Murid saya pernah bercerita pada saya tentang kekesalannya suatu kali. Ceritanya, ia sedang membeli air minum galon ke mini market depan komplek dengan menggunakan motor. Karena murid saya ini masih remaja, dia tidak berani (mungkin juga tidak terpikir) untuk meminta tolong petugas mini market mengantar galon ke motor.

Beda dengan jika saya yang membeli, saya akan berkata pada penjaga mini market, “mas, tolong bawa ya ke motor / mobil”. Mungkin karena faktor usia, atau ingin memberi pelayanan terbaik, saya tidak pernah menerima jawaban tidak.

Nah, murid saya (perempuan) ini membawa sendiri galonnya ke motor yang ketika distarter dia menemukan bahwa motornya harus distarter manual. Jadi, dia harus menurunkan galon itu dari motornya dan menstarter dengan kaki, kemudian setelahnya menaikkan lagi ke motor.

Selama peristiwa yang menjengkelkan itu, murid saya berkata ia ditonton oleh tukang parkir yang sama sekali tidak menawarkan bantuan untuk mengangkatkan galon yang berat itu.

Ketika ia menceritakan pada saya hal ini, saya cuma menjawab bahwa inisiatif memang hal yang sulit ditemukan pada orang rata-rata. Saya katakan jika ia ingin dilihat pintar, maka ia tidak boleh meniru tukang parkir tadi. Ia harus memiliki inisiatif, terutama dalam membantu orang lain.

Esoknya, saya ceritakan pada teman saya mengenai keluhan murid saya. Teman saya melihatnya dari sudut pandang berbeda. Katanya, “coba kalau orang yang kesulitan kaya, pasti tukang parkir itu langsung nawarin bantuan. Abeth itu baru bakal ditolong sama orang kaya, itu pun mungkin kalau motornya mogok”

Ketika saya meminta penjelasannya dia katakan bahwa memang kecenderungan “orang  rata-rata” adalah memilih siapa yang akan dibantunya, bukan karena tulus, tapi karena mengharap imbalan. Sedangkan orang kaya yang memberi bantuan kecil dengan sukarela, jarang sekali.

Seorang teman yang lain pernah bercerita pengalamannya ketika menginap di salah satu hotel. Dia berdua dengan temannya ingin mempraktekkan kekuatan uang tip. Ia dan temannya masing-masing menyiapkan lembaran 5000an sebanyak 100 ribu. Kemudian membagikannya dengan royal pada siapapun yang membantu mereka.

Petugas yang membukakan pintu mobil, mendapat 5000 x 2, petugas yang jaga di pintu masuk 5000 x 2, petugas yang jaga pintu lift mendapat 5000 x 2, room boy mendapat 5000 x 2, dst. Alhasil mereka menjadi syekh dalam 2 malam. Para petugas itu bahkan bisa meloloskan mereka masuk ke beberapa tempat dengan gratis.

Saya pribadi speechless mendengar mental bangsa kita yang seperti ini. Sekali lagi, seperti juga apa yang pernah saya sebutkan di tulisan saya sebelumnya, satu-satunya cara mengubah bangsa ini adalah dengan memulainya dari diri kita dan mengajarnya pada anak kita. Ketika bertemu orang yang membutuhkan bantuan, berinisiatiflah!!! Budayakan inisiatif dalam rumah tangga kita, ingatkan anak-anak kita untuk menolong sehingga akhirnya mereka terbiasa menawarkan bantuan.

Mari mulai hari ini…. untuk Indonesia yang lebih baik!

Advertisements