiapan Training dan Workshop Guru SM Shaping the Arrow, perselisihan-perselisihan kecil yang menguras tenaga dengan tim kerja saya, perjalanan ke ujung-ujung kota Bandung yang menyita banyak energi (dan menimbulkan jerawat-jerawat besar di wajah saya), pekerjaan administrasi yang tidak saya sukai, dan akhirnya kegembiraan serta sukacita luar biasa di hari besar itu Sabtu, 14 September yang lalu, saya merasa sangat lelah….

Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Elia setelah kemenangan besar atas nabi-nabi baal itu. Perasaan frustrasi dan lelah setelah semua kegirangan itu berlalu… hingga ia berkata, “ambil saja nyawaku…”. Saya rasa sedikit banyak saya memahami jalan pikiran Elia “Bukankah jika aku mati sekarang, aku mengakhirinya dengan baik. Bukankah jika aku melanjutkan perjalanan kehidupan ini ada kemungkinan aku tidak mengakhirinya segemilang pencapaianku saat ini?”

Sebuah pemikiran sombong yang logis, bukan?

Usia saya yang bertambah menambah juga pertimbangan-pertimbangan saya sebelum mengambil keputusan dan mengurangi spontanitas saya dalam bereaksi…menimbulkan pertanyaan, “mungkinkah ini acara terakhir di mana saya terlibat di dalamnya? Apakah saya masih akan sanggup meneruskan pelayanan ini”. Di satu pihak saya sangat mengasihi anak-anak ini, sehingga pernah berpikir akan mengabdikan hidup saya untuk mereka, tapi di sisi lain, saya ingin hidup normal seperti wanita lain (baik, sekarang sisi melankolis saya mengambil alih).

Saya sering merasa bahwa saya tidak sanggup menjadi seperti hamba-hamba Tuhan hebat itu, yang menghabiskan waktunya di daerah terpencil untuk anak-anak yang membutuhkan. Saya rasa saya tidak dapat menjadi seperti mereka… Saya merasa mimpi yang diberikan Tuhan terlalu besar untuk dapat saya wujudkan. Baik, anak-anak ini seperti ikan yang keluar dari jaring yang robek… Lalu saya bisa apa?

Dilema antara perasaan “pernah dipanggil” dan kebutuhan untuk ‘hidup’ dan ‘menghidupkan’ pelayanan ini membuat saya bingung. Di satu sisi, perasaan ‘pernah dipanggil’ membuat saya ingin terjun langsung seperti dulu, melayani anak-anak ini satu persatu. Tapi saya pun sadar kapasitas kami tidak memungkinkan lagi untuk itu. Maksud saya, jika saya terjun langsung, bukankah saya hanya akan bisa melayani belasan atau puluhan anak? Tapi jika saya menyusun strategi, mungkin ada ratusan anak terlayani. Tapi menyusun dan menjalankan strategi seperti ini bukan urusan mudah.

Banyak orang bilang bahwa otak saya terlalu rumit. Ya…mereka benar. Tapi yang mereka tidak ketahui adalah satu-satunya korban kerumitan otak saya adalah diri saya sendiri. Saya yang seringkali dibuat pusing oleh kerumitan otak saya. Tapi siapa yang harus saya salahkan untuk ini? Saya sendiri tentunya!

Kerumitan otak saya hari ini membuat saya merasa bimbang. Dapatkah saya melanjutkan pelayanan ini? Sampai kapan? Haruskah saya terus mengingat janji saya pada Tuhan untuk menyerahkan hidup saya bagi anak-anak Kristen yang tidak terperhatikan di SD Negeri, menyelamatkan mereka dari jaring yang berlubang…. atau melupakannya begitu saja…

Di tengah-tengah kebimbangan ini, saya merasa Tuhan mengingatkan saya pada apa yang dikatakan Paulus. PIlihan saya ada dua, terus hidup atau mati saja. Keduanya baik, karena mati pun berarti bertemu Kristus. Tapi masalahnya, Tuhan masih memberi saya hidup, yang artinya saya harus menghidupinya dengan BEKERJA MENGHASILKAN BUAH.

Apa yang dimaksud Paulus dengan bekerja menghasilkan buah? “Aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman”

BEKERJA MENGHASILKAN BUAH artinya bekerja menghasilkan orang-orang yang maju dan berkembang dalam iman mereka.

Saya pernah “meninggalkan medan perang” di masa-masa awal pelayanan saya. Setelahnya saya baru tahu bahwa seorang anak kemudian terhilang… Lari dari Kristus.

Saya pernah “meninggalkan medan perang” lebih dari sekali…dan saya tidak tahu dampaknya ketika saya meninggalkannya untuk kali yang kedua dan ketiga.

Well, setelah semua kegembiraan ini berlalu… Mungkin memang waktunya bagi saya untuk berdiam diri sebentar… mempersilahkan Tuhan meneguhkan ulang panggilannya dalam hidup saya. Apakah ini saatnya saya berhenti, atau saya harus berjalan terus. Saya tidak mau lagi meninggalkan medan perang… kecuali Tuhan memutuskan waktunya saya untuk berhenti.  Selama Dia ingin saya terus maju, maka saya akan maju.

KARENA JIKA DIA MASIH MEMBERI AKU HIDUP… ITU ARTINYA AKU HARUS HIDUP DAN MENGHASILKAN BUAH

Advertisements