Hari Jumat yang lalu saya mendapat Broadcast Message dari seorang Hamba Tuhan lulusan S3 luar negeri yang saya hormati. Biasanya saya menyukai Broadcast Message yang dia berikan, namun kali itu, saya tidak terlalu menyukainya, bahkan saya cenderung merasa tergelitik untuk mengomentari. Namun karena melihat usia, karakter beliau (yang akan sangat sulit menerima bahwa dirinya bisa dipersalahkan oleh anak kemarin sore), maka saya memutuskan untuk diam dan menuliskannya di sini.

Saya tidak akan menyebut nama tertentu, dan tulisan ini juga tidak ditulis karena saya  ngedumel atau mau “ngomongin di belakang”. Saya menulis ini untuk berbagi pengetahuan dengan siapa saja yang membaca artikel ini sekaligus meluruskan kekeliruan yang mungkin ada di kalangan umat Kristen.

Jadi, BM apa yang membuat saya gelisah itu? Beliau menulisnya dalam bahasa Inggris namun saat ini saya akan berusaha untuk menjelaskannya dalam bahasa Indonesia. Isi dari BM itu kurang lebih menjelaskan bahwa beliau merasa sangat geli karena orang menuliskan “Happy Passover” dan bukannya “Happy Easter”. Ini disebabkan (menurut beliau), Passover adalah hari raya untuk memperingati dilewatkannya malaikat maut dari kematian orang-orang Yahudi, sementara Easter untuk merayakan dikorbankannya Anak Domba Kudus.

Menurutnya, ada dua perbedaan. Pada Passover, yang akan mati adalah orang-orang (anak sulung Yahudi), sementara pada Easter yang dikorbankan adalah Anak Domba Kudus, bukan manusia.

Sebenarnya, isi BM itu benar, jika konteks yang sedang dibicarakan adalah perbedaan Passover yang dirayakan orang Yahudi dan Passover yang dirayakan saat ini. Namun saya menjadi tergelitik karena yang dibicarakan adalah mengenai pemakaian kata “Passover” vs “Easter”. Saya sendiri cenderung lebih memilih Passover dibanding Easter untuk mengganti ucapan Selamat Paskah (Walau saya lebih suka menggunakan Selamat Paskah, karena maknanya lebih “dapet”).

Anda mungkin bingung dan bertanya, “salahnya di mana menggunakan Easter”? baik, akan saya jelaskan. Dua tahun yang lalu saya pernah menulis sebuah catatan kurang lebih seperti ini:

Sejak abad pertengahan, simbol telur digunakan untuk merayakan paskah….tradisi ini berasal dari tradisi kesuburan bangsa Indo-Eropa, di mana saat itu telur dianggap sebagai simbol musim semi dan menandakan dimulainya tahun yang baru. Dewa musim semi yang bernama “Eostre” adalah dewa yang disembah pada saat perayaan “vernal equinox”. Nama dewa inilah yang kemudian digunakan untuk menyebut hari paskah dalam bahasa Inggris “Easter”

(untuk versi lengkapnya bisa dibaca di sini)

Ya, istilah Easter sendiri berasal dari pemujaan terhadap dewa pagan. Selanjutnya diadopsi menjadi istilah untuk Paskah karena jatuhnya hari raya Paskah yang ditetapkan dalam kalender Masehi biasanya adalah pada awal musim semi.

Kemarin malam, saya juga mendapat artikel yang diberikan adik saya, kurang lebih seperti ini artikelnya:

Kata Easter berasal dari kata “Ishtar” dimana Ishtar adalah perayaan kebangkitan seorang dewa bernama Tamus. Siapakah Tamus?

Salah satu anak nuh bernama Ham. memiliki seorang anak bernama Cush dan menikah dengan seorang wanita bernama Semiramis. Cush dan Semiramis memiliki seorang putra bernama Nimrod (Kej 10:8-10).

Nimrod dalam bahasa Ibrani berarti ‘pemberontak’. Nimrod adalah pencipta sistem Babilonia dimana ia menciptakan tatanan pemerintahan dan hukum dasar perdagangan ekonomi.

