image

Beberapa hari yang lalu saya mengeluarkan status seperti ini di facebook

“Ada pendeta blg gini “tunjukkan pdku teman2mu, dan akan aku katakan org spt apa engkau”… Itu maksudnya gmn yaa? Kalau pas ada Yesus trus dia tunjukkin pemungut cukai dan org2 berdosa…pendeta itu bakal mengatakan apa?”

Beberapa menanggapi dengan main-main, sementara yang lain menanggapi dengan serius. Saya lebih suka mereka yang menanggapi dengan serius karena akhirnya menjadi bahan pemikiran sekaligus introspeksi kita bersama.

Mari kita diskusi:

Berdasarkan asal quotenya :

Tell me thy company, and I’ll tell thee what thou art.

– Miguel de Cervantes (1547-1616)

Tell me with whom thou art found, and I will tell thee who thou art.

– Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832)

Tell me the company you keep, and I’ll tell you what you are.

– French, Spanish, English, Dutch proverb

Tell me who’s your friend and I’ll tell you who you are.

– Russian proverb

Tell me who your friends are and I’ll tell you who you are.

– Philippine proverb

Tell me your company, and I’ll tell you who you are.

– Irish proverb

Status saya di atas sama sekali bukan ditujukan untuk memojokkan atau mendiskreditkan seorang pendeta mana pun. Saya berusaha mengajak para pembaca untuk merenungkan hal ini, “kenapa Yesus bisa bergaul dengan orang berdosa tanpa terpengaruh?”. Apakah karena Dia Tuhan? Apakah karena kita ini manusia yang banyak keterbatasan maka kita harus pilih-pilih dengan siapa kita bergaul? Apakah karena kita ini manusia yang cenderung berbuat dosa maka kita harus pilih-pilih teman? Apakah memang itu yang Tuhan inginkan?

Tolong jangan katakan dulu “yah…konteksnya apa dong pendeta itu ngomong itu!!”.  Arti dari quote yang saya kutip di atas sudah jelas “hati-hati dalam memilih teman”. “Show me your friends…” Tunjukkan padaku teman-temanmu…. “and i’ll tell you who you are”…dan saya akan beritahukan orang seperti apa Anda. Dengan kata lain “jangan berteman dengan sembarang orang!”

WOW!! Menurut saya, ini adalah kalimat paling arogan yang pernah saya temui. Tunjukkan teman-temanmu, saya dapat dengan mudah mengatakan siapa Anda.  Jadi…semudah itu men-judge seseorang? Berdasarkan dengan siapa dia berteman?

Tunggu dulu… saya sangat paham, quote-quote di atas berbicara tentang bagaimana memilih teman untuk “bergaul”,  dengan siapa kita sehari-hari berada bersama, siapa yang menjadi trendsetter kita, dan siapa yang mempengaruhi kita. Biasanya, orang-orang yang duduk satu group memiliki karakter dan kebiasaan yang sama. Anda berjumpa dengan sekelompok preman, maka Anda akan menyimpulkan bahwa semua yang ada di kelompok itu adalah preman. Mengapa? Karena kita langsung mendiskreditkan semua orang yang ada di sana “Mereka preman”.

Perkenankan saya untuk menggunakan bahasa saya sebagai berikut: “berteman dengan orang yang salah akan merusak image dan reputasi Anda”. Apa kurang jelas? Saya gunakan kalimat lain “berada bersama orang yang salah, akan menimbulkan persepsi yang salah dari orang lain.”

Ya, hanya sebatas image, reputasi dan persepsi orang… bukan karakter! Karena karakter dibentuk oleh pengalaman hidup dan proses pembelajaran yang panjang.

Menurut Anda, ketika Yesus bersama dengan seorang wanita Samaria, berduaan saja di sumur, siang hari… Apa persepsi orang? Menurut Anda, ketika perempuan yang hampir dilempari batu kemudian ditinggal oleh orang-orang banyak. Dalam keadaan berpakaian seadanya Yesus mengajak dia bicara, apa persepsi orang?

Menurut Anda, ketika Yesus makan di rumah Zakheus, apa persepsi orang? Menurut Anda, ketika Yesus mengambil Matius yang adalah seorang pemungut cukai menjadi sahabat dan muridnya, apa persepsi orang? Ya… Yesus pun korban dari orang-orang Farisi yang juga menganut quote “show me your friends and i’ll tell you who you are”

Baca saja Markus 2

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi  melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Apakah semudah itu kita mengatakan “itu beda…konteksnya beda.” Baik, bedanya apa? Karena Dia Tuhan dan kita manusia? Karena dia melayani dan kita “sekedar berteman”? Kalau begitu ada yang salah dengan konsep “bergaul” yang kita pahami.

Kemudian dalam diskusi tersebut kita bertemu dengan sebuah ayat yang sangat saya sukai, MAZMUR 1 sebagai berikut;

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,”

Sebelum lebih lanjut, saya ingin mengatakan bahwa ada dua hal yang saya permasalahkan di sini. Pertama masalah “garam dan terang dunia” atau “domba yang di utus ke tengah serigala”. Kedua masalah “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik”.

