Puja saya!!


Setiap orang lahir membawa sesuatu yang kemudian dibawanya sampai menjelang kematiannya, yaitu dirinya sendiri. Tidak heran apa yang sanggup dilakukan manusia sejak bayi adalah memikirkan dirinya: menangis saat lapar, menangis saat terganggu, menangis saat ingin digendong…

Saat anak-anak, kita sebagai manusia makin menunjukkan sikap mengasihi diri sendiri: memilih yang tetbaik untuk diri sendiri, berbohong untuk menghindari hukuman, merajuk atau menangis ketika mendapat jawaban tidak.

Memasuki usia dewasa, manusia tidak hanya mengasihi dirinya, namun mulai menuntut orang lain menghargainya. Bahkan bagi sebagian orang dihargai orang lain saja rupanya tidak cukup, mereka ingin dihormati, bahkan dipuja oleh orang lain.

Gejala ini biasanya terlihat dalam diri pemimpin tunggal dalam suatu organisasi, dan tidak jarang menyerang pemuka agama. Sungguh ironis bukan? Seorang yang mengaku HAMBA Tuhan pada akhirnya terjebak dalam suatu posisi di mana ia berharap (bahkan menuntut) jemaat yang dipimpinnya mengidolakan bahkan memujanya (tanpa disadari) melebihi Tuhan yang ia layani.

Saya mengada-ada? Tidak. Sebut saja beberapa orang yang mengaku guru spiritual yang akhirnya membuat barisan pembela dirinya seperti eyang Subur. Juga beberapa pemuka aliran kepercayaan yang akhirnya ditangkap seperti Lia Eden.

image

Kemarin Minggu saya dan adik saya melihat hal seperti ini di youtube. Bukan orang yang menuntut orang memujanya, namun seorang wanita pembela seorang pendeta yang rela berpura-pura kesurupan roh nyi roro kidul untuk membenarkan dan mengangkat nama pendeta yang dia puja.

Saya rasa saya tidak perlu memberikan analisa saya di sini karena begitu banyak orang yang sudah memberi analisanya seperti di sini, di sini atau di sini.

Kurang lebih hal ini terjadi karena seorang pendeta besar yang merasa tersaingi dengan anak buahnya, mulai berusaha menjatuhkan si anak buah yang ternyata mulai menarik perhatian para jemaat.

Video konyol ini dipertontonkan dalam ibadah di seluruh Gereja Tiberias dan membuat sebagian besar jemaat justru hijrah ke gereja lain.

Setiap orang mengasihi dirinya sendiri, ini baik…. namun yang tidak boleh dilupakan adalah bukan itu perintah Tuhan, melainkan… kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dosis kasih yang sama yang kau berikan pada dirimu, berikan itu pada orang lain.

Bagi Anda yang Tuhan beri kepercayaan memimpin orang lain, ini yang harus diingat: kasihi Tuhan dengan segenap hatimu, jiwa, kekuatan, akal budi… Tak ada seorang pun yang layak mendapat perhatian jemaat atau orang yang Anda pimpin lebih daripada Tuhan.

Advertisements