New Coming Dog


Tanggal 31 Juli  yang lalu kami kedatangan anggota tim baru, seekor anjing hitam pekat bernama Panther. Panther adalah seekor anjing pom jantan yang (walaupun berwarna hitam) cantik. Jika melihatnya di foto, Anda pasti akan mengatakan “seram”, tapi setelah melihatnya, Anda pasti akan langsung mengatakan bahwa dia cantik.

Sebelum bertemu Panther, saya pikir semua anjing sama saja. Tergantung siapa pemiliknya dan bagaimana mengajarnya. Setelah kedatangan si hitam cantik ini, pemikiran saya langsung berubah. Ternyata, seperti manusia, anjing pun memiliki temperamen yang berbeda.

Anda pasti sudah menganggap Sansan sebagai anjing sendiri karena betapa seringnya saya bercerita tentang anjing satu ini (hehe…). Saya pernah membandingkannya dengan Philip dan beranggapan bahwa perbedaan itu karena pemiliknya berbeda.

Panther datang pada kami pada usia yang ke 10 bulan. Diberi oleh sahabat yang sama dengan yang memberikan Sansan dan Philip (thank you ko Budi…you are so kind).

Pertama kali datang, saya langsung mengganti namanya menjadi Penpen (dengan pertimbangan mudah memanggilnya dan lebih imut). Seperti juga ketika pertama saya melatih Sansan, saya memulainya dengan memanggil namanya berulang-ulang dan melatihnya untuk datang ketika dipanggil. Setelah beberapa hari ini mengamati kelakuan Panther yang ajaib, saya menemukan bahwa anjing memiliki temperamen yang kurang lebih sama seperti manusia. Walaupun saya belum menemukan cara yang tepat, saya rasa cara melatih kedua anjing ini pun berbeda.

Jika menggunakan tipe temperamen manusia, Panther adalah seekor anjing sanguin yang agak dableg. Baik, saya akan memberikan contoh negatifnya dulu. Di kantor ini, kami menetapkan aturan bagi anjing untuk tidak naik ke lantai atas yang beralaskan karpet. Kami tidak mau di karpet bertaburan bulu-bulu anjing yang nantinya akan sulit dibersihkan.

Dulu, saat Sansan ingin mengikuti saya naik ke lantai atas, saya akan membentaknya “ga boleh” dengan suara yang keras, dan dia akan langsung turun kemudian memperhatikan dari bawah. Hal itu hanya terulang dua sampai tiga kali, kemudian Sansan tahu bahwa dia tidak boleh naik ke lantai atas. Sedangkan Panther?? Dia tidak peduli ketika saya berteriak “Penpen, ga boleh…turun….Penpen”, dia akan terus saja naik ke atas sampai saya harus menggotongnya dan “melemparnya” turun ke bawah. Mudah sekali melarang Sansan melakukan ini itu yang salah. Penpen tidak peduli ketika kami membentaknya saat dia melakukan hal yang salah

Sansan itu tahu kapan tuannya marah. Cukup pukul pantatnya atau bentak sekali ketika ia melakukan kesalahan, ia akan duduk diam dan jarang sekali melakukan kesalahan yang sama. Hanya dibutuhkan waktu sebentar melatih Sansan masuk kandang dan diam di kandang dengan pintu terbuka (tidak melompat keluar). Sampai saat ini, kami tidak berhasil membuat Penpen diam di dalam kandang dengan pintu terbuka (kalaupun bisa, kami harus berdiri di luar dengan ancaman gagang sapu)

Apalagi ya kekurangan Penpen… Oya, saya tidak tahu ini kekurangan atau kelebihan… Untuk mengajarnya tidak pipis sembarangan, kami menekankan mukanya ke pipisnya. Apapun yang terjadi (sampai dipukul sekalipun) Sansan akan diam saja, masuk kandang, dan bete tidak mau keluar kandang. Kalau Penpen… dia akan mengaing keras sekali tapi 10 detik kemudian, seperti tidak terjadi sesuatu… ekornya kembali goyang-goyang dan kembali mencoba mengambil hati pemiliknya. (Ini sebenarnya mengingatkan saya dan adik saya. Dulu, saya akan diam saja ketika dipukul, berusaha tidak menangis, tapi kemudian diam dengan kesal di dalam kamar dan (jangan ditiru) mendiamkan mama saya untuk beberapa saat. Adik saya akan berteriak-teriak saat dipukul, namun setelah itu kembali berusaha mengambil hati mama saya)

