mmw_critics_081508_articleBeberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan teman saya mengenai penjualan buku saya Letters From Parents.  Pembicaraan berlanjut hingga ke fungsi marketing dan produksi. Saya katakan bahwa sulit sekali bagi seorang produksi (dalam hal ini saya sebagai penulis) untuk mempromosikan diri saya secara langsung, apalagi adanya budaya “benci kesombongan” yang turun temurun dinasihatkan orangtua kita.

Sebagai seorang yang suka memproduksi (menulis dan membuat lagu), bagi saya sulit sekali untuk mempromosikan diri saya (tidak bung, saya tidak salah, bukan mempromosikan karya saya, tapi diri saya) kepada para pengguna produk saya. Saya akan jelaskan dengan contoh. Bayangkan Anda berada di tempat saya. Anda membuat lagu dan seseorang datang kepada Anda untuk meminta jasa Anda membuatkan lagu untuk dia. Hal ini akan semakin sulit jika yang datang pada Anda adalah seorang pelayan di Gereja karena semuanya akan disangkutkan pada pelayanan.

Kemudian dia bertanya, “berapa saya harus bayar untuk ini?”. Sebagai penulis lagu itu, Anda bisa saja menyebutkan sebuah angka, namun pemikiran di balik angka itu merupakan suatu proses yang sangat sulit. Masalahnya, seorang penulis atau produksi apapun memiliki suatu ego yang tak tertembus oleh marketing, khususnya saya.

Ego saya adalah mengatakan bahwa “jika saya menghasilkan sesuatu, saya yakin karya saya itu yang baik”. Ketika saya memiliki ego itu, maka ketika saya mempertimbangkan sebuah harga, maka saya akan memiliki ketakutan calon pembeli akan berkata, “kok mahal amat.” Padahal,  kita tahu pasti bahwa harga tersebut seimbang dengan hasil karya kita. Kalimat “kok mahal amat” ini sebenarnya lumrah, karena menurut hukum ekonomi (yang mustahil itu), semua pembeli pada dasarnya menginginkan mutu sebaik-baiknya dengan harga serendah-rendahnya.

Kalimat “kok mahal amat” itu akan membuat kita terdiam sesaat dan berpikir, “apakah menurutnya karya saya tidak sebagus itu? apakah dia sedang merendahkan hasil karya saya.” Hasilnya, belum apa-apa, sebagai seorang yang menghasilkan karya kita sudah bete duluan. Kita terlalu malas untuk menjelaskan baik dari segi hukum atau legal.

Apalagi, jika itu menyangkut, “saya mau pakai karya itu untuk pelayanan lho!”. Pernah satu kali, beberapa pekerja gereja datang pada saya untuk menggunakan bahan karakter yang saya gunakan. Ketika kami (saya dan teman saya yang adalah marketing) menyebutkan harga yang memang sudah disepakati oleh kami dan merupakan harga publish, mereka berkata, “kok mahal amat? gini aja, ini kan buat gereja ya… buat pelayanan lah… gimana kalau saya fotokopi aja bahannya, dipinjem sebentar.”

Posisikan diri Anda di pihak saya, apa perasaan Anda?

Belum apa-apa saya sudah bete duluan karena merasa orang tersebut tidak menghargai saya, walaupun dia mungkin menghargai karya saya karena di toh menginginkannya. Kalau sudah begitu, sulit bagi saya untuk mengangkat diri saya ke posisi yang tepat di matanya karena pada akhirnya orang-orang gereja akan mengatakan, “Greis, pengangkatan itu datangnya dari Tuhan. Ingat, Tuhan tidak pernah berhutang. Jangan main hitung-hitungan sama Tuhan. Ingat Tuhan membenci kesombongan”. Kalau sudah begitu, saya jamin Anda pun akan gigit jari. Itulah tadi kenapa di awal saya mengatakan sulit bagi saya mempromosikan diri saya, dan bukan karya saya.

