Holiday day 4: Ketika oleh-oleh tidak pernah cukup


Liburan kali ini benar-benar singkat. Kami sudah harus kembali ke Indonesia di hari keempat ini. Hari ini benar-benar hari yang panjang dan diisi dengan menunggu…menunggu…menunggu.

Dimulai dari menunggu jemputan dari mobil yang akan membawa kami kembali ke Phuket International Airport pada pukul 10.00. Kami diantar ke tempat membeli oleh-oleh “lagi” yang seolah tidak habis-habisnya. Di tempat ini, Yovi kembali berburu oleh-oleh yang menurutnya masih saja kurang. Saya sendiri hanya membeli abon babi untuk diri sendiri (hahaha….)

Kami tiba di bandara pada pukul setengah 12 untuk kemudian mengurus urusan tetek bengek imigrasi yang melelahkan dan menunggu lagi hingga keberangkatan pesawat pukul 13.35 waktu setempat. Kami tiba di Malaysia sekitar pukul 16.00 waktu setempat dan kembali mengikuti proses imigrasi.

Saya sempat berpikir, imigrasi merupakan suatu hal simpel yang membosankan namun sangat perlu sekali untuk keamanan sebuah negara. Bayangkan jika orang bisa masuk dan keluar begitu saja dari sebuah negara, membawa barang apapun dan dengan siapapun. Walau setiap negara memiliki aturannya sendiri mengenai imigrasi, namun intinya adalah KEAMANAN NEGARA. Malaysia tidak mengharuskan lagi para turis ASEAN untuk mengisi lembar imigrasi. Mungkin Malaysia merasa sudah cukup ketat dalam menjaga keamanan negaranya. Sementara Thailand mengharuskan setiap orang mengisi lembar imigrasi yang terdiri dari dua lembar, masuk dan keluar.

Bagaimana dengan Indonesia? Satu lembar untuk satu keluarga, dan lucunya lembaran tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan konyol seperti “apa Anda membawa hewan peliharaan” dan “apa Anda membawa narkoba, senjata, dan barang berbahaya lainnya” dan “apakah Anda membawa uang tunai lebih besar dari…”. Sebuah pertanyaan yang entah bagaimana menurut saya sama sekali tidak diperlukan. Bukankah setiap orang yang membawa narkoba atau senjata api atau barang berbahaya lainnya tidak akan serta merta mengaku dengan mencentang tanda “yes” pada kolom jawaban pertanyaan tersebut? Sementara keamanan bandara terlihat asal-asalan dan tidak sebaik di Malaysia. Ah, untuk ini kita pantas malu.

Di Malaysia kami menunggu hingga pk. 23.05, ya…penantian yang benar-benar panjang. Saya mengisinya dengan chatting dan membaca buku hingga akhirnya waktu menujukkan pk. 22.50 dan kami diperkenankan masuk ke pesawat yang membawa kami ke Indonesia dan tiba pk. 12.05 Waktu Indonesia Barat.

Hal yang luar biasa menurut saya mengenai bandara (selain di Indonesia, apalagi Bandung) adalah…mereka adalah titik terakhir di mana turis yang sembrono akan membeli oleh-oleh. Turis sembrono yang saya maksud adalah turis yang tidak pernah puas membeli oleh-oleh, atau turis yang menunggu hingga saat-saat terakhir untuk membeli oleh-oleh. Bagaimana tidak, souvenir yang dijual di Bandara memiliki harga fantastis yang hanya akan dibeli oleh mereka yang kepepet atau mereka yang ingin membuang uang asingnya.

Begitulah perjalanan short holiday keluarga kami… Sekali lagi saya mau mengingatkan di akhir kisah liburan saya. Sebagai Warga Negara Indonesia kita mungkin tidak dapat melakukan cukup banyak untuk membawa nama baik Indonesia di mata dunia. Namun ada hal kecil yang dapat Anda lakukan ketika Anda berlibur, yang dapat meningkatkan martabat Indonesia di mata dunia. Bersikaplah sebagai manusia yang beradab dan tahu aturan. Buanglah sampah pada tempatnya, jangan menyeberang sembarangan, tersenyumlah, tunjukkan sopan santun di meja makan, dan banyak hal lain yang bisa membuat orang lain melihat bangsa kita sebagai bangsa yang ramah dan beradab.

 

 

Advertisements