Bangsa ini dirusak oleh sinetron!


image

Jarang-jarang jam segini saya menyalakan tv dan nyangkut di stasiun tv favorit RCTI. Kagetnya saya melihat tayangan perusak bangsa yang menamakan dirinya sinetron “yang muda yang bercinta”.

Inginnya langsung memindahkan channel, tapi demi kekayaan tulisan ini, saya tahan hati, telinga dan mata saya.

Saya kurang paham ceritanya, tapi dari sekilas yang saya lihat, sinetron ini bercerita tentang seorang guru yang memiliki hubungan spesial dengan anak didiknya.

Sepertinya sinetron ini ingin menyajikan semacam tontonan komedi bagi pemirsanya, tapi bagi saya ini terlihat seperti festival perusakan moral bangsa besar-besaran.

Dikisahkan Alia, diperankan oleh Alyssa Subandono, dikejar oleh beberapa pria sekaligus, salah satunya gurunya. Hal pertama yang tidak saya sukai adalah mengenai guru yang “mengejar-ngejar” muridnya. Buat saya ini sama saja dengan kasus pelecehan terhadap siswa.

Ketika kasus SMAN 22 meledak, banyak orang menghujat guru dengan dalih bahwa guru harusnya digugu dan ditiru. Lalu, apakah pantas mempublikasikan kisah mengenai guru yang menjalin hubungan khusus dengan siswanya?

Nah, entah apa yang menarik dari si Alia ini, karena makin saya tonton, saya makin muak dengan tokoh ini. Tokoh yang suka berteriak-teriak, kurang ajar saat bicara dengan orang yang lebih tua dan suka mengerjai gurunya secara kelewatan.

Di segmen yang saya lihat, Alia menjalankan muslihatnya atas seorang guru wanita norak yang diperankan oleh Ana Pinem (yang juga tidak pantas jika diberi peran guru karena sikapnya yang tidak terpelajar). Saat tersesat dan bertemu ibu Ana, Alia mengiming-imingi ibu Ana untuk bertemu guru ganteng di cafe, memanggil taksi dan meninggalkan ibu Ana begitu saja saat taksi sudah sampai di rumahnya.

Esoknya, ia malas sekolah, menyogok tantenya yang diperankan omas untuk ke sekolah memberikan surat ijin sakit pada gurunya. Si tante yang juga norak, datang ke sekolah terlibat perkelahian dengan keponakan ibu Ana yang tidak kalah kurang ajar, dan akhirnya kejar-kejaran dengan Ibu Ana di depan murid-murid.

Belum lagi bu Ana yang suka menggoda murid yang tampan. Ah, akhirnya saya tidak kuat lagi menonton sinetron gila yang penuh ketidaknormalan ini dan memindahkan channel ke SCTV di mana saya menemukan kejutan lain, seorang anak SD yang berteriak-teriak kurang ajar pada tantenya dengan logat betawi yang dibuat-buat.

Pertanyaan saya, kemana komisi penyiaran Indonesia? Daripada hanya menyensor kata “gila” atau “fuck” lebih baik menyensor konten sinetron yang jelas-jelas merusak anak bangsa.

Kemana komisi perlindungan anak? Mengurusi anak yang dilecehkan atau diperlakukan tidak adil itu baik, tapi mencegah sebuah generasi dari kerusakan moral juga tidak kalah penting.

Dan…kemana kak Seto?

Anda berkata saya berlebihan? Baik, mari kita analisa. Siapa saja yang menonton sinetron-sinetron  itu? Biasanya ibu-ibu. Ketika ibu-ibu menonton, kemana anak-anak mereka? Ya,  ikut menonton…karena sinetron itu dimulai pk. 05.00, jam istitahat anak setelah cape sekolah dan les.

Atau, kalaupun ibu-ibu mereka tidak menonton, mereka akan mengijinkan anak-anak mereka menonton karena settingan film itu sekolah…

Saya sudah kehabisan kata. Seandainya tak bisa mengetuk hati komisi penyiaran, komisi perlindungan anak atau kak Seto, setidaknya Anda, pembaca. Seleksilah tiap tontonan untuk putra-putri Anda.

Advertisements