Ekstrimis???


Beberapa hari yang lalu saya menulis seperti ini di facebook saya:

Ini bukan negara agama. Puasa itu tidak diatur dalam undang-undang dasar untuk seluruh rakyat Indonesia… Jadi bagi yang menjalankan ibadah puasa, sebaiknya fokus saja dengan ibadahnya sendiri, tidak perlu terganggu dengan yang tidak puasa dan sedang makan di jalan… come on!!! Kehidupan kami berjalan dengan normal… Bagi kami yang tidak puasa, bulan ramadhan dan bulan2 lainnya sama saja.

Bagi Anda yang membacanya sekilas, tentunya Anda menangkap unsur SARA di dalamnya. Tapi bagi Anda yang cerdas dan cermat, tentunya Anda dapat menangkap bahwa tulisan tersebut hanya dimaksudkan untuk segelintir orang yang “riweuh” (meminjam bahasa anak-anak saya dari Dayeuh Kolot) terhadap bulan puasa.

Saya memiliki banyak teman muslim dan saya menghormati mereka. Teman-teman saya selama saya S2 mayoritas muslim dan mereka adalah teman-teman terbaik yang pernah saya ingat sejak TK. Saya kuliah S2 di STMB (sekarang IMB) Telkom. Mendapat beasiswa dan bergabung bersama 19 orang lainnya dalam satu kelas. Karena mengambil kelas reguler, setiap hari kami mendapat jatah makan siang dan dua kali snack. Saat makan siang merupakan saat yang kami semua sukai karena kami ber 20 akan duduk di meja prasmanan dan tertawa-tawa mengobrol hal-hal yang abstrak, mulai dari kasus di kelas, dosen yang aneh, sampai hal-hal remeh temeh yang tidak penting.

Karena kuliah selama setahun penuh, tentunya saya melewati juga hari-hari puasa. Saat bulan puasa, saya (orang Kristen yang saat itu mengenakan kacamata kuda karena dari TK sampai SMA di sekolah Kristen, kuliah S1 di Universitas Katolik dan kerja di tempat mayoritas Kristen juga) berpikir bahwa tentunya STMB tidak akan menyiapkan makan siang bagi kami, dan kami yang Kristen tentu harus mencari makan keluar pada saat istirahat siang.

Alangkah terkejutnya saya dan beberapa teman non muslim karena ternyata pihak STMB mengingat kami yang non-muslim dan tetap menyediakan makan siang (walau merupakan bungkusan nasi kotak semacam KFC). Lebih terkejut lagi karena teman-teman saya yang muslim ikut duduk di meja makan untuk menemani kami non-muslim makan siang. Tidak ada masalah sama sekali…. Mereka bertoleransi terhadap yang tidak puasa.

Kembali ke masalah status saya di atas, saya mendapat banyak kritik melalui pesan pribadi, bukan dari rekan-rekan muslim, tapi dari rekan-rekan Kristen yang merasa “takut”. Sebagian mengatakan saya terlalu ekstrim, sebagian mengatakan saya tidak perlu ikut campur urusan orang lain, sebagian mengatakan agar saya menjadi terang, sebagian mengatakan agar saya berhati-hati diserang FPI. Merupakan komentar – komentar yang (maaf) menurut saya tidak relevan sama sekali dengan masalah yang sedang saya bahas.

Tidak ada kaitannya dengan menjadi terang, tidak ada kaitannya dengan ikut campur urusan orang lain (baiklah, saya masih bisa terima jika saya dikatakan ekstrim).

Lewat tulisan ini, saya bukannya mau membela diri, tapi mau membahas dari kacamata seorang cerdas (hehehe….)

  1. Ini bukan negara agama. Apa ada yang salah dengan itu? Apakah ada yang tersinggung jika dikatakan bahwa ini bukan negara agama. Apa ada yang ingin membuat negara ini menjadi negara agama? (mungkin sebagian ada…tapi saya percaya hanya sebagian kecil orang yang ingin seperti itu). Lagipula, negara agama seperti Malaysia saja pada bulan puasa tidak seekstrim negara kita kok.
  2. Puasa itu tidak diatur dalam undang-undang dasar untuk seluruh rakyat Indonesia... Memang ada di UUD yang mengatur puasa? Setahu saya hanya ada tentang Negara ini berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjamin kemerdekaan beragama. Tidak ada yang mengatur tentang puasa. Jadi….apa ada yang salah dengan pernyataan saya itu?
  3. Jadi bagi yang menjalankan ibadah puasa, sebaiknya fokus saja dengan ibadahnya sendiri, tidak perlu terganggu dengan yang tidak puasa dan sedang makan di jalan… Nah ini dia protes sosial saya. Tapi, apakah protes ini salah? Bukankah memang Puasa itu adalah urusan seseorang dengan Tuhannya (entah siapapun Tuhannya). Setiap agama memiliki cara berpuasa masing-masing. Karena Islam merupakan agama mayoritas, maka puasa hampir dijadikan schedule negara. Tapi bukan berarti agama lain tidak memiliki jadwal puasa. “Menjamin kebebasan beragama” menurut saya berarti “silahkan setiap orang mengurusi urusannya masing-masing dalam beragama, tidak perlu mengurusi orang lain.”
  4. Kehidupan kami berjalan dengan normal… Bagi kami yang tidak puasa, bulan ramadhan dan bulan2 lainnya sama saja. Ini yang sering saya tanyakan, siapa bertoleransi terhadap siapa. Logikanya, siapa yang sedang mengejar pahala? Mereka yang berpuasa atau mereka yang tidak puasa. Jika memang sedang mengejar pahala, bukankah makin banyak tantangan makin baik? Well, teman-teman muslim saya mengatakan seperti itu.

Sekali lagi, saya sangat menghormati teman-teman muslim. Saya termasuk orang yang sangat mengagung-agungkan toleransi antar umat beragama. Tapi bukankah dengan kita terbuka dan saling mengkritik, kita sedang melatih toleransi??? Sebagian dari Anda mungkin mengatakan saya melakukan pembenaran diri. Saya lebih suka menyebutnya KONFIRMASI dan PENJELASAN buat yang belum cerdas 😉

Advertisements