Nimrod adalah orang pertama yang memperkenalkan penyembahan  setan (satanic worship). Nimrod begitu bejat sampai ia bersetubuh dengan ibu kandungnya sendiri yaitu Semiramis. Sang ibu kemudian hamil dan melahirkan anak bernama Tamus.

Ketika Nimrod meninggal, Semiramis mendoktrinasi pengikutnya bahwa Nimrod telah naik ke tahtanya di matahari dan harus dipuja sebagai Baal yaitu sang dewa matahari. Semiramis sendiri menyatakan bahwa ia datang di Bumi melalui peristiwa dimana ia turun dari bulan  dan ‘mendarat’ di sungai Eufrat ( Irak). Peristiwa ini   dinamai Ishtar  Easter.

Nimrod yang dipuja sebagai dewa matahari, Semiramis dipuja orang sebagai dewa bulan,  Tamus disembah dgn gelar Queen of Heaven atau Ratu Surga (Yeremia 7:18 dan Yeremia 44:17-25).

Pada Alkitab bahasa inggris, kata “Paskah” diterjemahkan sebagai “Passover” bukan “Easter”. ( Matius 26:17-19 )

Entah mana yang benar dari dua artikel itu. Namun kalau pendapat saya sendiri, saya cenderung membenarkan kisah pertama mengenai Dewa Musim Semi karena lebih “up-to-date” (Abad pertengahan vs Jaman hampir 6000 tahun yang lalu).

Inti dari tulisan ini adalah, jika topik yang sedang dibahas adalah mengenai penggunaan istilah, maka saya lebih suka menggunakan Passover dibanding Easter.

Kemarin, saya ditanya, “sebenarnya Passover sendiri artinya apa”. Baik, saya akan jelaskan.

Paskah (dalam bahasa Ibrani “Pesach”) atau bahasa Inggris Passover dirayakan oleh bangsa Israel untuk mengingat keluarnya bangsa Israel dari penjajahan Mesir pada jaman Musa. Perintah mengenai Paskah, yang harus dirayakan pada bulan Nisan hari keempat belas, datang dari Tuhan sendiri.

Saat itu Tuhan berketetapan akan melewati Mesir dan membunuh seluruh anak sulung manusia dan hewan yang ada di tanah itu karena Firaun telah mengeraskan hatinya begitu rupa dan menahan bangsa Israel, umat pilihan Tuhan.

Tuhan memiliki suatu rencana penyelamatan untuk orang Israel agar anak sulung mereka diselamatkan dari kematian. Pada tanggal sepuluh setiap rumah tangga harus mengambil anak domba yang berusia satu tahun, jantan dan tidak bercela. Anak domba itu akan dikurung empat hari hingga tanggal empat belas, kemudian memotongnya pada waktu senja.

Darah dari anak domba itu harus dioleskan di palang pintu rumah, sementara dagingnya dipanggang untuk dimakan setiap orang dengan roti tidak beragi dan sayur pahit. Orang Israel harus memakannya dengan pinggang berikat, memegang tongkat dan mengenakan kasut. Mereka harus makan daging itu sampai habis, tidak bersisa. Itulah Perayaan Paskah bagi orang Israel yang kemudian dirayakan turun temurun, sejak jaman Musa hingga jaman Yesus, bahkan orang Yahudi masih merayakannya hingga hari ini. Suatu perayaan yang merayakan keselamatan orang Israel atas kematian yang merupakan hukuman dari Tuhan kepada orang Mesir, penjajah bangsa Israel saat itu.

Anda mungkin berkata, “Apa hubungannya?”

Umat Yahudi merayakan bebasnya orang Israel atas penjajahan Mesir tanpa sadar bahwa ada suatu jenis penjajahan lain yang lebih mematikan daripada penjajahan Mesir, yaitu penjajahan dosa. Orang Israel, dan juga seluruh umat manusia berada dalam penjajahan dosa sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Walau berusaha bagaimanapun manusia tetap akan kembali pada dosa, mulai dari berbohong hingga membunuh, karena manusia dalam kondisi terjajah oleh dosa.

