Sibuk dan berapa hargamu….?


Sudah lama saya tidak menulis web ini. Beberapa orang sudah mempertanyakannya, “ah, tiap gua masuk blog lu ga ada tulisan baru”. Aneh juga karena blog diary pribadi ini lebih diminati orang daripada blog karya tulis saya yang lebih dulu ada.

Alasan saya? Klise…. “iya nih, lagi sibuk banget”. Walau klise, tapi itu memang alasan yang benar. Lebih dari dua minggu ini saya selalu berada di tempat klien, memberikan konsultansi HRD dengan sabar (percaya atau tidak saya selalu berusaha menyabar-nyabarkan diri saya di tempat klien-klien saya).

Sepulang dari tempat klien biasanya saya bermain dengan Sansan, anjim pom yang sering saya upload fotonya kemudian mengerjakan beberapa poin untuk panduan diskusi Letters From Parents dan setelahnya kelelahan dan tidur. Saking sibuknya, saya jadi merasa hidup saya mengalir tanpa bisa menangkap makna yang berarti, minimal utuk saya tuliskan di blog ini. Sedikit kejadian sepeti kehujanan dan kebanjiran hanya saya pandang dengan “yah…inilah hidup”, dan selesai!

Hari ini saya memutuskan untuk menulis setelah suatu pembicaraan yang unik dengan teman dan murid saya. Sebenarnya pembicaraan ini berawal beberapa hari yang lalu ketika saya menunjukkan foto anjing Alaskan seharga 18 juta yang ditanggapi murid saya dengan, “mahal nyaa”. Teman saya kemudian merespon (lucu tapi sarkastis), “coba Beth, dituker sama Abeth kira-kira yang jualnya mau ga?”.

Suatu pemikiran konyol yang sarkastis tapi layak dipikirkan ulang. Berapa nilai kita?

Seandainya Anda datang ke showroom mobil dan berkata, “pak, saya mau menukar diri saya dengan jaguar bapak. Berikan jaguar itu pada ayah saya, dan saya akan mengabdikan diri pada bapak.”, apakah diijinkan? Hahaha..,.saya rasa tidak.

Tapi apakah alasan tidak itu karena manusia tidak bisa disamakan dengan benda mati walau semewah jaguar, atau karena value manusia tidak setinggi jaguar di mata si pemilik showroom?

Jika jawabannya yang kedua, maka muncul pertanyaan, dinilai dari apakah harga manusia vs mobil?  Apakah si pemilik jaguar lantas menghitung rupiah yang dia hemat jika memiliki pembantu seumur hidup dan membandingkannya dengan harga jaguar, atau bagaimana?

Sekali lagi, Konyol bukan?

Baik, saya pun tidak menganjurkan Anda melakukan itu untuk pembuktian berapa nilai Anda, saya hanya ingin mengajak kita memikirkan dua hal. Pertama, bagaimana kita menilai diri kita? Kedua, bagaimana kita membuat diri kita bernilai?

Bagaimana orang menilai kita tergantung dari bagaimana kita menilai diri kita, bukan sebaliknya!! Jangan sampai kita menilai diri kita berdasarkan bagaimana orang lain menilai kita.

Bagaimana kita menilai diri kita tergantung dari apa nilai-nilai yang kita percayai. Anda tahu bahwa jujur itu baik, maka Anda akan berusaha hidup jujur, pada akhirnya kejujuran itu akan dilihat dan dinilai oleh orang lain.

Jadi… berapa hargamu?

Advertisements