Saya pernah menuliskan di twitter mengenai bagaimana TV kita saat ini mulai gila-gilaan memberikan sensornya. Sepertinya ada banyak pegawai baru di bagian sensor khusus untuk menyensor bagian-bagian yang semestinya tidak perlu disensor (dengan cara memburamkannya). Bagian yang paling banyak disensor adalah rokok dan belahan dada wanita.

Saya tidak habis pikir mengapa mereka perlu menyensor rokok sementara iklan rokok terus ditayangkan. Saya tidak mengerti mengapa mereka menyensor belahan dada wanita sementara berita mengenai perkosaan oleh anak muda (dan juga anak-anak) terus bertambah (dan ditayangkan). Saya tidak habis pikir mengapa TV kita tidak pernah menayangkan iklan 3 menitan yang membahas tentang moral dan karakter. Atau 1 menit saja seperti contoh di bawah ini, apakah sulit?

Saya baru menemukan jawabannya ketika membaca berita mengenai apa yang dilakukan TV Iran di Harian Jogja Online ini. Bagaimana TV Iran harus melakukan edit pada baju yang dikenakan Ibu Negara Amerika Serikat saat dia mengumumkan “Argo” sebagai peraih penghargaan Film Terbaik lewat video dari Gedung Putih.

Pendapat saya? Ini konyol. Satu-satunya alasan yang bisa saya temukan dari sensor gila-gilaan ini adalah agar para pria tidak “terbit birahinya” saat melihat belahan dada atau bagian tubuh wanita lain yang terbuka. Pertanyaan saya, apakah sekotor itu pikiran pria iran hingga melihat pakaian Michelle Obama seperti itu saja akan langsung memiliki nafsu yang tidak sehat?

Apakah sekotor itu pikiran pria Indonesia sehingga lembaga sensor perlu bekerja sekeras itu. Hal lucu yang saya temukan adalah di tayangan Opera Van Java kemarin yang mendatangkan bintang tamu Diah Permatasari yang suka menggunakan pakaian buka-bukaan. Terlihat sekali Sule merasa canggung (mungkin takut tayangannya akan dibanned) dan mengingatkan berkali-kali agar Diah menutupi bagian dadanya dengan selendang.

Apakah sekotor itu pikiran pria Indonesia?

Mengapa perkosaan lebih banyak terjadi di negara di mana wanitanya menutup auratnya? (India, Iran, Arab Saudi) daripada di negara-negara seperti Eropa dan Amerika?

Saya bukan termasuk wanita yang suka pakaian buka-bukaan, namun bagi saya pakaian buka-bukaan bukanlah pemicu perkosaan. Anda salah kalau mengira permasalahannya terletak pada pakaian wanitanya. Permasalahannya terletak pada kurangnya pendidikan moral pada bangsa ini. Permasalahannya terletak pada kurang berperannya orangtua dalam pendidikan moral bangsa ini. Jika Anda mendengar kasus anak  SD memperkosa temannya, apa yang muncul di benak Anda pertama kali? Apakah karena temannya memakai pakaian minim? Tidak!!! Ini karena orangtua dan guru tidak menanamkan moral yang baik.

Bagaimana dengan tayangan OVJ yang sarat kekerasan (walaupun ditulis “tayangan ini hanya akting”) dan tayangan lain yang memicu kekurangajaran anak pada orang yang lebih tua (seperti anak yang – walau main-main – menoyor kepala pembantu, dll). Bukankah ini JAUH lebih merusak daripada sekedar rokok dan belahan dada?

Mengapa memilih untuk menutup belahan dada dan bukannya mengajar masyarakat (khususnya anak) mengenai pengendalian diri? Mengapa memilih untuk menutup rokok dan bukannya mengajar masyarakat (khususnya anak) mengenai hidup sehat?

Jadi menurut saya, daripada mengurusi sensor bagian-bagian yang sebenarnya tidak perlu disensor, lebih baik jika Komisi Penyiaran atau Lembaga Sensor atau siapapun mulai memikirkan tayangan komersial / iklan yang mendidik, dan membangun karakter bangsa.

Advertisements