Sama seperti Tuhan tidak suka bangsa Israel dijajah oleh bangsa Mesir, Tuhan tidak suka melihat umat manusia dijajah oleh dosa. Tuhan bukannya tidak menyukai manusia, Tuhan tidak menyukai dosa.

Karena Tuhan tidak menyukai dosa, Tuhan tidak mau umat yang dikasihiNya berada dalam penjajahan dosa. Karena itu Tuhan membuat rencana untuk mengalahkan dosa.

Rencananya adalah, sekali lagi Tuhan akan menetapkan Paskah, suatu masa di mana maut dilewatkan atas umat yang dikasihiNya. Hanya kali ini tidak cukup anak domba jantan berusia satu tahun, karena dosa yang harus dikalahkan memiliki kuasa lebih besar dari kuasa Firaun.

Harus ada tanda darah bagi mereka yang akan dilewatkan oleh maut, sama seperti tanda darah anak domba yang dipasang orang Israel di palang pintu rumah mereka. Ya! Harus ada darah yang tercurah. Bahkan sejak manusia pertama melakukan dosa, darah yang tercurah adalah suatu tanda permohonan ampun atas dosa yang dilakukan.

Tapi Tuhan ingin penebusan dosa ini tuntas sampai ke akar-akarnya, dan untuk menuntaskannya, tidak cukup darah anak domba biasa yang dicurahkan. Manusia tidak punya kekuatan untuk mengalahkan dosa. Harus Tuhan sendiri yang turun tangan mengalahkan dosa.

Karena itu, pada perayaan Paskah tahun itu, Tuhan mengorbankan AnakNya yang Tunggal dan mencurahkan darah-Nya, sebagai korban penebus dosa. Dosa yang telah begitu lama menjajah umat manusia. Dosa yang telah memisahkan ciptaan dengan Pencipta yang begitu mengasihinya.

Siapa saja yang memiliki tanda itu… yaitu percaya dan menerima Anak Domba Paskah, Tuhan Yesus, sebagai Juruselamatnya, maka maut akan dilewatkan daripadanya.

Jadi, apakah Passover bisa digunakan untuk menggambarkan Paskah jaman sekarang? TENTU SAJA BISA!!! Namun bukan memperingati lewatnya malaikat maut dari rumah orang Yahudi dan selamatnya  nyawa anak sulung orang Yahudi. Namun untuk memperingati lewatnya maut dari kita dan selamatnya kita dari kematian kekal.
Bukan dengan cara mengoleskan darah anak domba di dahi kita, tapi dengan cara menerima pengorbanan Anak Domba Kudus yang sudah dikorbankan ganti kita.

Setelah membaca ini, tentu Anda bisa menilai, mana istilah yang lebih tepat, Easter atau Passover.

Kemarin juga saya mendapat suatu masukan dari seorang kawan Filipina saya. Menurutnya, untuk menghindari konflik dia lebih suka menggunakan istilah “Resurrection Day”. Yah, jika ada tiga pilihan seperti ini, maka saya pun beranggapan bahwa Resurrection Day akan lebih tepat untuk digunakan dan menggambarkan hari yang kita rayakan. Hari Kebangkitan, baik kebangkitan Kristus, maupun KEBANGKITAN KITA KARENA KRISTUS TELAH BANGKIT MELAWAN MAUT.

Namun terakhir, apapun istilah yang Anda dan saya gunakan, yang terpenting adalah ketahui maknanya, bahwa kita merayakan kebangkitan Kristus yang bangkit melawan maut yang karenanya kita semua yang percaya dan menerima Dia dapat diselamatkan dari hukuman kekal.

Dan hal ini yang harus kita sampaikan dengan benar kepada anak-anak kita. Jangan menekankan “Cari telur” di brosur Paskah gereja, karena itu sama saja dengan mengadopsi perayaan pagan. Bahkan menurut saya sih, lebih baik telur dihilangkan sekalian dari acara Paskah di Sekolah Minggu Gereja. Pikirkan, apa perasaan Tuhan jika dirinya dinomorduakan oleh anak-anak karena kita salah memberi promosi??

Well, akhir kata saya mau mengucapkan sekali lagi Selamat Paskah….!

Advertisements