Abses…dan sensor


Tiga hari ini kembali saya mengalami penyakit aneh. Saat berita ini diturunkan, saya masih dalam kondisi cenat cenut dan menahan sakit yang cukup berat.

Tidak…tenang saja… saya belum menjadi alay yang menumpahkan keluh kesah di media sosial, hanya ingin berbagi satu hal. Ini dia penyakit saya:
image

Ya… ada abses alias nanah di lutut saya. Penyebabnya? Sekitar seminggu yang lalu saya jatuh berlutut di karpet, lantai 2 kantor kami. Kehilangan keseimbangan saat mengambil barang di bawah dan…jatuh berlutut.

Beberapa hari kemudian, di lutut saya muncul kulit berisi air, yang tanpa basa basi langsung saya pecahkan, dan tidak saya bersihkan sesudahnya. Besoknya, yah, seperti yang Anda bisa tebak, lutut saya mulai membengkak, dan hari ini saya kesakitan sambil menunggu abses itu bisa dikeluarkan.

Karena sedang sakit dan kesulitan menekuk kaki, saya menghabiskan cukup banyak waktu rebahan di depan TV. Menonton mulai dari film asing hingga FTV. Ada satu hal yang saya nilai ironis dalam tayangan di TV Indonesia ini.

Pertama adalah masalah sensor untuk film baik luar maupun lokal. Hal baru yang saya nilai unik adalah sensor pada kata-kata dan gambar yang kurang baik. Lembaga Sensor kita menyensor kata “gila”, “tolol”, “fuck”, “shit” dan kata-kata kasar lainnya dengan cara menghilangkan suaranya (saya tidak tahu bagaimana dengan sinetron, sepertinya tidak ada sensor seperti film).

Kedua adalah sensor untuk rokok. Di film-film yang pemainnya merokok (biasanya film asing lama, karena film asing baru sudah menghilangkan adegan merokok), Lembaga Sensor kita memburamkan rokoknya. Ah, apa artinya memburamkan rokok, jika film itu dibiayai oleh iklan rokok.

Ironisnya adalah, di tayangan-tayangan komedi live yang tidak ada sensor, perusakan moral justru terjadi. Menghina kekurangan fisik kerap dijadikan bahan lelucon. Satu hal yang menurut saya aneh adalah tayangan OVJ. Jelas sekali pemainnya ingin terlihat lucu. Tayangan yang diputar pada jam tontonan anak ini sering memasang tulisan, “ini hanya akting, jangan ditiru”, atau “properti terbuat dari bahan yang lunak”.

Hal ini tidak menjawab permasalahan perusakan moral, menurut saya. Ketika seseorang melemparkan kursi ke orang lain, atau mendorong orang hingga jatuh, tak peduli dari bahan apa kursi dan properti lain, itu adalah perbuatan yang tidak sopan.

Kedua, jika tau bahwa hal tersebut buruk untuk ditiru, kenapa masih dipertontonkan juga. Belum lagi sikap para komedian yang terkesan tidak terpelajar dan maksa. Mr. Bean tidak memutar kekerasan pada tayangannya, tapi penonton tetap terhibur. Film-film komedi cerdas asing tidak menghina kekurangan fisik, tapi tetap lucu.

Belum lagi tayangan sinetron. Percuma saja menyensor kata “gila”, jika perilaku pemeran utamanya gila (seperti sinetron “yang muda yang bercinta” yang pernah saya bahas)

Jika ingin penonton, cinta pada produk Indonesia, bukankah seharusnya produsen di Indonesia menghasilkan produk berkualitas?

Advertisements