Pagi tadi saya membuka facebook dan menyaksikan sebuah pemandangan mengerikan. Seorang teman mengupload foto-foto dirinya sedang melayani sebagai singer di sebuah gereja besar di kota Bandung. Lampu yang gemerlap, dekorasi yang luar biasa menjadi latar belakang yang bagus sekali sementara dirinya menyanyi dengan gaya yang “keren” . Singer lain yang tidak tahu sedang difoto menyembah dengan serius tanpa mementingkan bagaimana mereka terlihat di foto.

Saya berusaha tidak menghakimi dengan mengatakan dirinya bergaya (sayang sekali demi etika penulisan saya tidak dapat memasukkan fotonya di sini), namun itulah kesan yang saya dapat jika seseorang mengupload foto dirinya sedang menyanyi di mimbar gereja dengan kepala didangahkan. Intinya adalah “untuk apa diupload?”. Belum lagi komentar yang masuk seperti “keren euy” atau “gaya” yang mentah-mentah diterima dengan “terimakasih” dan “siapa dulu dong”.

Baik, akan saya coba jabarkan prosesnya dengan insting detektif saya:
Skenario 1:
1. Yang bersangkutan meminta temannya mengambil gambarnya. Tentu dengan kamera yang cukup baik karena kualitas gambarnya baik
2. Yang bersangkutan meminta foto tersebut dari temannya
3. Yang bersangkutan menguploadnya di facebook.

Atau skenario 2:
1. Gereja tersebut memiliki team dokumentasi foto untuk tiap ibadah
2. Yang bersangkutan menyempatkan diri untuk datang ke bagian dokumentasi meminta fotonya
3. Yang bersangkutan menguploadnya di facebook.

Menurut saya, tidak salah mengambil gambar jika itu untuk dokumentasi pribadi atau evaluasi, tapi mengupload di media sosial akan menimbulkan tanda tanya besar “UNTUK APA?”, publikasi diri atau publikasi gereja?

Baik, katakan untuk publikasi gereja. Apakah itu cara gereja menjangkau orang? Meminta pelayannya mengupload foto-foto dengan latar belakang lighting dan dekor hebat? Apakah itu cara gereja “merebut” jemaat gereja lain?

Bukan? Apakah bukan skenario gereja? Lalu apakah berarti ini publikasi pribadi? Untuk apa? Agar terlihat hebat? Tidak? Apakah nama Tuhan akan dimuliakan dengan melihat foto itu?

Baik, apapun alasannya, melalui tulisan ini saya ingin menekankan beberapa hal:
1. Kalau Anda berada di mimbar untuk melayani pujian, itu karena Tuhan memberi Anda kepercayaan. Bukan karena Anda hebat atau bersuara indah.
2. Ketika Anda di panggung gereja, pahami bahwa tujuan Anda adalah MENYEMBAH TUHAN bukannya MENGHIBUR JEMAAT.
3. Ingat ketika Raja Daud menyembah Tuhan dengan menari-nari, ia menanggalkan baju kebesarannya, mengenakan baju efod. Daud tahu tempatnya, dan Tuhan mengasihinya. Ketika Anda melayani pujian, Anda sebaiknya tidak mencari kebesaran untuk Anda sendiri, tapi untuk Tuhan yang seharusnya Anda sedang layani. Dialah satu-satunya yang layak menjadi selebriti di gereja, merebut perhatian semua orang di gereja, BUKAN ANDA.

Mudah-mudahan tulisan saya kali ini tidak menyinggung siapapun. Tapi kalaupun ada yang tersinggung, saya bersyukur pada Tuhan, itu artinya hati nurani Anda sedang berbicara memperingati Anda bahwa ada sesuatu yang salah.

Advertisements