Jaga diri itu…


images (2)Beberapa minggu ini saya sedang promo buku ke beberapa persekutuan, gereja dan komsel. Dalam setiap kesempatan, saya menekankan bahwa orangtua adalah pahlawan yang bertanggungjawab atas tiap anak panah yang ia bidikkan.

Saya tidak akan bahas itu secara persis di sini, tapi saya akan membahas masalah bagaimana orangtua harus mempersiapkan anak-anaknya dengan baik sebelum melepasnya. Dengan kata lain, pada saat orangtua melepas anak-anak mereka, orangtua yakin bahwa anak mereka sudah bisa jaga diri.

Tepatnya, saya akan membahas perihal “jaga diri”. Kita seringkali mendengar orangtua melepas anaknya yang akan pergi dengan kata-kata “jaga diri baik-baik ya”. Apa sebenarnya yang dimaksud jaga diri itu..?

Saat seseorang masih bayi, dia tidak bisa mempertahankan hidupnya sendiri. Dia hanya bisa menangis saat merasa lapar, takut, terancam, dll. Namun perasaan aman, perlindungan dan nutrisi disediakan oleh orangtuanya, Sang pahlawan dalam hidupnya.

Saat bayi bertumbuh menjadi seorang anak, dia tetap membutuhkan orang dewasa untuk menjaganya. Walau ada anak yang ditinggalkan bisa bertahan hidup dengan cara yang ajaib.

Saat seseorang tumbuh remaja, dia mulai bisa menjaga dirinya sendiri, tidak perlu dipaksa untuk makan, tidak perlu disuapi, bisa berhati-hati saat menyeberang, bisa pulang sekolah sendiri.

Jaga diri yang pertama berarti “berusaha agar tetap hidup“; artinya, menjaga agar pencernaan tubuh tetap bekerja dan menutrisi tubuh, dengan makanan bergizi, tidak makan sembarangan, menjaga kebersihan pribadi dan jaga stamina tubuh.

Ah, tapi bukankah anjing liar pun bisa menjaga dirinya tetap hidup?

Hal kedua dari menjaga diri adalah “berusaha agar selamat“, artinya menjaga diri dari bahaya yang mengancam, mulai dari berhati-hati saat berkendaraan atau berjalan kaki, berhati-hati dalam berpenampilan dan membawa barang (agar tidak dijambret), dll.

Namun berusaha agar tetap hidup dan selamat bukan satu-satunya makna dari menjaga diri, bahkan kucing liar pun menoleh ke kiri kanan saat menyeberang.

Hal ketiga dari menjaga diri adalah “berusaha menjaga relasi yang baik dengan orang lain“. Banyak orangtua lupa mengajar ini. Mereka sibuk dengan bekal makanan dan nasihat agar hati-hati dengan tas atau bawaan, dan mengabaikan masalah relasi dengan orang lain.

Relasi yang baik dengan orang lain adalah hal yang sangat penting. Menyapa, tersenyum, membantu orang lain, tidak menyulut pertengkaran adalah contoh dari menjaga relasi dengan orang lain. Seringkali, ini jadi masalah utama anak-anak muda saat ini.

Ketidak mampuan menjaga relasi akan sangat merugikan seseorang, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja. Jadi, jika Anda adalah orangtua, jangan lupa untuk menyiapkan anak-anak Anda untuk dapat berelasi yang baik dengan orang lain.

Namun sekali lagi, bahkan orangutan pun mengerti hal ini, mereka hidup rukun satu dengan yang lain dalam kelompoknya.

Hal keempat adalah “berusaha mematuhi aturan, etika, nilai, dan norma dalam masyarakat“. Bagaimana pendapat Anda jika melihat seorang mengangkat kakinya ke kursi di tempat umum? Atau jika melihat seseorang parkir sembarangan menghalangi jalan?

Ini adalah hal pertama yang membedakan manusia dengan mahluk lain. Hal pertama yang membutuhkan otak manusia selain hanya insting bertahan hidup dan berelasi yang juga dimiliki mamalia lain.

Hal ini juga mencakup perasaan empati dan sungkan yang lebih dari sekedar berelasi. Empati atau sungkan membuat seorang manusia beradab tidak merokok di tempat umum karena itu bisa saja mengganggu orang lain. Empati atau sungkan membuat eeorang manusia beradab ikut mengantri dan tidak menyela di tengah-tengah.

Saya sering mengatakan pada murid dan teman-teman saya. Syarat manusia disebut manusia adalah tau sungkan dan bisa berempati.Namun hal ini tidak bisa diajarkan secara instan, perlu proses mengasah kepekaan dan pembiasaan sejak kecil.

Tugas orangtualah mengasah kepekaan ini. Namun pertanyaan besarnya, apakah orangtua juga memilki rasa sungkan, empati ini? Apakah orangtua mengerti makna etika, aturan, nilai dan norma?

Hal kelima sekaligus yang terpenting adalah “berusaha menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta“. Monyet mungkin bisa meniru orang berdoa, tapi hanya manusia yang benar-benar bisa berhubungan dengan Penciptanya. Hanya manusia yang diciptakan dengan nafas dari Pencipta.

Hal yang unik adalah, kebanyakan orangtua hanya mewariskan agama pada anak-anaknya, tanpa mengajar mereka tentang Pribadi yang disembah itu. Akibatnya, anak-anak menganggap bahwa berhubungan dengan Pencipta hanya sekedar pergi ke tempat ibadah, berdoa sebelum makan, berdoa minta berkat ini dan itu…

Berhubungan dengan Pencipta artinya mengetahui apa yang Ia inginkan, berbicara denganNya dengan cara yang benar, percaya sepenuhnya dan melibatkan Dia dalam setiap aktivitas dan perencanaan kita.

Nah, apakah orangtua yang mengatakan pada anak-anaknya “jaga diri baik-baik” saat melepas mereka mengerti bahwa itu berarti, berusahalah tetap hidup, selamat, jaga relasi yang baik dengan orang lain, taati aturan, dan yang terpenting, tetap berhubungan dengan Pencipta.

Orangtua, Anda pahlawannya!

Advertisements