Kemarin saya melihat berita di TV One tentang topik yang menarik. Topik yang pernah saya bicarakan dengan seorang teman juga sebelumnya mengenai “Bolehkah seorang siswa yang hamil (atau menikah) ikut ujian nasional”. Menurut narasumber di acara tersebut, tidak ada larangan dalam undang-undang yang mengatur bahwa pelajar yang sudah menikah atau hamil tidak boleh ikut ujian. Namun kenyataannya beberapa sekolah menetapkan aturan bahwa siswa yang menikah atau hamil tidak diperkenankan ikut ujian.

Saat itu diundang bintang tamu, seorang siswa yang sudah menikah. Saya tidak tahu apakah siswa ini menikah karena dipaksa orangtuanya melalui perjodohan ala sinetron atau karena bertanggungjawab karena sudah menghamili pacarnya (sedikit sekali kemungkinan dia menikah karena menghindari berbuat dosa di usia SMA). Siswa tersebut tidak diperkenankan mengikuti ujian oleh sekolah karena dia sudah menikah.

Menurut saya, ini memang suatu kekonyolan. Ayolah!! Katakan saya seorang siswi melakukan kelalaian hingga hamil. Saya yakin dia tidak akan bersukacita dan berpesta pora merayakan masa depannya karena kehamilannya di masa remaja ini. Seorang siswi yang memang ingin menikah atau ingin punya anak biasanya akan dengan sadar mengundurkan diri dari sekolah dan memutuskan untuk menikah (ini benar! Silahkan datang ke daerah, beberapa remaja puteri yang menikah di usia remaja biasanya dengan sadar akan mengundurkan diri dari sekolah)

Mari kita lihat dari kacamata ini: seorang siswi jaman sekarang yang sampai hamil biasanya adalah mereka yang polos dan lugu. Siswi gaul jaman sekarang tentunya sudah paham benar bagaimana caranya menghindari kehamilan. Mereka yang sampai hamil adalah mereka yang tidak paham mengenai hal ini atau begitu lugu sehingga dapat mengikuti emosi sesaat dan blassss….. Tuhan menaruh jiwa baru dalam janin-nya.

Saya katakan Tuhan yang menaruhnya karena tentunya semua setuju bahwa kehamilan terjadi karena ijin Tuhan. Begitu banyak pasangan yang sudah menikah, jika Tuhan tidak mengijinkan, mereka tidak juga memiliki anak.

Baik, ketika siswi yang polos ini menyadari bahwa dia hamil, reaksi pertamanya tentunya bukannya pesta pora atau dengan sukacita menceritakan berita bahagia ini pada orangtuanya. Mereka akan merasa begitu kotor, begitu berdosa, frustrasi dan bingung “bagaimana nasib saya? bagaimana masa depan saya”.

Begitu tolol Anda kalau mengatakan “kenapa dong bisa sampai hamil” kepada siswi yang sudah TERLANJUR hamil. Anda mungkin bisa mencegah siswi Anda yang lain melakukan hubungan suami istri sebelum waktunya dengan mengajarkan moral yang benar pada mereka. Namun tidak ada gunanya Anda berceloteh soal moral atau menasihati seorang siswi yang sudah TERLANJUR hamil. Percayalah, mereka sudah cukup merasa bersalah.

Belum lagi jika mereka merasa tertekan saat hamil, terpikirkah oleh Anda apa dampak psikologisnya bagi si jabang bayi? Hey… Anda tengah melibatkan seorang anak dalam masalah yang rumit, dan ini sama sekali tidak baik!

Ada dua kemungkinan “pelaku” dalam kasus kehamilan remaja ini. Teman pria yang juga naif dan polos, atau seorang pria lihai dari luar sekolah yang memang memanfaatkan siswi ini untuk kesenangan semata. Jika yang melakukannya adalah teman pria yang naif dan polos, biasanya mereka akan bertanggungjawab dan menikahi pacarnya yang hamil ini. Jika yang melakukannya adalah pria lihai hidung belang, maka biasanya mereka akan menghilang entah ke mana.

Katakanlah yang melakukannya adalah teman pria yang mau bertanggungjawab dan menikahi pacarnya, bukankah ini pun patut kita beri apresiasi? Masakan kemudian sekolah melarangnya ikut UN dan menghancurkan masa depan sebuah keluarga baru? Bayangkan suami istri remaja yang baru membina rumah tangga. Sang suami butuh kerja untuk menghidupi istri dan anak mereka kelak. DIA BUTUH IJAZAH MINIMAL SMA, dan sekolah dengan seenaknya melarangnya ikut UN??

