Hanya puisi naif dan polos


Kemarin, saat sedang makan siang di sela-sela memberikan konsultasi di salah satu perusahaan bersama direktur dan beberapa staffnya, teman saya bertanya, “gimana pak, sudah baca bukunya?” (Direktur ini membeli buku saya “Letters from Parents”. Biasanya saya akan mendengar, “bagus bukunya” atau kata-kata pujian lain yang (mudah-mudahan tidak) diucapkan karena saya berada di situ.

Namun kali ini, rupanya bapak direktur itu tidak sadar bahwa Yoanna Greiasia yang tertera di sampul buku itu sama dengan Greissia si konsultan HRD. (Baik, saya juga mulai memikirkan korelasi antar dua profesi ini).

Bapak itu menjawab, “apa, itu mah ga ada ngajarin atau tips apa-apa untuk orang tua. Itu mah cuma kata-kata indah aja. Bagus sih kata-katanya, tapi cuma kaya puisi ya”.

Saat itu saya tidak mencoba menjelaskan, karena sejujurnya saya suka sekali dengan pendapat yang jujur dari sebanyak mungkin orang. Saya lebih suka tanggapan seperti ini daripada mereka yang mengatakan bagus namun tidak paham maknanya.

Selanjutnya teman saya kemudian menjelaskan bahwa buku itu memang ditujukan untuk orangtua agar mereka berusaha merefleksi diri dengan nasihat-nasihat yang seharusnya mereka sampaikan pada anak-anak mereka.

Pulang dari tempat itu, sekali lagi saya menyampaikan uneg-uneg saya pada teman saya mengenai, bagaimana jika buku ini tidak dipahami tujuannya dan oleh pembacanya hanya dinilai sebagai puisi, padahal bukan itu maksud saya.

Saya akan memberi contoh mengenai integritas. Di sana saya menulis seperti ini:

Jika itu hanya dibaca sekilas, maka Anda hanya akan menemukan sebuah rangkaian kata-kata indah. Namun jika Anda menganalisanya atau membicarakannya dengan teman, Anda akan tiba pada pertanyaan, “nilai seperti apa yang sudah saya tanamkan pada anak-anak saya” dan, “selama ini apa yang sudah saya siapkan untuk anak-anak saya sebagai bekal mereka dewasa” dan banyak hal lain untuk direnungkan.

Saya tidak mencoba menggurui Anda yang jauh lebih berpengalaman dalam hal mendidik anak. Saya hanya berusaha menyusunkan untuk Anda nilai-nilai kehidupan yang seharusnya dimiliki anak-anak kita.

Anak Anda sedang kecewa, dan Anda bingung mau bilang apa, padahal sepertinya kata-kata sudah bermain di otak Anda? Dalam buku ini ada bab tentang kekecewaan yang mungkin dapat membantu Anda merangkai kata.

Baik, saya lanjutkan ceritanya. Pulang dari sana, saya mampir ke rumah seorang sahabat yang hari sebelumnya merekomendasikan buku saya pada 3 orang temannya dan ketiganya membelinya.

Beliau kurang lebih seusia papa saya. Saat itu pun saya ke sana untuk mengantar buku yang dia pesan.

Dia mula-mula berkata, “saya sudah baca bukunya, selamat Greis, bukunya bagus”. Tapi saya mengharapkan komentar lebih dari seorang weberpengalaman seperti beliau. Jadi saya pasang wajah menyimak.

“Bukunya Greis banget. Dari isinya bisa kelihatan kalau Greis yang nulis”. Nah, saya mulai kurang paham di sini, jadi saya tanya, “maksudnya gimana om?”

“Naif…. polos banget. Tapi justru jadi bagus. Ga ada bumbu-bumbu kata-kata yang seperti ngajarin, yah… polos”. Saya tidak tahu harus menerimanya sebagai pujian, masukan, atau kritik.

Namun kalau saya boleh menanggapi, ya memang, dalam buku ini hidup itu sesederhana benar dan salah, hitam dan putih, panas dan dingin dan bagaimana mengajar benar dan salah, boleh tidak boleh, pada putra putri kita.

Dunia mungkin mengatakan kita naif ketika kita menolak menjadi sama dengan mereka. Dunia mungkin mengatakan kita polos ketika kita menolak melakukan sesuatu yang salah. Bahkan dunia mungkin mengatakan kita bodoh ketika menghindari “kenikmatan”.

Namun yang tetap harus kita pahami dan ajarkan pada anak-anak kita adalah, “apa yang bodoh bagi dunia, dipakai Tuhan untuk mempermalukan mereka yang berhikmat”

Well, saya tetap ingin tahu pendapat pembaca mengenai Letters from Parents. Anda yang ingin memilikinya dapat memesannya melalui sms ke 081809081533 dan akan dikirim langsung ke rumah Anda tanpa ongkos kirim….

Advertisements