Seorang marketing akan bisa menengahi ini dengan mempromosikan si pembuat karya dalam porsi yang tepat, tidak terkesan sombong namun mengena ke sasaran. Itulah kurang lebih yang saya bicarakan dengan teman saya yang adalah marketing produk-produk yang kami hasilkan di Menara Character Building.

Selanjutnya pembicaraan kami berkembang ketika teman saya mengatakan “pada dasarnya, seorang penghasil karya itu takut jika karyanya dinilai,” yang kemudian saya jawab dengan, “mungkin, mungkin itu sebabnya. Tapi masalahnya kebanyakan orang menilai karya saya bukan sebagai seorang kritikus handal yang menilai secara obyektif, logis dan ilmiah. Kebanyakan mereka menilai sesuatu karena kebodohan mereka.” (baik saya akui bahwa saya terdengar arogan dan sombong).

Saya membagi penilai karya menjadi beberapa golongan. Ada penonton, ada kritikus, dan ada juri. Penonton biasanya merupakan penikmat dari karya. Penonton yang baik adalah mereka yang menikmati karya, bertanya jika tidak mengerti dan bukannya sok tahu dalam menilai, karena penonton biasanya bukan ahlinya.

Namun, penilaian terburuk biasanya datang dari penonton yang tidak tahu apa-apa tapi sok tahu. Ketika mereka mengatakan hal-hal yang aneh (sebenarnya ingin menggunakan kata tol**, tapi mungkin terlalu kasar), seperti ketika seorang guru sekolah minggu mengatakan “kok judulnya remah-remah untuk anjing sih, ga alkitabiah banget”. Dalam hati saya berkata “hello….lu guru sekolah minggu pernah baca alkitab ga”. Dengan kata lain, saya mengelompokkan mereka yang “dangkal” ke dalam kategori penonton yang sok tahu.

Golongan kedua adalah kritikus. Kritikus adalah mereka yang merasa ahli, memberikan kritik yang memang sesuai dengan bidang mereka namun biasanya mereka tidak menyertakan solusi setelah kritik mereka dan kritikan tersebut datang terlambat (tidak ada yang bisa diperbaiki lagi). Termasuk golongan ini adalah mereka yang memberi komentar “desainnya kok kurang bagus ya” tanpa memberi masukan bagaimana desain yang bagus. Motivasi kritikus biasanya beraneka ragam, kebanyakan karena iri hati.

Golongan ketiga adalah pelatih (Coacher). Mereka yang memberikan masukan dengan saran yang tepat. Mereka yang memberi penilaian karena ingin yang terbaik. Mungkin sekali waktu mereka menghujamkan kritikan tajam, tapi dengan motivasi yang baik, disertai saran perbaikan.

Di sekitar kita ada banyak penonton dan kritikus namun sedikit sekali pelatih. Beberapa penghasil karya mungkin seringkali merasa depresi dengan apa yang dilakukan penonton dan kritikus. Lewat tulisan ini saya mau memberitahu sesuatu. Beberapa hal yang harus kita ingat ketika kita menghasilkan karya adalah:

  1. Berikan kemampuan terbaik Anda ketika menghasilkan karya. Jangan memberikan setengah energi, berikan full energi ketika mengerjakannya. Hanya ini yang dapat membuat Anda puas dan menghargai hasil karya Anda sendiri.
  2. Jangan puas dengan apa yang ada di otak Anda saja. Seringkali kita memang harus duduk diam dan berpikir, namun kita juga perlu belajar dan mencari referensi keluar.
  3. Lemparkan karya Anda pada komunitas yang tepat. Sulit sekali kita mengharap yang terbaik dari komunitas yang salah.
  4. Hal yang terpenting, berdoalah. Ketika Anda yakin bahwa Tuhan menyertai Anda mengerjakan karya itu, yakinlah bahwa Tuhan juga yang akan mengantarkan karya Anda ke tangan yang tepat.

Baiklah, saya rasa untuk sementara sekian dulu tulisan saya. See you…

Advertisements