Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
Matius 23:11

Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan seorang teman mengenai topik yang sangat menarik (setidaknya menurut saya). Tidak perlu saya jelaskan detil diskusi kami, cukup hasilnya saja. Hasil dari diskusi tersebut adalah (menurut kami), seringkali yang membuat kabur makna pelayanan adalah karena kita selalu berpikir bahwa kita melayani Tuhan.

Tunggu dulu! Saya tidak salah ketik. Ya, saya memang bermaksud mengatakan bahwa seringkali yang membuat kabur makna pelayanan adalah karena kita selalu berpikir bahwa kita melayani Tuhan.

Anda mungkin berkata, “tapi apa yang salah dengan melayani Tuhan?” Tidak ada yang salah! Tapi seringkali pikiran “melayani Tuhan” membuat kita mengabaikan saudara-saudara kita, sesama manusia. Padahal dalam salah satu kotbahnya, Yesus berkata,

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Matius 25:40 

Bagi yang belum tahu kisah ini, akan saya ceritakan secara singkat. Di jaman akhir nanti Yesus akan mengumpulkan seluruh bangsa di hadapan-Nya, kemudian dipisahkan-Nya seorang demi seorang, golongan domba dan kambing.

Kepada mereka yang masuk golongan domba disambut-Nya dengan lembut untuk masuk ke Kerajaan Surga. Alasannya:  

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Matius 25:35-36

Saat golongan domba ini kebingungan,dijelaskan-Nya pada mereka bahwa barangsiapa melayani orang yang paling hina, mereka sudah melayani Yesus.

Sedangkan mereka yang masuk kategori kambing, dikecamnya karena tidak memberi makan pada yang lapar, tidak memberi minum pada yang haus, tidak memberi tumpangan pada orang asing, tidak memberi pakaian pada yang telanjang, tidak melawat yang sakit dan tidak mengunjungi yang dipenjara.

Golongan kambing ini bukanlah mereka yang tak mengenal Tuhan. Mereka jelas mengenal-Nya, atau setidaknya mereka pikir mengenalNya. Mereka mungkin orang-orang yang dimaksud Yesus sebagai orang-orang yang berseru Tuhan, Tuhan… tapi tak dikenal-Nya (Matius 7:22-23).

Kembali lagi ke masalah yang saya cetak tebal tadi, banyak orang berpikir semua yang mereka lakukan adalah melayani Tuhan semata-mata sehingga mereka tidak peduli dengan sesama mereka. Bahkan seringkali ini mengakibatkan kesombongan, “saya melayani Tuhan, bukan kalian, hanya Tuhan yang dapat menilai saya” kemudian diikuti dengan bersikap semaunya sendiri.

Saya beri contoh sederhana. Pemimpin pujian, Anda  memimpin pujian tanpa memikirkan jemaat, memilih lagu di kunci yang dapat  membuat Anda terdengar indah tanpa peduli jemaat bisa ikut memuji atau malah terganggu.

Pemain musik, Anda memainkan musik dengan variasi chord yang membingungkan dan improvisasi yang berlebihan sehingga jemaat kebingungan sendiri dan tak bisa fokus saat memuji atau menyembah.

Ada perbedaan antara “melayani sesama seperti melayani Tuhan” dengan “melayani Tuhan dan bukan sesama”.

Pemimpin pujian dan pemain musik, ketika Anda di mimbar Anda sedang melayani jemaat dan memfasilitasi mereka untuk dapat menyenangkan Tuhan dengan penyembahan dan puian.

Guru sekolah minggu, ketika Anda mengajar, Anda sedang melayani anak-anak agar mereka mengenal Tuhan dan Firman-Nya serta mengerti kehendak-Nya.

Fokus utama tetap Tuhan, tapi “pelanggan langsung”Anda (meminjam istilah dalam manajemen) adalah sesama manusia. Anda melayani manusia dan memfasilitasi mereka untuk dapat lebih dekat dengan Tuhan yang Anda sembah.

Kita dipanggil untuk menjadi terang agar semua orang MELIHAT PERBUATAN KITA YANG BAIKdan MEMULIAKAN BAPA DI SURGA. Kuncinya adalah orang lain menyadari sesadar-sadarnya perbuatan kita yang berdampak pada hidup mereka dan akhirnya memuliakan Bapa di Surga.

Akibatnya, kita harus mau menerima penilaian orang lain ketika tujuan utama kita (memfasilitasi orang lain untuk berhubungan lebih dekat dengan Tuhan) tidak tercapai. Kita harus dapat menerima kritik ketika, sengaja maupun tidak, kita telah menjadi batu sandungan.

Hal yang terpenting adalah, jangan membatasi istilah “pelayanan”. Anda sedang menyenangkan Tuhan ketika memberi makan pada yang lapar, memberi minum pada yang haus, memberi tumpangan pada orang asing, memberi pakaian pada yang telanjang, melawat yang sakit dan mengunjungi yang dipenjara. Dirangkum menjadi melayani mereka yang membutuhkan.

Bukankah itu yang penting, bukan soal “niat melayani Tuhan”, tapi hasrat menyenangkan hatiNya,

Advertisements