Debt Collector Janji Iman


“Janji Iman” sepertinya merupakan cara yang paling mudah untuk mengumpulkan dana bagi suatu organisasi gereja. Tantang jemaat untuk mempraktekkan imannya dengan melakukan pemberian rutin tiap bulan. Tidak ada paksaan terhadap jumlah pemberian, tapi yang namanya olahraga iman tentunya harus mengencangkan otot-otot iman. Berilah dalam jumlah yang bikin jantungmu berdebar-debar tiap bulan, baru namanya olahraga iman.

Tidak ada yang salah dengan janji iman. Selain untuk memenuhi sebuah program gereja, Janji Iman memang merupakan sarana yang cukup baik untuk gereja dalam menguji seberapa efektif Firman Tuhan yang disampaikan dapat “mengena” kepada hati jemaat yang mendengar dan seberapa setia mereka yang datang beribadah setiap hari Minggu (‘setia’ di sini bisa berarti kepada Tuhan maupun kepada organisasi, tapi saya rasa ukuran kesetiaan kepada Tuhan bukanlah dengan memberi janji iman)

Walaupun saya tergelitik, tapi tulisan saya kali ini bukanlah menyoroti mengenai apakah Janji Iman itu boleh atau tidak (menurut kacamata seorang Greissia).

Tadi pagi dalam percakapan saya dengan seorang teman, tercetuslah sebuah joke seperti ini, “apakah di gereja yang memiliki program janji iman dibuka sebuah pelayanan baru, ‘debt collector janji iman’ yang bertugas menagih jemaat yang “lemah iman” di bulan-bulan berikutnya“? Saya geli sendiri membayangkan seorang (atau beberapa orang) staff gereja setiap bulan menghadapi telepon untuk mengatakan, “maaf pak, tagihan janji iman Anda sudah hampir jatuh tempo. Apakah Bapak akan membayarnya tunai, transfer atau perlu kami ambil?” (dan kemudian telepon gereja tersebut akan masuk ke dalam daftar telepon yang di-block oleh jemaat). Tapi tentunya tidak seperti itu (mudah-mudahan tidak).

Janji iman merupakan sebuah program positif jika secara naif kita menerima bahwa tujuannya adalah melatih iman jemaat. Berbicara soal iman, setiap orang memiliki kapasitas imannya masing-masing. Setidaknya, setiap orang ingin memiliki iman yang besar walau beberapa dari mereka kesulitan dalam memilikinya.

Menurut saya, Iman merupakan sesuatu yang tidak diusahakan dengan cara coba-coba. Ada perbedaan antara iman dengan nekad. Iman memiliki dasar, sedangkan nekad merupakan tindakan mencobai Tuhan. Iman adalah  hasil dari hubungan yang intim dengan Pencipta. Tidak mungkin seseorang memiliki iman kepada Tuhan jika ia tidak memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Suatu langkah iman dibuat oleh seseorang yang sangat mengenal kepada Tuhannya.

Seorang istri atau suami tidak akan percaya begitu saja saat mendengar suami / istrinya melakukan hal yang tidak-tidak di belakang JIKA DAN HANYA JIKA ia mengenal pasangannya dengan baik dan memiliki hubungan yang intim dengan pasangannya. Jika tidak, gosip sekecil apapun akan merusak rumah tangga itu.

Hal yang menarik perhatian saya adalah, kebanyakan gereja mengaitkan langkah iman seseorang dengan keuangan. Dasar ayatnya adalah “sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Bagi saya hal ini masuk akal juga, karena mamon merupakan salah satu kandidat terbesar yang dapat mengalahkan Tuhan. Mana yang lebih kau anggap penting, Tuhan atau uang? Jika kau lebih beriman pada Tuhanmu, berikan uangmu untuk Tuhan, jika kau lebih beriman pada uangmu, korbankan Tuhan demi uangmu. Kurang lebih begitulah dasar pemikirannya.

Dengan dasar pemikiran tersebut pendeta-pendeta berkotbah mengenai “memberi untuk pekerjaan Tuhan” dengan menitikberatkan pada “uang” sebagai bagian dari janji iman. Kemarin saat ibadah, saat waktu teduh yang diminta pendeta untuk memikirkan janji iman yang harus diberikan, saya berbisik pada Tuhan menceritakan uneg-uneg saya.

