Menjelang Paskah, saya menjadi sukarelawan untuk melatihkan lagu saya yang akan dinyanyikan oleh paduan suara anak salah satu gereja di kota Bandung (yang ironisnya bukan gereja saya). Di ruangan latihan, terdapat sejumlah foto Yesus dalam urutan “jalan salib” yang mengelilingi ruangan latihan.

Beberapa minggu saya hadir di gereja itu, saya melihat keanehan. Seluruh gambar Yesus yang ada di ruangan itu dibalik, bahkan pernah satu kali diturunkan dan disembunyikan. Ketika saya tanyakan mengenai sebabnya, seorang pembina menjelaskan pada saya bahwa ada seorang anak berusia 6 tahun yang begitu sangat ketakutan melihat gambar Yesus. Anak ini bahkan pernah berteriak-teriak histeris ketika digendong masuk ke dalam ruangan latihan itu.

Kemudian saya memastikan, apakah anak ini takut karena darah yang ada di lukisan itu atau takut pada sosok Yesus yang ada di lukisan itu. Jawaban yang diberikan mengherankan saya. Anak itu takut pada seluruh foto Yesus, tidak hanya yang ada di lukisan itu saja. Bahkan di rumah pun tidak ada satu pun gambar Yesus.

Hal berikutnya yang mengherankan adalah kakak anak ini adalah anggota lama yang manis dari paduan suara anak dan sama sekali tidak keberatan dengan gambar Yesus. Saat saya tanya penyebab gejala aneh ini, saya mendapat penjelasan bahwa anak ini diasuh oleh seorang babysitter (atau mungkin juga pembantu yang diberi pakaian suster) yang selalu menakut-nakutinya dengan gambar Yesus. Saya sendiri tidak punya bayangan bagaimana cara babysitter ini menakut-nakuti gadis cilik ini.

Saya kesal sekali setiap minggu para pengurus paduan suara menuruti saja ketakutan anak ini dan harus menurunkan atau membalikkan gambar-gambar itu. Jadi saya bertanya, apakah hal ini tidak bisa ditanggulangi. Apakah gembala anak, atau guru sekolah minggu tidak bisa turun tangan menyelesaikan masalah ini. Karena pikir saya, jika pada gambar Yesus saja anak ini ketakutan, bagaimana mungkin dia bisa diperkenalkan dengan Yesus sendiri. Padahal seharusnya sejak kecil anak-anak perlu diperkenalkan kepada Yesus yang sangat mengasihi anak-anak.

Jawabannya sangat mengagetkan saya. Seorang pengurus paduan suara menjelaskan bahwa di gereja itu untuk “pembinaan” ada prosedurnya, seperti membuat surat untuk majelis, untuk mengatur jadwal dengan hamba Tuhan yang nantinya akan membina anak ini. Saya tanya kenapa harus bertele-tele seperti itu, dan mendapat jawaban, “mungkin majelis dan hamba Tuhan tidak ingin terjadi penyesatan atau salah membina”.

Saya tidak tahu apakah itu lelucon disebabkan oleh apatisnya pengurus tersebut pada sistem gereja yang berbelit-belit, ataukah memang jawaban yang sebenarnya. Tapi menurut saya, pembiaran ketakutan yang berlarut-larut seperti itu bukan hal yang baik.

Anda mungkin bertanya, apa yang saya lakukan dengan hal itu. Kondisi yang juga sangat saya sesalkan adalah itu bukan gereja saya, anak itu tidak kenal dengan saya, dan saya di sana hanya sebagai pelatih tamu sukarelawan yang memiliki sangat sedikit waktu. Seandainya saya punya cukup waktu untuk berkenalan dan bicara dengan anak ini, mungkin sudah saya lakukan. Saya harus melatih pukul 5, di mana anak ini baru datang jam 5 lewat, berteriak-teriak, tidak mau masuk dan terpaksa dibawa pulang pada saat saya belum menyelesaikan latihan.

Lewat kejadian ini saya mau menghimbau orang tua. ANDALAH yang dipercayakan Tuhan untuk menanamkan hal terpenting dalam hidupnya, yaitu mengenai TUHAN dan aturan-aturannya. Untuk keperluan itu, berarti ANDA yang harus menghabiskan waktu lebih dengan anak-anak Anda dibanding orang lain. Jangan sampai anak-anak Anda lebih mempercayai pembantu yang berbeda iman dengan Anda dibanding dengan Anda sendiri.

Firman Tuhan mengatakan anak-anak itu diberikan kepada ANDA sebagai milik pusaka. Artinya, anak-anak itu milik TUHAN yang “pengelolaannya” diserahkan kepada tangan Anda. Ketika Anda memberikan tanggungjawab itu kepada orang lain, artinya Anda seorang hamba yang tidak bertanggungjawab, dan saya tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya Anda akan mempertanggungjawabkan hal ini di hadapan Tuhan.

Saya masih berharap memiliki kesempatan untuk bicara dengan gadis cilik ini. Sementara ini, saya hanya bisa berdoa agar Tuhan memberi hikmat pada orangtua anak ini.

Advertisements