Runaway dog


Saya pernah menceritakan mengenai dua ekor anak anjing mini pomeranian yang diberi oleh seorang teman ke kantor kami tahun yang lalu, bukan? Filip yang kemudian diurus oleh nenek saya, dan San2 yang diurus oleh anak teman saya.

image
Filip dan San2 main bareng

Saat itu saya ceritakan perbedaan karakter kedua anjing ini. Filip yang memiliki kehidupan lebih teratur, tahu bagaimana mendisiplin dirinya sebelum dimarahi, tidur di kandangnya sendiri, tidak mau diajak jalan-jalan keluar (hanya sebatas halaman luar pagar, lalu masuk lagi), langsung mogok begitu melihat rantai / tali leher, gemetaran jika naik kendaraan.

San2 yang aktif, senang sekali melihat tali leher (karena artinya ia akan diajak jalan-jalan), tidur di mana saja, tidak suka kandang, tidak merasa bersalah jika pipis sembarangan, bisa diajak naik motor (duduk diam saat dibonceng) atau mobil.

Dua minggu belakangan, San2 berada di kantor kami. Budaya hidupnya sedikit berubah, dari anjing yang suka diajak main anak-anak menjadi anjing  penjaga kantor yang dihuni seorang wanita muda dan remaja putri.

Tadi pagi, teman saya mampir ke kantor pk.6 untik mengambil sesuatu sementara saya dan murid saya masih berada di lt.2. Entah bagaimana ceritanya, pukul 7 kantor kami diketok oleh petugas kebersihan yang mengatakan bahwa anjing kami lepas. Sepertinya teman saya lupa menutup kembali pintu kantor.

Menurutnya, sudah satu jam anjing itu hilir mudik ga karuan di depan kantor kami. Sepertinya, San2 memang tidak berencana untuk kabur. Karena jika dia memang berencana kabur, tentu dia sudah sampai ke jalan raya utama Soekarno Hatta dalam waktu 1 jam.

Murid saya kemudian berusaha mengejar San2, tapi tidak berhasil karena San2 justru lari semakin jauh. Karena saya pikir San2 lebih sering bersama saya, maka saya putuskan saya saja yang mengejar dan murid saya menjaga kantor.

Ketika saya mengejar dengan berjalan sambil memanggil namanya, San2 berlari makin jauh, mengendus2, melihat pada saya kemudian berlari lagi. Saya panggil lagi, dia berbalik melihat saya seolah menantang ingin dikejar.

Setelah perburuan yang cukup sulit dan semua ide saya keluarkan (percaya tidak, saya pura2 makan daun dan menyodorkannya pada San2. Dia hanya mendekat sebentar kemudian melihat saya, dan lari lagi), akhirnya saya putuskan untuk berlari. Tapi kali ini saya tidak berlari mengejar anjing itu, saya berlari saja. Saat itu saya pikir, “kau ingin lari, baik, mari kita lari bersama).

Hal yang mengagumkan adalah, dia kemudian menghampiri saya dan berlari di samping saya, kegirangan. Dia bisa berlari lebih cepat dari saya, tapi dia berlari di samping saya. Saat saya kelelahan dan memutuskan berhenti sebentar mengambil nafas (karena kami sudah cukup jauh saat itu), dia melihat saya, ikut berhenti dan main sendiri di rumput.

Saat saya berlari lagi, dia ikut berlari di samping saya, sampai ketika saya masuk kantor kelelahan, dia ikut masuk kantor, juga kelelahan…

Sebagai anak dan murid, seringkali kelakuan kita seperti anjing ini. Tapi hebatnya anjing, dia tahu tuannya, namun manusia sering lupa. Hebatnya anjing dia ingin main bersama tuannya, sedang kita malah terus berlari menjauhi tuan kita, saat kita bosan dengan aturan yang ada.

Saya belajar banyak mengenai sikap murid dengan mengamati anjing. Melihat bagaimana anjing bersikap pada pemiliknya….kita pantas malu!!!

Advertisements