“Tuhan, Kau tahu apa yang sedang kami usahakan untuk 14 September nanti. Kami juga butuh uang untuk anak-anak ini. Tak apakah jika untuk saat ini aku tak mengambil bagian dari janji iman ini? Aku tahu suku-suku yang katanya akan dibantu ini membutuhkan dana untuk dijangkau, tapi pelajar Kristen SD Negeri ini juga butuh dana untuk dapat dikumpulkan 14 September nanti”

Kemudian, seperti de javu, saya kembali merasa takut… Apakah ini mimpinya Tuhan atau obsesi saya sendiri. Apakah mengumpulkan anak-anak ini untuk diajar tentang kebenaran Firman Tuhan merupakan keinginan Tuhan, atau hanya keinginan saya sendiri. Suatu pemikiran kuno yang terus menerus menyerang pikiran saya sejak awal saya mendirikan pelayanan ini. Apakah saya egois?

Baik, memang terdengar melankolis, tapi memang itu yang selalu saya rasakan ketika berhadapan dengan pelayanan ini. Saat itu saya merasa bahwa, itulah olahraga iman bagi saya. Dalam pelayanan saya kepada anak-anak ini, saya memang banyak menggunakan uang saya. Namun lucunya, bagi saya, olahraga iman bukanlah mengenai “apakah tersedia cukup uang”, tapi keyakinan untuk terus melakukan bagian saya dan menyerahkan hal terpenting kepada Tuhan.

Beberapa kali saya merasa takut. Takut kepala sekolah tidak menyampaikan brosur dan surat kami pada para pelajar Kristen, takut orangtua tidak mengijinkan, takut saat hari H angkot-angkot tidak dapat menjemput anak dengan baik, takut…takut…takut… Memang ada juga ketakutan bahwa dananya kurang. Tapi justru karena kami mengedepankan Tuhan, maka uang bukan lagi menjadi masalah kami. Bagi saya, janji iman adalah mengenai “berjanji untuk tetap melakukan bagian saya walaupun saya merasa takut, karena saya memiliki iman bahwa Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya dengan gemilang“.

Mungkin terdengar berbelit-belit dan sebagian dari Anda mungkin tidak akan paham dengan apa yang saya tulis. Namun maksud saya begini. Bukankah yang terpenting dalam melatih iman adalah mengandalkan Tuhan melebihi apapun? Bukankah saat seseorang memiliki iman, kemudian membuat sebuah janji iman maka tidak seorang manusia pun dapat ikut campur terhadap hal ini? Bukankah iman adalah hasil dari sebuah hubungan intim dengan pencipta dan karena itu yang terpenting justru adalah membina hubungan itu sendiri?

Well, mungkin Anda semua memiliki pendapat sendiri.

Apapun pendapat Anda, saya memohon dengan sangat kepada Anda untuk mengingat kami dalam doa-doa Anda. Empat belas September nanti kami akan mengadakan ibadah Pelajar Kristen SD Negeri. Tujuan utama acara ini adalah untuk tetap menjaga iman (aha….lagi-lagi kata “iman”) para pelajar Kristen SD Negeri dengan memberi tahu mereka bahwa Tuhan mengasihi mereka, dan jika mereka selalu melibatkan Tuhan dan mengandalkan Dia, maka segala perkara dapat mereka tanggung.

Secara spesifik saya rindu para pelajar Kristen SD Negeri ini terlepas dari segala keterikatan yang tidak Tuhan sukai, seperti pornografi, rokok, dan kebiasaan lain yang buruk.

Sekali lagi saya mohon, ingatlah kami dalam doa-doa Anda. Doakan setiap persiapan yang kami lakukan. Brosur, surat untuk kepala sekolah, orangtua siswa, kesehatan anak-anak, para pelayan, keamanan kota, dan semua hal yang menunjang acara ini. Karena saya yakin, jika Anda, orang-orang benar berdoa…maka akan ada sesuatu yang besar terjadi.

brosur

Advertisements