Penpen tidak tahu bahaya. Biasanya saya akan menaruh San2 di atas meja saat saya tidak ingin San2 hilir mudik. Saat San2 di atas meja, dia biasanya akan langsung duduk atau berbaring diam. Panther tidak seperti itu…. Pernah satu kali dia nekad melompat dari meja yang tinggi (untungnya saya sempat melihat dan menangkapnya).

Sekarang kelebihannya. Masih ingat kan betapa kesalnya saya karena San2 seringkali kabur dan sulit dikejar? Saya pernah mengejar-ngejar Sansan sampai 1 jam (sekarang sih San2 sudah tidak seperti itu. Dia keluar untuk pipis dan tidak lama kemudian langsung kembali lagi. Duduk di motor jika ingin jalan-jalan naik motor (dan dia benar-benar tidak mau turun sampai diajak berkeliling), atau langsung masuk ke dalam rumah…mungkin ini karena dia takut kedudukannya sebagai dog of the house tersingkir oleh Penpen).

Penpen tidak suka kabur keluar. Kalau keluar, dia akan berjalan di samping saya. Saat dia berjalan terlalu cepat hingga saya tertinggal, dia akan melihat ke belakang kemudian mundur untuk menyamakan langkahnya dengan saya. Saat dia berjalan terlalu lama, dia akan berlari dengan kakinya yang pendek agar langkahnya sejajar lagi dengan saya.

Penpen tidak mau jauh dari saya. Sebenarnya alasan dia ke atas adalah untuk menyusul saya kalau saya terlalu lama berada di atas. Dia seperti memuja pemiliknya, mengangkat dua kaki depannya saat saya berjalan (agar saya menggendongnya) dan duduk sambil menatap saya saat saya berdiri. Awal mula saya mengenal Sansan, dia tidak seperti itu. Sulit sekali meyakinkan Sansan bahwa saya adalah tuan yang baik, yang tidak hanya bertugas memberi dia makan, tapi juga ingin bermain bersama dia (berlebihan ya…tapi saya memang merasa seperti itu dulu saat melatih  San2, apalagi saat dia kabur terus… seperti seorang yang patah hati rasanya hahaha)

Pen2 suka sekali perhatian dari tuannya. Walau San2lah the first dog of the house, tapi Pen2 seperti tidak mengijinkan jika saya membelai San2. Dia akan pura-pura menggigiti tangan saya yang sedang membelai San2. Bagaimana dengan San2? Ketika saya membelai atau menggendong Pen2, dia akan melihat saja dari jauh (sepertinya bete sekali). Dia tidak mau dipanggil jika saya sedang bersama Pen2. Sedangkan jika saya bersama San2, Pen2 akan langsung menyerobot minta dibelai tanpa dipanggil.

Oya, San2 sempat cemburu sekali sama Pen2 (mungkin juga dendam). Kami membuat kandang kecil untuk mereka berdua di mana mereka terpaksa akur di dalam. Saya tidak membedakan mereka. Karena jika San2 dikeluarkan dan Pen2 di dalam, maka Pen2 akan meraung-raung bising sekali. Jadi jika saya mengurung Pen2, saya akan mengurung San2 juga (kasihan juga sih). Saat mereka di dalam. Pen2 akan meloncat-loncat minta dikeluarkan sedangkan San2 seperti memandang saya dengan tatapan kecewa (berlebihan lagi….hahaha)

Positifnya? Mereka akur sekarang. Lihat saja gambar ini:

Jika Anda menjadi tuan mereka, siapa yang lebih Anda sukai?

Advertisements