Atau katakan yang melakukannya pria hidung belang. Bukankah sudah cukup siswi ini merasa frustrasi, kotor, sendirian dan ditinggalkan? Apakah perlu sekolah menambah kemalangannya dengan melarangnya ikut UN? Mungkin siswi ini akan diusir dari rumah atau orangtuanya tidak akan peduli, dia butuh kerja dan untuk kerja DIA BUTUH IJAZAH MINIMAL SMA, dan sekolah melarangnya ikut UN?

Bukankah“Setiap anak di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan, termasuk hak mendapatkan nilai dan mengikuti ujian.”?

Ironis sekali, sementara Muh. Nuh menteri pendidikan mengatakan bahwa siswi hamil tetap diijinkan untuk ikut ujian, bahkan dalam ruangan yang sama dengan siswi lain, seorang Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara menghimbau agar siswi hamil ikut ujian Paket C saja.

Jadi, sebagian Anda mungkin berkata kehamilan ini akan jadi contoh buruk bagi teman-temannya. Mari kita gunakan logika. Katakanlah Anda seorang siswi SMA. Kemudian Anda melihat seorang teman yang hamil, merasa malu, frustrasi dan bingung. Apakah kemudian dalam hati atau pikiran Anda akan berkata, “Ah, kalau ternyata siswi hamil boleh ujian, sebaiknya saya hamil juga.” ?? TIDAK!! Sebenarnya kehamilan siswi ini cukup menjadi pelajaran bagi yang lain.

Saya tidak membenarkan dua orang pelajar kebablasan sampai si wanita hamil. Apa yang saya maksud di sini adalah “jika itu sudah terlanjur terjadi, apa yang harus kita lakukan?”

Kemudian saya jadi teringat peraturan sebagian besar gereja yang tidak mau memberkati pasangan yang menikah dengan kondisi wanita sudah hamil. Saya selalu bertanya “KENAPA?” Kemudian dijawab, “mereka didoakan kok…. tapi tidak diberkati”

INI KONYOL!!

Ijinkan saya bertanya “memangnya berkat datang dari siapa?” Apakah dengan menumpangkan tangan dan memimpin sakramen pernikahan kudus, maka seorang pendeta berhak mengklaim bahwa dirinya yang memberikan berkat bagi pasangan ini? TIDAK!

Berkat datangnya dari Tuhan. Kalau perlu berpuasalah Anda, dan bertanyalah pada Tuhan, apakah DIA masih akan memberkati pasangan yang melakukan kelalaian sampai hamil kemudian memutuskan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikah?

Di salah satu gereja bahkan menetapkan aturan bahwa pendeta baru akan “memberkati” jika si pasangan ini mengakui perbuatan mereka di hadapan seluruh jemaat dan meminta maaf. WHAT?? Apakah tertulis seperti itu dalam Alkitab, bapak pendeta yang terhormat?

Bukankah justru mereka yang sudah hamil sebelum nikah membutuhkan perlindungan, pengampunan dan berkat lebih?

Tunggu dulu!! Saya tidak sedang berkampanye mengenai pergaulan bebas. Saya sangat setuju dan mendukung pendidikan moral dan Character Building yang kokoh untuk anak-anak kita sehingga mereka tidak sampai kebablasan (tidak cukup sekedar tidak hamil dengan maraknya informasi mengenai bagaimana menghindari kehamilan).

Saya bahkan menghimbau agar orangtua dan guru menanamkan sejak dini pada anak dan anak didiknya mengenai bagaimana mereka harus melihat tubuh mereka sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan pada Tuhan.

Namun sekali lagi, saya tidak menyoroti tindakan pencegahan, saya sedang membicarakan tindakan penanganan. Ketika seorang remaja putri hamil di luar nikah, apakah yang dilakukan gereja atau komisi remaja? Merangkulnya atau mengucilkannya?

Ketika sepasang manusia melakukan kesalahan dengan berhubungan sebelum menikah yang mengakibatkan si wanita hamil, apa yang dilakukan gereja, menolak melakukan konseling dan menolak memberkatinya dengan alasan “hanya didoakan saja” walau mereka sebenarnya juga bukan si pemberi berkat? Atau justru memberikan konseling lebih intens, membimbing pasangan ini dan memintakan pengampunan dan berkat Tuhan turun atas keluarga baru ini?

Ini memang pemikiran yang cukup berat karena menyangkut pola pikir lama dan moral yang kita pikir kita miliki. Namun, tidak ada salahnya kita memikirkannya sekaligus menganalisa, apakah kita teman, guru dan orangtua yang baik bagi mereka yang terlanjur melakukan kesalahan?

Advertisements