Sudah lama sekali bukan saya tidak menulis di blog ini? Ya, memang sudah lama sekali. Kalau ditanya mengapa sudah lama saya tidak menulis maka jawaban klise yang akan Anda dapat, “sibuk”. Sebenarnya, saya malas! Beberapa minggu terakhir ini saya benar-benar sedang malas menulis kisah sehari-hari saya (walau ada satu buah artikel yang saya postkan di blog saya yang lain http://www.greissia.wordpress.com).

Hari ini saya memaksakan diri menulis, karena kemalasan yang dipelihara terus menerus (katanya) akan menjadi permanen. Jadi sebelum saya menderita “malas menulis kronis”, sebaiknya saya mulai menulis lagi.

Sebenarnya, ada banyak hal yang dapat menjadi bahan tulisan saya beberapa minggu belakangan ini, namun saya memilih beberapa saja di antaranya, seperti, PROYEK THE WITNESSES DILANJUTKAN!!! Mungkin beberapa dari Anda tidak mengerti (kalaupun mengerti mungkin tidak akan seantusias itu menanggapinya hehehe…). Proyek The Witnesses adalah album rohani pertama saya yang berisi rangkaian lagu worship yang berbicara seputar penyaliban Kristus. Jadi ceritanya, lagu-lagu yang ada di album ini akan mewakili seorang saksi yang berada di seputar salib Kristus. Penasaran? Ga ngerti? Anda bisa menunggu albumnya Paskah tahun depan ya.

Setiap lagu dalam album ini akan dinyanyikan oleh orang-orang berbeda yang mewakili tokoh-tokoh seperti Simon dari Kirene, Maria Magdalena, Simon Petrus, Kepala Pasukan, dll. Dua minggu kemarin kami sibuk mencari dan menghubungi kembali orang-orang yang pernah kami hubungi tahun lalu. Sukurlah mereka semua masih bersedia dan antusias dalam menanggapi pembuatan album ini. Berdoa semoga saja api itu tidak padam pada saat take vocal dan sesudahnya nanti.

Berikutnya…yang ingin saya tulis hari ini adalah mengenai kecenderungan sebagian besar orang dewasa, yaitu menempatkan diri (bahkan cenderung menikmati) mereka sebagai korban dalam sebuah sistem yang salah. Saya saat ini berprofesi sebagai konsultan manajemen yang banyak menerima curhat dari karyawan di perusahaan klien saya. Saya menyimpulkan, penyakit kronis yang dialami oleh kebanyakan orang dewasa yang bekerja adalah mereka senang menempatkan diri mereka menjadi korban dari sebuah sistem (atau atasan) yang salah.

Mereka biasanya senang sekali berkata, “saya lho yang ngerjain semua, mereka mah engga. Dibanding dia saya yang paling banyak kerjaannya, padahal gaji saya jauh lebih kecil dibanding dia”. Yes,…ini sering sekali saya temui, dan saat ini saya sudah dalam tahap muak.

Saya akui saya pernah menempatkan diri saya dalam posisi korban dari sistem yang salah. Saat itu saya menikmati posisi dikasihani dan dianggap “pahlawan” oleh orang lain. Tapi melalui pelajaran saya di tempat klien-klien saya, saya menemukan bahwa menempatkan diri menjadi korban adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh pengecut.

Hanya pengecut yang menempatkan diri sebagai korban di bawah sistem yang mereka anggap sebagai predator yang mematikan dan tidak berbelas kasihan. Hanya pengecut yang merasa tidak berdaya (padahal sebenarnya ingin menyombongkan diri mereka) dalam sebuah sistem yang semrawut. Hanya pengecut yang tidak berani meminta haknya namun mengomel di belakang menyebutkan jasa-jasa yang sudah mereka lakukan pada perusahaan.

Ketika Anda merasa diperlakukan tidak adil, hanya dua pilihan Anda: keluar dari sistem itu, atau tetap di dalam tapi perjuangkan hak Anda dengan cara yang benar. Ketika Anda berada dalam sebuah sistem yang salah, ada dua juga pilihan Anda: tetap bersikap benar dan saleh, atau mengomel dan menempatkan diri Anda menjadi korban. Ketika Anda tetap bersikap benar, Anda telah menjadi penyejuk bagi kawan-kawan Anda yang mungkin juga merasakan kesalahan sistem yang ada. Namun ketika Anda memilih mengomel dan menempatkan diri menjadi korban, Anda telah menciptakan api dalam neraka kecil Anda.

Saya rasa cukup untuk hari ini… Mudah-mudahan besok saya tidak malas lagi menulis… Mudah-mudahan saja… 🙂

Advertisements