Pahlawan yang Lelah


Pahlawan itu lelah, menyusun skenario, berakting untuk yang terakhir kalinya, dan bersembunyi dalam tempat yang nyaman… Itu adalah apa yang dirasakan Metro man, pahlawan super milik film yang sangat saya sukai MEGAMIND.

Jika Anda belum pernah menonton film jenius ini, saya sarankan Anda menontonnya, namun jika Anda terlalu sibuk menontonnya namun punya cukup waktu membaca artikel singkat saya ini, saya akan menceritakannya khusus untuk Anda (tentunya ditambah dengan sedikit bumbu pelajaran di sana sini….tidak apa yaa).

Megamind dan Metroman berasal dari tempat yang sama, di luar planet bumi. Mereka dikirim ke bumi oleh orangtuanya karena ada masalah di planet mereka. Ternyata nasib tidaklah sama untuk mereka berdua. Kapal kecil Metroman terdampar di bawah pohon natal, memberinya orangtua yang sedang mendambakan anak, melimpahinya dengan kasih sayang luar biasa, mainan, dan rumah yang mewah. Sejak kecil Metroman memiliki apa yang diinginkan oleh setiap orang, ketampanan dan kekuatan super. Dia memiliki rambut indah, wajah tampan, bisa terbang, bergerak cepat luar biasa, gabungan beberapa pahlawan Marvel menjadi satu.

Sementara kapal Megamind nyasar ke penjara, suatu tempat yang dipikirnya adalah sebuah tempat tinggal (home). Diajar oleh beberapa narapidana sekaligus mengenai apa yang baik (kejahatan) dan apa yang buruk (kebaikan), menjadikan megamind besar tanpa konsep kasih sama sekali. Berbeda dengan Metroman yang memiliki ketampanan dan kekuatan, Megamind hanya memiliki satu kelebihan, yaitu otak yang luar biasa pintar. Seperti yang Anda tahu, otak yang pintar diisi dengan persepsi mengenai kejahatan sama dengan TIDAK BAIK!

Ironis bukan? Megamind menghabiskan hidupnya di dalam penjara untuk kejahatan yang justru ia temukan karena ia terjebak di dalamnya. Masalahnya, ia tidak merasa dirinya di penjara, karena sejak lahir ia pikir kalau penjara adalah tempat tinggal dan sel adalah kamarnya.

Berapa banyak dari kita mengalami nasib seperti Megamind? Kita lahir dalam ‘penjara’, mulai menganggap bahwa ‘penjara’ itu adalah tempat tinggal kita dan mulai terbiasa dengan segala hal buruk yang ada di dalamnya. Kita berpikir kalau kita tidak memiliki banyak pilihan karena nasib yang membawa kita ke dalamnya…

Tidak ada? Anda salah!! Kita semua lahir dalam ‘penjara’. Yups!! Kenyataannya kita lahir sebagai mahluk berdosa yang memiliki bawaan ‘suka pada apa yang jahat’, kita egois, kita menghalalkan segala cara untuk keuntungan dan keselamatan kita, kita suka berbohong… Saudara, kenyataannya nasib memang membawa kita ke dalam kehidupan yang seperti penjara ini! Nasib yang dibawa turun temurun oleh nenek moyang kita memang menjadikan kita ‘narapidana’ bahkan sejak kita kecil.

Apa yang terjadi dengan Megamind kemudian? Kepintarannya membuat negara berbelas kasihan dan mengirimnya ke sekolah. Namun sekolah pun tidak membantu banyak untuk kemajuan psikologis Megamind. Di sekolah, ia mengalami diskriminasi karena wajah birunya yang aneh dan kepala besarnya. Sementara Calon Metroman kita disukai semua orang karena ketampanannya dan kekuatan supernya.

Apa? Anda pernah mengalaminya? Di sekolah Anda dianggap pecundang, di tempat kerja Anda dianggap ‘pilihan terakhir’. Guru tak pernah sekalipun melihat pada Anda dengan pandangan bangga, bahkan mungkin Anda tak pernah diperhitungkan sama sekali.

Yah, Megamind mewakili kebanyakan dari kita bukan? namun akhir kisah ini luar biasa…. ah, lanjutkan baca dulu saja ya…

Megamind berhasil meloloskan diri dari penjara dan memulai perangnya melawan kebaikan. Ia sebal dengan Metroman dan menjadikannya musuh dan sasaran kejahilannya. Seperti di kisah-kisah lain mengenai pahlawan super, kota Metro dengan segera menjadikan Metroman sebagai pahlawan dan Megamind sebagai penjahat paling tidak disukai.

Suatu kali, Megamind berhasil menculik Roxanne, seorang reporter cantik yang digosipkan memiliki affair dengan Metroman. Roxanne, seorang wanita pemberani akhirnya menjadi umpan yang cukup jitu bagi Metroman. Metroman segera menghampiri persembunyian Megamind untuk membebaskan Roxanne.

Tapi justru di sinilah titik balik dari semua cerita ini berasal. Menjelang akhir cerita penonton diberitahu bahwa ternyata Sang Pahlawan memutuskan untuk terlalu lelah berperang melawan kejahatan, membuat skenario bahwa dia menjadi lemah karena tembaga, memalsukan kematiannya dan akhirnya menyerahkan kota Metro ke tangan Megamind yang usil.

