Sebuah diskusi menarik terjadi akhir-akhir ini antara saya dan adik saya dalam perjalanan menuju Phi Phi Don liburan kemarin. Kami berbicara mengenai batu-batu. Sebagai kelanjutan dari pembicaraan tersebut, saya ingin mengajak Anda sekalian pembaca yang saya kasihi untuk ikut serta dalam diskusi kami.

Dalam Alkitab (Lukas 19:40) Tuhan Yesus menuliskan:

Jawab-Nya: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak (Lukas 19:40)

Mari saya ajak Anda untuk memahami mengapa Yesus mengucapkan kalimat di atas. Pada saat itu Yesus meminta murid-muridNya untuk membawa keledai kepada-Nya. Ia akan menaiki keledai itu menuju Yerusalem. Saat Yesus akan menaiki keledai, orang-orang itu menghamparkan pakaiannya dan membantu Yesus menaiki keledai itu. Setelah Yesus menaiki keledai itu, semua orang menghamparkan pakaiannya di jalan. Anda tahu? Mereka menghamparkan pakaian untuk diinjak keledai yang di atasnya ada Yesus.

Dalam keadaan tak berpakaian lengkap orang-orang itu kemudian berkata “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang Maha Tinggi”

Orang Farisi melihat hal ini sebagai semacam “penghinaan terhadap agama”. ‘Raja dalam Nama Tuhan’ adalah kalimat yang berat. Murid-murid Yesus mengklaim bahwa Yesus adalah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan dalam keadaan tak berpakaian lengkap (Tahukah Anda pakaian imam seharusnya saat menghadap Tuhan?)/ Karena itu, orang Farisi menegur Yesus, “Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu”. Karena itu Yesus menegur balik mereka dengan halus, “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak”

Apa yang terjadi setelah itu? Yesus terus berjalan dan saat dekat dengan Yerusalem, Ia menangisinya. Mengapa? Karena bagi Yesus orang-orang Yerusalem itu tidak mengerti apa yang mereka perlu untuk kedamaian mereka. Mereka tidak sadar bahwa Yesus, penyelamat itu sendiri berada di tengah-tengah mereka.”

Apa Anda mengerti maksud saya? Yesus mengucapkan soal “batu-batu itu” karena orang Farisi, yaitu ahli-ahli agama, tidak suka jika nama Yesus ditinggikan. Mereka ingin membungkam murid-murid itu. Kalau saya bisa menggunakan bahasa saya sendiri untuk apa yang Yesus katakan, saya akan menggunakan kalimat “tak ada yang bisa menghentikan pujian bagi-Ku. Seandainya mereka semua diam, batu itu yang akan menaikkan pujian bagi-Ku”

Beberapa dari Anda tentu masih bingung dengan saya. Baik, saya akan jelaskan. Suatu saat saya pernah mendengar seorang ketua musik berkata seperti ini, “kalau kamu mau berhenti tidak apa-apa. Tidak ada kamu juga batu bisa memuji Tuhan” dan seorang pemimpin berkata, “kamu mau keluar tidak melayani lagi tidak apa-apa, batu saja bisa dipakai Tuhan”.  Menurut saya, kasus ini berbeda dengan kasus orang Farisi di atas.

Ketika seseorang memutuskan untuk berhenti melayani, ada banyak alasan yang melatar belakanginya (walaupun itu alasan paling konyol sekalipun). Ketika seseorang diangkat menjadi ketua musik atau pemimpin ada tanggungjawab ‘pembinaan’ yang mengikutinya. Hal yang paling konyol adalah ketika seorang pemimpin mencemplungkan seseorang ke pelayanan hanya karena melihat skill-nya saja, tidak ada pembinaan.

Saya beri contoh: seorang yang baru bertobat dengan skill luar biasa, masuk ke dalam sebuah “dunia pelayanan yang kejam”, merasa senang karena menjadi pusat perhatian, mengeksplorasi besar-besaran skill-nya di mimbar gereja, merasa sakit hati ketika penghargaan yang diberikan tidak sesuai dengan harapannya, kemudian memutuskan keluar. Apa yang dikatakan oleh pemimpinnya? “Ah, tidak ada kamu pun batu bisa memuji Tuhan”

Menanggapi hal itu adik saya berkata, “Sono aja ajarin batu maen musik. Kalau sampe tuh batu bisa maen musik, hebat!”

Jika Yesus ada di sana, menurut Anda apa yang akan Dia katakan ketika seorang muridnya, kecewa, kemudian berkata, “Tuhan, aku ingin keluar dari pelayanan ini”. Apakah Dia akan berkata, “silahkan… kamu tidak ada toh batu-batu bisa melayani-Ku”. Saya rasa TIDAK!

Hal kedua yang kami soroti adalah, seringkali pelayan keluar dari sebuah pelayanan karena merasa ‘dimanfaatkan pemimpin’. Tunggu dulu. Anda mungkin berkata, “kalau melayani biar semua untuk Tuhan, jangan lihat manusia. Biar Tuhan yang melayani, bukan manusia.” Saya setuju 100 persen dengan Anda.

Sekali lagi saya katakan, ketika seseorang ditunjuk menjadi pemimpin, ada tanggungjawab yang mengikutinya. Bukan tanggungjawab sebagai bos otoriter, tapi tanggungjawab untuk membina. Bagian dari pembinaan bukanlah menyuruh ini dan itu, mengatasnamakan pekerjaan anak buahnya sebagai pekerjaan dia, kemudian menendang keluar saat sudah tidak dapat diatur lagi dengan perkataan, “sudahlah, tidak ada kamu pun tidak apa-apa, batu saja bisa kok dipakai Tuhan”

Hei… Jangan menggunakan kalimat yang digunakan Yesus dalam konteks yang tidak semestinya. Tuhan memang bisa membuat batu memuji Dia, tapi kenyataannya manusia diciptakan Tuhan istimewa. Terlalu istimewa untuk dibandingkan dengan batu-batu oleh Anda, para pemimpin! Terlalu istimewa untuk dilihat begitu saja ketika dia keluar dari pintu Anda dengan kecewa (mungkin menangis) dan Anda berkata dengan sinis “silahkan keluar, batu saja bisa dipakai Tuhan.”. Katakanlah batu bisa, apakah Anda mau jadi pemimpin para batu?

Katakan saja batu bersedia menggantikan tim Anda, apakah Anda akan mengajari batu-batu itu, membina mereka, bersekutu dengan mereka?

Saya tidak akan memperpanjang tulisan ini. Saya hanya ingin kita, sebagai pemimpin, melakukan introspeksi. Apakah kita sudah cukup membina? Apakah kita bersedia introspeksi ketika ada orang di bawah kita yang ingin keluar dari pelayanan di bawah kita? Ketika Anda membandingkan ‘anak buah’ Anda dengan batu, lalu apakah Anda akan membandingkan diri Anda dengan pasir?

 

 

Advertisements