Harap dipahami bahwa tidak ada ayat dalam Alkitab kita yang saling bertolak belakang satu dengan yang lain. Kedua ayat tersebut tentu memiliki maknanya masing-masing (yang ketika disalah artikan maka akan berantakan jadinya).

Tulisan saya kali ini agak panjang… Mudah-mudahan Saudara dapat tetap bersama saya sampai akhir pembahasan (walau saya tidak bisa memaksa 🙂 )

Mazmur 1 cukup jelas memberikan gambaran kepada kita. Masalah utamanya bukanlah “berteman dengan orang fasik”, tapi “berjalan menurut NASIHAT orang fasik” (penekanan dari saya). Masalah utamanya bukanlah “berteman dengan orang berdosa”, tapi “berdiri di JALAN orang berdosa” dan masalahnya bukanlah “berteman dengan kumpulan pencemooh” tapi “DUDUK BERSAMA kumpulan pencemooh”.

Namun jangan berhenti sampai situ… Ada Mazmur 1:2 yang menjelaskannya “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” Apakah Anda tidak merasa ada yang ganjil dengan ayat itu? Bukankah Anda berharap kelanjutannya adalah “tetapi yang kesukaannya adalah duduk bersama para imam dan ahli-ahli kitab dan yang mendengarkan kotbah imam siang dan malam?”

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, bukan? Mazmur 1 tidak bicara tentang “dengan siapa kita berteman” tapi bicara masalah bagaimana kita seharusnya jadi pengaruh. Ketika kita berteman dengan orang fasik, jangan berjalan menurut nasihatnya. Ketika kita berteman dengan orang berdosa, jangan berdiri di jalannya. Ketika kita berteman dengan pencemooh, jangan ikut bercemooh bersama-sama dengan mereka.

Tidak cukup sampai situ, Tuhan Yesus menambahkan “jadilah garam dunia”. Berbaurlah, tapi jadilah pengaruh bagi lingkunganmu! Bukankah garam harus larut dengan apa yang ia garami? Bukankah garam tidak menjadi tawar ketika berbaur dengan lingkungannya? Justru garam mengasinkannya?

Bukankah tugas kita di dunia adalah menjadi terang, dan untuk menjadi terang kita harus bersedia untuk berada di dalam gelap?

Saya sangat sedih melihat betapa banyak orang Kristen mengenakan kacamata kuda. Menaruh curiga pada mereka yang non-Kristen. Bagaimana Anda bisa menjadi garam yang berdampak kalau Anda masih di dalam toples garam? Bagaimana terang Anda kelihatan kalau Anda berada di tengah-tengah terang?

Ketika Alkitab mengatakan “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan (atau karakter) yang baik “(I Korintus 15:33), ia mengawalinya dengan “jangan kamu sesat”. Diterjemahan lain dituliskan “jangan kamu disesatkan” dan “jangan bodoh”.

Harap dicatat, perintahnya bukanlah “jangan bergaul!” tapi “jangan sampai disesatkan”. Dengan kata lain, perintah sebenarnya adalah “hati-hati jangan sampai kamu terpengaruh. Pergaulan yang buruk itu bisa merusak kebiasaanmu yang baik. Kamu yang harus menjadi pengaruh!”

Namun untuk menjadi pengaruh itu sulit bukan? Lebih mudah mengatakan “jangan bergaul dengan dia” daripada mengajari “bagaimana menjadi pengaruh”. Seperti yang saya tulis dalam diskusi itu: lebih mudah mengatakan “jadilah terang” daripada mengajarkan bagaimana menjadi terang. Lebih mudah mengajarkan “jauhi teman-teman yang suka ke diskotik” daripada mengajar untuk tidak kompromi ketika suatu saat terjebak di dalamnya.

Jadi balik lagi pertanyaannya adalah “mengapa Yesus bisa bergaul dengan orang berdosa tanpa terpengaruh?” dan pertanyaan selanjutnya adalah, “bagaimana caranya agar tidak terpengaruh dan justru menjadi pengaruh seperti Yesus??” Menurut saya, saat ini itulah alasan satu-satunya mengapa orang harus beribadah. Agar para pendeta bisa mengajar “bagaimana caranya menjadi pengaruh sesuai dasar-dasar Firman Tuhan” (bukan sekedar motivasi seperti Golden Waysnya Mario Teguh). Saya tidak akan coba-coba membahasnya karena saya rasa Alkitab sudah cukup menjelaskannya.

Pada akhirnya, saya akan tutup dengan sebuah ayat kunci. Rahasia yang diucapkan Yesus dalam Matius 10:16:

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala,  sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. 

Mengapa kita harus cerdik seperti ular? Karena kita harus berteman dengan orang-orang berdosa!! Kita adalah domba yang DIUTUS ke tengah serigala.

Mengapa kita harus tulus seperti merpati? Karena kita membawa nama Yesus. Karena DIA yang mengutus kita!!

Jadi… Dengan siapa Anda ingin berteman hari ini?

Advertisements