Katak dalam Istana Tempurung


Kemarin saya dan teman saya (kembali) mendiskusikan mengenai sebuah topik menarik yang tidak akan saya tuliskan di sini (topiknya) karena masalah etika. Hasil dari pembahasan itu melahirkan sebuah kalimat seperti ini, “organisasi itu pada akhirnya membuat anggotanya menjadi seperti katak dalam tempurung. Hanya saja tempurungnya besar.” Saya tertawa dan mengatakan, “ya, mereka membentuk sebuah istana dari tempurung dan menyimpan anggotanya di dalamnya.”

Kemudian saya jadi teringat pada sebuah film yang (mati-matian) dianjurkan oleh adik saya, yaitu “Truman Show”

Truman Show bercerita tentang sebuah eksploitasi besar-besaran pada seorang manusia bernama Truman. Sejak ia lahir sebuah tayangan televisi meliputnya, tidak pernah sedetik pun melewatkan kehidupannya. Semua orang menyukai tayangan ini karena menunjukkan sebuah respon yang natural, tidak palsu dan tidak dibuat-buat dari tokoh Truman ini.

Sementara tokoh lain di dalamnya hanyalah merupakan aktor, aktris dan figuran, Truman yang tidak mengetahui dirinya menjadi aktor yang disorot setiap detik oleh Media menjalani kehidupannya dengan biasa saja, menganggap hidupnya merupakan sebuah kehidupan indah yang diatur oleh “pencipta”, sang produser film yang tidak dia ketahui keberadaannya.

Truman memiliki ibu palsu, ayah palsu, istri palsu, lingkungan palsu, gelar palsu, dan teman-teman palsu. Semuanya hanya untuk kepentingan hiburan semata-mata.

Suatu saat Truman mulai menemukan banyak keanehan dalam hidupnya, seperti orang yang lalu lalang secara teratur (terlalu teratur) di depan rumahnya. Istrinya yang sekali-sekali menyebutkan iklan  produk (karena tidak ada iklan sama sekali di film itu), dan banyak hal lain yang menarik perhatiannya.

Dia mulai mengetahui bahwa hidupnya hanya rekayasa ketika suatu saat dia bertemu dengan seorang gadis yang menarik perhatiannya. Gadis ini sepertinya menyukainya juga namun tidak dapat bersamanya karena di skenario tidak seperti itu. Suatu saat mereka berdua membuat janji kencan. Namun bagaimana mungkin mereka dapat ‘lari’ dari mata sutradara?

Gadis itu memberitahu Truman bahwa hidupnya adalah rekayasa yang akhirnya membuat Truman berani memutuskan untuk keluar dari ‘tempurung’nya. Sebuah tempurung yang indah luar biasa, kehidupan yang tanpa masalah, kehidupan yang teratur. Akhirnya setelah melewati badai buatan, Truman menemukan ‘ujung dunia’nya. Ketika sang sutradara melarangnya keluar, Truman menarik nafas, membuat keputusan berani, membuka pintu dan keluar dari tempurungnya.

Apakah saat ini Anda seperti berada dalam sebuah istana tempurung, Saudara? Anda merasa bahwa dunia begitu indah, hidup Anda begitu mulus, organisasi tempat Anda berada yang terbaik, dan Anda tidak mengetahui seperti apa keadaan di luar sana.

Apakah saat ini Anda seperti berada dalam sebuah istana tempurung, Saudara? Anda merasa bahwa hidup Anda tidak ada masalah, tidak mengetahui bahwa di luar sana banyak orang yang membutuhkan Anda?

Apakah saat ini Anda seperti berada dalam sebuah istana tempurung, Saudara? Anda tidak mengetahui bahwa di luar sana ada istana yang jauh lebih besar yang menanti Anda dan bahwa Anda bisa jadi bagian dari istana itu?

Apakah saat ini Anda seperti berada dalam sebuah istana tempurung Saudara? merasa begitu lelah dengan kehidupan yang begitu-begitu saja, tidak ada variasi dan tidak ada tantangan sama sekali?

Jika jawaban Anda ya untuk satu atau semua pertanyaan di atas, mungkin sudah saatnya Anda mengambil keputusan seperti Truman. Carilah pintu keluarnya!. Tunggu, saya tidak menganjurkan Anda keluar dari organisasi, keluarga, sekolah, gereja atau apapun tempat di mana Anda sekarang tergabung di dalamnya.

Tempurung terbesar yang menaungi Anda sebenarnya adalah pikiran Anda sendiri. Organisasi hanya mengkondisikan istana tempurung di pikiran Anda. Andalah yang mengijinkan pintu pikiran Anda tertutup dari keadaan di luar tempurung.

Apakah saat ini Anda seperti berada dalam istana tempurung, Saudara? Ambillah keputusan seperti Truman. Mungkin Anda akan menghadapi badai besar. Namun Anda akan sampai ke pintu “exit” itu. Ambil keputusan untuk membuka mata terhadap dunia luar, ambil keputusan untuk bertoleransi, ambil keputusan untuk berbelas kasihan, ambil keputusan untuk belajar hal-hal baru, ambil keputusan untuk tidak malu bertanya, ambil keputusan untuk melangkah keluar dari tempurung pikiran Anda.

 

Advertisements