Ada satu pernyataan yang dilontarkan teman saya yang membuat saya ngakak beberapa hari yang lalu. Ia mengatakan bahwa pelayanan di gereja, khususnya mimbar, seringkali lebih menyerupai training orang Farisi dibanding pelayanan yang sebenarnya. Saya tanya, kenapa dia bicara begitu. Dia menjelaskan bahwa pelayanan mimbar mendoktrinasi pelayannya untuk “terlihat baik di depan orang”. Namun kebaikan ini disalahartikan dengan sikap dibuat-buat, tersenyum seadanya, merasa diri penting, dan malah jadi enggan bergaul dengan ‘rakyat jelata’.

Saya kemudian memikirkan apa yang dia katakan, dan memutuskan untuk menuliskannya di sini, sebagai bahan pemikiran kita bersama. Apakah kita, para pelayan Tuhan telah menjadi seperti orang Farisi. Apakah kita, para koordinator pelayan Tuhan telah membuka “training orang Farisi”. Apakah kita, guru sekolah minggu, telah menjadi “trainer orang Farisi”?

Baik, sebelum kita bahas, mari kita lihat dulu kenyataan di lapangan. Saya membuat beberapa pertanyaan yang merupakan seleksi apakah kita telah menjadi (atau mengikuti training) orang Farisi atau tidak.

  1. Apakah ketika Anda melayani di mimbar, Anda merasa lebih hebat dari orang lain yang berada di bangku jemaat?
  2. Apakah Anda berjalan dengan hati-hati, tersenyum dengan hati-hati, bicara dengan hati-hati hanya untuk dilihat “baik” oleh jemaat?
  3. Apakah Anda mengartikan “tidak menjadi batu sandungan” sebagai “tidak terlihat buruk” oleh orang lain (di mana fokusnya adalah diri Anda sendiri)?
  4. Apakah Anda menyembah dengan keras, berdoa dengan khusuk , bergaya di panggung supaya terlihat baik oleh pendeta Anda atau oleh jemaat?
  5. Apakah seluruh pertimbangan Anda berpenampilan pada hari Minggu adalah supaya terlihat baik?

Jika satu atau seluruh pertanyaan di atas Anda jawab dengan “ya”, selamat Anda telah lulus training orang Farisi, atau Anda telah menjadi trainer orang Farisi yang baik.

Saya dulu pernah menulis tentang “munafik yuk” di salah satu blog saya. Tentunya kata munafik di situ tidak saya artikan sebagai “menjadi orang farisi”. Jika Anda membacanya (dan Anda pintar mengartikannya – seperti om saya yang langsung mengerti dan kemudian menjelaskannya dengan gamblang), Anda akan mengerti bahwa yang saya maksudkan dengan “munafik” dalam tulisan itu adalah “penyangkalan diri”. Anda tidak menyukai seseorang, “munafik”lah, jangan bicara kasar padanya, tetap bersikap baik padanya. Dengan kata lain, sangkallah diri Anda, lakukan apa yang seharusnya dilakukan karena pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan melakukan yang tidak baik.

Tapi tulisan saya kali ini adalah tentang munafik yang lain, yaitu sifat orang Farisi. Munafik yang tidak konsisten, hanya dilakukan beberapa jam saja seminggu dan dilakukan hanya di depan orang-orang tertentu. Bukan untuk dilihat Tuhan, namun untuk dilihat manusia.

Saya mencoba menyimpulkan ciri-ciri orang Farisi jaman sekarang dalam tiga hal berikut ini:

Merasa dirinya lebih hebat dari pada orang lain

Farisi jaman sekarang merasa bahwa kiprahnya di panggung gereja merupakan sesuatu yang membanggakan, diperoleh karena dirinya mahir, baik dalam bernyanyi maupun bermain musik. Kata pelayan mimbar kurang tepat bagi mereka karena toh mereka tidak melayani (satu-satunya alasan mereka mengatakan bahwa mereka pelayanan mungkin karena mereka bernyanyi atau bermain musik tanpa dibayar).

Mungkin lebih tepat jika disebut, “penghibur jemaat”. Mereka tahu pasti bagaimana menghibur, bagaimana memastikan rambut selalu rapi, sehingga tidak segan men-set rambut pada saat kotbah supaya terlihat cantik saat naik mimbar (atau panggung) lagi. Ya, tujuan mereka bukanlah sebagai “pembantu Tuhan” dalam membawa jemaat masuk dalam penyembahan, tapi menghibur jemaat dengan gaya dan aksi panggung mereka.

Sasaran utama: Terlihat baik di gereja

Sasaran utama Farisi jaman sekarang adalah agar terlihat baik oleh jemaat (bukan oleh Tuhan). Mereka memiliki kehidupan ganda, terlihat baik di depan jemaat, namun tidak peduli di tempat kerja. Di luar mereka bisa saja kompromi terhadap banyak hal, memaki orang, berbicara kasar, namun menjaga dengan hati-hati raut wajah dan kata-kata saat di gereja.

Para pembina remaja, apakah Anda telah menjadikan remaja yang Anda bina sebagai orang Farisi? Membolos atau lelah di hari Senin karena terlalu banyak aktivitas di hari Minggu? Apakah Anda menekankan pada mereka bahwa pelayanan di gereja jauh lebih penting daripada kehidupan sosial mereka di sekolah? Jika ya, selamat, Anda telah menjadi trainer orang Farisi.

Berfokus pada diri sendiri

Seorang Farisi melayani dengan fokus utama pada diri sendiri. Keinginan terlihat hebat, keinginan terlihat baik, keinginan diperhatikan, semua berfokus pada diri sendiri. Bahkan kata “tidak menjadi batu sandungan” pun diterjemahkan sebagai “tidak terlihat buruk”.Padahal, tidak menjadi batu sandungan seharusnya lebih dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan berarti “jangan sampai kau membuat malu Tuhanmu”. Ya, tujuan utama dari apapun yang kita lakukan adalah agar “nama Tuhan dimuliakan” dan bukan “agar kita dipuji orang”.

Tulisan saya kali ini pendek saja. Hanya sebagai bahan pemikiran kita bersama. Khususnya bagi Anda para pelayan Tuhan… Saya harap Anda tidak seperti apa yang saya gambarkan di atas. Kalaupun ya, kita bisa sama-sama belajar. Tuhan berkati!

Advertisements