Dunia nyata vs film


image

Kemarin malam saya menonton sebuah film berjudul “Last Action Hero” yang diproduksi tahun 1993 dan dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger berperan sebagai Jack Slater dan dirinya sendiri.

Film ini sepertinya ditujukan untuk anak-anak walau ceritanya tidak boleh dicerna dengan logika karena akan membingungkan. Berkisah tentang seorang anak yang menemukan tiket yang membawanya ke dalam dimensi film.

Dalam dimensi film tidak ada sutradara atau lampu-lampu, hanya kehidupan biasa yang tidak masuk akal. Anak ini, Danny, mencoba meyakinkan Jack Slater, idolanya bahwa itu adalah dunia film. Diperlihatkannya beberapa hal tidak masuk akal seperti kucing yang jadi polisi, seluruh wanita cantik yang hilir mudik (tidak ada wanita biasa), dan pistol yang tidak pernah diisi peluru tapi selalu ada pelurunya.

Intinya, Danny menunjukkan bahwa dunia film itu dunia yang tidak masuk akal. Dunia di mana kehidupan begitu mudah, di mana tokoh utama tidak akan mati hingga semua penjahat ditangkap. Namun Jack Slater mengatakan bahwa itu semua masuk akal, tidak ada yang aneh.

Cerita semakin rumit ketika tokoh jahat menemukan tiket yang membuka pintu masuk ke dunia nyata, membuat onar dan berencana mwmbunuh Arnold, pemeran Jack Slater, karena pikirnya jika Arnold mati, maka Slater juga akan mati.

Hal yang menarik perhatian saya adalah ketika Bennedict, si tokoh jahat menemukan sebuah fakta bahwa di dunia nyata, tidak ada sirine polisi yang serta merta berbunyi ketika seseorang baru melakukan kejahatan. Ia membunuh seseorang, berteriak mengumumkan apa yang baru saja dia lakukan. Namun, tidak ada sirine polisi, apalagi petugas polusi yang datang.

Hal lain adalah ketika Nick, penjaga bioskop, mengatakan bahwa dunia nyata tidak seideal fiksi, ada politisi dan masalah lain yang membuat kenyataan menjadi begitu buruk.

Rupanya film ini memuat kritik sosial, ketika dunia nyata di Amerika tidak seideal dunia fiksinya. Pesan yang sederhana namun seharusnya cukup menampar. Namun perbedaan fiksi dan nyata sendiri dapat dianalisa penyebabnya. Apakah untuk mengelabui rakyat, ataukah ini merupakan harapan bagi rakyat Amerika.

Saya menemukan perbedaan jika dibandingkan dengan sinetron Indonesia. Sinetron kita menyajikan hal yang sungguh ironis, lebih buruk dari kenyataan sehari-hari. Bukannya memberikan harapan, namun justru kesesakan. Bukannya membangkitkan semangat, tapi justru membuat kita berpikir, betapa rusaknya generasi muda bangsa,

Beberapa hari yang lalu saya bersama beberapa teman membahas K Pop. Bukan artis-artisnya, tapi bagaimana kemajuan Korea yang luar biasa, dimulai dari membangun anak mudanya, khususnya di dunia hiburan, bukan hanya masalah penampilan, tapi sikap hidup. Saat ini, Korea melesat cepat menjadi trendsetter bagi anak-anak muda.

Bagaimana dengan Indonesia?

Yaah, jika kita tidak bisa mengharapkan pemerintah, dunia pendidikan dan dunia hiburan, mari kita mulai dengan keluarga kita. Mendidik diri kita sendiri, anak-anak kita, anak-anak didik kita untuk menjadi harapan bagi kemajuan bangsa.

Advertisements