Dapatkah Anda bayangkan, seorang pahlawan melepaskan tanggungjawabnya dan menyerahkan kota begitu saja ke tangan seorang narapidana jahat?

Saya pernah melakukan ini, Saudara. Ketika saya merasa terlalu lelah dengan apa yang saya lakukan. Saya memiliki 15 anak Kristen SD Negeri yang harus saya bina, saya mencari tempat untuk digunakan kesana ke mari dan tidak ada yang dapat meminjamkan tempat pada saya. Saya pun akhirnya menyerah, “maaf anak-anak, sudah selesai!” dan kemudian mundur dari peperangan. 

Apa Anda pernah menghadapi ini? Terlalu lelah dengan apa yang sedang Anda usahakan, dan kemudian memutuskan untuk mundur…?

Tapi di pihak lain keputusan Metroman merupakan suatu keputusan yang baik untuk akhir cerita yang dahsyat. Megamind mengambil alih kota. Hal yang lucu menurut saya adalah justru hal ini mendatangkan kebaikan bagi Megamind.
Suat saat Megamind yang merasa “apa artinya menjadi penjahat jika tidak ada pahlawan yang mengejarnya” mendapatkan ide untuk menciptakan pahlawan baru, ketika ia sedang menyamar menjadi Bernard dan mengobrol bersama Roxanne. Dengan menggunakan DNA dari Metroman ia membuat suatu ramuan yang akan mengubah DNA siapa saja menjadi sama seperi Metroman, menjadikan orang tersebut pahlawan baik hati dengan kekuatan super seperti Metroman.

Namun ada masalah, cairan DNA itu tidak sengaja mengenai Hill, kameramen Roxanne yang sudah lama tergila-gila pada Roxanne. Hill adalah “orang tidak populer” lain selain Megamind. Seorang yang cintanya tak terbalas dan tidak memiliki hati yang cukup besar.

Banyak orang berpikir bahwa pahlawan bisa diciptakan dengan cara instan. FIlm ini memberitahu kita sebaliknya. Megamind menyamar menjadi seorang Bapak Angkasa, melatih Hill bagaimana terbang, bagaimana menghancurkan logam dengan sinar infra merah dari matanya, bagaimana menggunakan kekuatannya untuk hal-hal lain, tapi lupa memberikan pelajaran mengenai karakter seorang pahlawan.

Ternyata Hill bersedia menjadi pahlawan bernama TIGHTEN karena ia berpikir bisa mendapat cinta Roxanne. Sebuah motivasi yang salah membawanya menjadi pahlawan yang parah, atau bahkan dia tidak pernah menjadi pahlawan sama sekali.

Ketika menemukan bahwa Roxanne tidak tertarik sama sekali padanya, Hill memutuskan menggunakan kekuatannya untuk memperkaya diri. Ia membobol bank dan mencuri banyak uang…. meninggalkan Megamind dalam keterkejutan yang luar biasa.

Ini titik balik Megamind… Sisi baik dari dirinya, ditambah cintanya pada Roxanne membangkitkan Megamind yang baru. Dia memutuskan untuk mencari Metroman (setelah dia menemukan bahwa ternyata Tighten sama sekali tidak menjadi lemah karena tembaga) dan menemukan bahwa Sang Pahlawan sudah lelah menjadi pahlawan.

Dalam kebingungannya, ia memutuskan untuk mengambil alih tanggungjawab menjadi pahlawan kota Metro…

Bukan tugas yang ringan, apalagi dia sudah terlanjur memiliki citra yang buruk di mata masyarakat kota Metro. Tapi Megamind tidak menyerah. Dengan kepintarannya (bukan kekuatannya) ia berhasil menyelamatkan kota Metro dari “manusia super” yang diciptakan secara instan.

Saudara, pikirkan ini… mana lebih baik? Seorang Megamind yang berubah dari penjahat menjadi pahlawan, atau seorang Metroman yang berubah dari Pahlawan menjadi nothing?

Mana lebih baik? Seorang yang bertobat, atau seorang yang menyerah?

Pilihan ada di tangan Anda. Tidak pernah ada kata terlambat untuk sebuah titik balik. Tuhan mengasihi Anda. Anda tidak diciptakan menjadi pecundang! Anda diciptakan menjadi pahlawan. Seorang pahlawan adalah dia yang bisa membantu orang lain mengatasi masalah. Seorang pahlawan adalah dia yang tahu mana yang baik dan buruk dan berusaha memperjuangkan kebaikan.

Saudara, jika Anda seorang pahlawan, pikirkan ini… Anda memiliki pilihan untuk lelah dan menyerah, atau terus maju hingga garis akhir. Siapapun yang Tuhan percayakan kepada Anda, apakah satu kota, satu komunitas, atau satu orang, perjuangkan mereka!! Jangan menyerah! Anda adalah pahlawannya… lakukan misi Anda sampai selesai! Mungkin tidak ada Megamind yang mengambil alih tugas pahlawan Anda di tempat Anda. Mungkin hanya Anda harapan mereka. Jangan pernah menyerah!

Jadi, mana lebih baik?

Tentu saja penjahat yang menjadi pahlawan, dan pahlawan yang tidak pernah menyerah!!

Advertisements