Masuk hari ketiga kami menyewa sebuah mobil lengkap dengan supirnya untuk sebuah city tour. Tidak mahal, hanya 300 baht perjam (termasuk supir dan bensin). Sang supir yang murah senyum dan bisa sedikit komunikasi dengan bahasa Inggris membawa serta pacarnya, seorang gadis cantik berwajah khas Thailand (yang lucunya bersedia menjadi ‘kenek’ dalam perjalanan ini)/

Kata Beach

Kami mengunjungi banyak tempat dimulai dari melewati Rawai Beach, berfoto sebentar di Kata Beach (yang wilayah dan pantainya asyik sekali, gabungan antara Kuta dan Legian Bali. Aaya menyarankan Anda menginap di Kata jika Anda berlibur ke Phuket). Kemudian melanjutkannya ke Pantai Karon (melihat pulau dan pantai dari bukit) yang memiliki pemandangan luar biasa (sementara saya melihat sedih ke bawah, di mana orang dapat berenang dengan santai di Pantai)

Dari situ kami kemudian melanjutkan ke Promthep Cape, di mana terdapat Elephant Shrine, tempat pemujaan Hindu (Kepada Dewa Brahma) di tengah-tengah negara mayoritas Buddha. Di sana, turis biasanya akan membawa bunga untuk kemudian disimpan di tengah-tengah lingkaran pemujaan.

Elephant Shrine, pemujaan terhadap Brahma

Pemandangan dari tempat itu pun cukup indah. Menurut pemandu kami, biasanya di tempat itu turis akan melihat pemandangan sunset yang indah. Tapi karena kami tidak memiliki banyak waktu, maka kami tidak berencana tinggal di sana sampai Sunset.

Dari situ selanjutnya kami mengunjungi tempat terhebat yang pernah ada: Big Buddha. Di mana terdapat patung Buddha yang luar biasa besar (tinggi sekitar 45 meter dan lebar 25 meter). Big Buddha ini dibangun sekitar 10 tahun yang lalu dan masih dalam pembangunan sampai saat ini. Untuk masuk ke tempat ini, kita harus menutupi daerah paha dan lengan (disediakan saroong) dan tidak perlu membayar (cukup donasi sekedarnya).

Jika kita naik ke tempat Big Buddha, kita juga akan menemukan banyak patung-patung Buddha lain berwarna keemasan yang terdiri dari Monday Buddha sampai Sunday Buddha.

Big Buddha

Setelah puas di pelataran Big Buddha dan menikmati Ice Cream coconut yang enak di halamannya, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Wat Chalong, the biggest temple of Buddha di Phuket. Di dalam Wat Chalong kita pun harus menutupi tubuh (lengan dan kaki) dan membuka alas kaki ketika memasukinya. (Saya agak miris juga membandingkannya dengan bagaimana kita memasuki gereja. Terkadang dengan pakaian mini, seadanya dan kadang pun tanpa rasa hormat sama sekali)

Di sana juga kami menikmati (lagi-lagi) air kelapa dengan rasa luar biasa khas Thailand, manis dan enak sekali, juga menemukan bahwa kain-kain yang dijual sebagian merupakan buatan Indonesia (berbeda jika kita membelinya di luar negeri, bukan?)

Cashew
Pabrik Cashew
bee farm

Dari Wat Chalong, kami melanjutkan perjalanan kami ke Pabrik Cashew, tempat besar yang memproduksi kacang Mede dan oleh-oleh lain khas Thailand yang dilanjutkan kemudian ke Bee Farm. Di Bee Farm kami dijelaskan mengenai madu dengan menggunakan Bahasa Indonesia oleh seorang pria muda yang memiliki ayah orang Thailand, Ibu dari Surabaya dan baru dua tahun tinggal di Thailand (sebelumnya di Surabaya).

Hari ini ditutup dengan kunjungan ke Weekend Market yang katanya hanya dibuka pada saat weekend, dan diakhiri dengan kelelahan yang luar biasa setelah tiba di hotel.

Oya, yang unik dari Phuket adalah tidak adanya tukang parkir seperti di Indonesia, dan sedikit sekali pengemis (hampir tidak ada malah). Mungkin ini pengaruh negara ini tidak pernah dijajah. Mereka memiliki mental “tahu malu” atau “sungkan meminta-minta”. Mungkin suatu saat kita harus belajar dari mereka.

Advertisements