1867c5bfTulisan saya kali ini akan panjang sekali, dan serius,… Saya harap Anda dapat mengikuti sampai akhir….

Rupanya dunia selebritis di Indonesia ini sudah kehabisan bahan gunjingan yang menarik. Tiap hari tak habis-habis kasus eyang Subur dibahas. Babak baru demi babak baru selalu ditampilkan.

Saya baru saja melihat bagaimana akhirnya Eyang Subur difatwa “menyimpang” karena memiliki isteri lebih dari empat dan “melakukan praktek perdukunan”, karena melakukan apa yang tidak sesuai dengan akidah islam, agama mayoritas di Indonesia.

Bukan kasus ini yang hendak saya bicarakan di sini. Tapi apa yang baru saja saya lihat, dan pembicaraan siang tadi dengan seorang teman memberikan saya sedikit “pencerahan” akan apa yang selama ini tidak saya mengerti.

Mudah-mudahan apa yang akan saya sampaikan di sini tidak “menyimpang”. Jika ya, saya terbuka untuk masukan.

Baik, mari kita mulai…

Eyang Subur yang ditentang habis-habisan oleh Adi Bing Slamet ternyata memiliki cukup banyak pendukung, khususnya dari kalangan pelawak.

Ketika diwawancara, semua orang pun dapat menyimpulkan bahwa para pelawak itu membela eyang Subur karena “kadung” atau terlanjur menerima sesuatu dari eyang. Tesi misalnya, menerima mobil yang menurutnya diberikan dengan ikhlas, hingga akhirnya dia membela eyang habis-habisan.

Kemudian dalam tayangan selanjutnya Ratna Listy mengaku pernah diiming-imingi hadiah, tapi tidak mau karena biasanya setelah itu wanita yang diberikan hadiah akan diundang ke rumah terus dan akan sulit menolak karena sungkan.

Tadi siang, saya membahas suatu topik yang menarik dengan teman-teman saya, mengenai “bahaya diberi”.

Memang Firman Tuhan mengatakan agar kita mengasihi orang lain, dan salah satu cara menunjukkannya adalah dengan memberi. Masalahnya, banyak orang sekarang memiliki motivasi tersembunyi dibalik memberi.

Kami membahas mengenai perusahaan besar Kraft yang tidak mengijinkan siapapun karyawannya menerima pemberian atau hadiah, baik dari customer maupun vendor.

Jika Anda berani memberi sesuatu (misalkan parcel pada hari raya), Anda akan menerima kembali parcel Anda ditambah parcel dari Kraft yang harganya jauh lebih mahal dari paket yang Anda kirimkan disertai permohonan maaf karena tidak dapat menerima parcel Anda.

Mengapa?

Untuk menghindari apa yang Ratna Listy katakan, yaitu perasaan sungkan jika suatu saat menolak permohonan dari si pemberi.

Sorry to say (saya benar-benar minta maaf karena menulis ini), hal ini terjadi hampir di setiap lini organisasi di bangsa ini, termasuk di institusi agama.

Jemaat memberi sesuatu pada majelis atau pendeta. Suatu saat ketika jemaat ini membutuhkan sesuatu yang juga mungkin dibutuhkan jemaat yang lain, majelis atau pendeta akan memprioritaskannya, (biasanya) bukan karena kewajiban, tapi karena “tidak enak” sudah pernah diberi.

Beberapa dari kita mungkin berkata bahwa ini adalah gejala orang modern. Tahukah Anda, hal ini sudah terjadi sejak jaman Yesus. Tidak percaya?

Ingatkah Anda akan perumpamaan Yesus mengenai “bendahara yang tidak jujur?”. Bertahun-tahun saya mencoba memahami makna dari perumpamaan ini dan baru td siang tiba-tiba saya mengingat perumpamaan ini dan memahaminya.

Perumpamaan ini bercerita mengenai seorang bendahara yang dipecat tuannya karena tidak jujur. Tuannya menemukan bahwa hartanya sebagian besar hilang entah kemana, dan diduga dihamburkan (atau bahasa sekarang “dikorupsi”) oleh bendahara ini.

Ketika mengetahui dirinya dipecat, bendahara ini menyusun rencana. Dia tidak mau jadi petani, apalagi pengemis. Dia butuh orang yang akan menampungnya.

Jadi, sementara orang masih mengenal dia sebagai bendahara tuan yang kaya, dia pergi ke mereka yang berhutang pada tuannya, sambil membawa surat hutang mereka.

Disusunlah suatu rencana persekongkolan yang licik. Diberikannya kepada mereka surat hutang baru agar diisi dengan hutang yang lebih sedikit.

Bendahara (atau mantan bendahara) ini berharap, orang-orang yang merasa diuntungkan olehnya ini akan merasa tidak enak dan ketika ia meminta bantuan mereka akan memberikannya.

Akhir cerita ini? Sang tuan memuji kecerdikan bendaharanya.

Apa kesimpulan Yesus untuk perumpamaan ini? Saya memilih terjemahan bahasa Inggris dari Biblegate (Lukas 16:8-9)

For the people of this world are more shrewd in dealing with their own kind than are the people of the light.

I tell you, use worldly wealth to gain friends for yourselves, so that when it is gone, you will be welcomed into eternal dwellings

(Karena orang-orang duniawi lebih cerdik dalam berurusan dengan harta milik mereka daripada anak-anak terang.

Aku beritahu padamu, gunakan harta duniawi untuk mendapat teman, sehingga ketika harta itu hilang, kau akan diterima dalam kediaman yang abadi)

Sulit dimengerti bukan?

Jika kita kombinasikan semua cerita saya sebelumnya, maka kita bisa simpulkan:

Orang dunia tahu bagaimana caranya menggunakan uangnya untuk kepentingannya (lihat saja eyang Subur, sibuk bagi-bagi harta dan akibatnya ia memiliki banyak teman artis yang membelanya)

Anak terang, entah sibuk dengan masalah ketulusan atau begitu mengasihi hartanya, tidak secerdik orang dunia.

Apa kemudian saran Yesus? Gunakan hartamu untuk menjalin hubungan dengan orang lain, jangan hitung untung dan rugi. Agar suatu saat mereka dapat menerima kita dengan baik…

Dengan kata lain, hubungan lebih penting dari uang!

Ayat selanjutnya menyeimbangkan keanehan saran ini:  tetaplah dapat dipercaya dan hidup dalam kesetiaan.(Ayat 10-12)

Ayat kuncinya adalah ini: Seorang hamba tidak dapat mengabdi pada dua tuan. (Ayat 13)

Jika kau mengabdi pada uang, kau tak dapat mengabdi pada Tuhan.

Kesimpulannya adalah, uang itu hanya alat untuk kepentingan kita. Pertanyaannya adalah apakah kepentingan kita sejalan dengan kepentingan Tuhan atau tidak.

Terakhir… Hal yang menurut saya paling lucu… Ternyata semua perbincangan mengenai mamon ini yang terutama ditujukan Tuhan Yesus pada ahli farisi, “hamba-hamba uang itu”.

Wah, wah, jika kita mengaku hamba Tuhan, ini saatnya kita introspeksi, apakah kita seperti orang-orang Farisi yang adalah “hamba-hamba uang itu”.

Advertisements