Saya baru saja menonton tv one, acara investigasi peristiwa kriminal. Kasus kriminal yang sedang dibahas adalah mengenai MA, seorang siswi SMAN 22 Jakarta yang menjadi korban guru biologinya.

Si siswi mengaku diancam gurunya yang berinisial T untuk melakukan oral sex. Guru T membantah dan malah mengungkap bahwa yang memiliki hubungan dengan MA adalah guru berinisial Y. Di berita lain saya membaca guru T bahkan mengatakan pernah melihat MA dan Y sedang berduaan, dan ia mencoba memberi peringatan pada keduanya.

Dalam pengakuan MA (yang mana menurut saya agak aneh), dia mengatakan bahwa pelecehan itu terjadi empat kali di tempat yang berbeda, salah satunya di Ancol, Sentul dan rumah T. Lucunya selama beberapa kali itu tidak ada kekerasan dari guru T. Pertanyaan terbesar yang seharusnya muncul adalah, “bagaimana yang pertama kali bisa terjadi?”. Tidak ada perkosaan, hanya MA diminta melakukan oral sex terhadap guru T.

Setelah kali pertama itu, MA diancam, jika bilang-bilang ke orang lain, maka nilai-nilainya akan terancam, dan ijazahnya ditahan. Ini yang menurut saya tidak masuk akal. Jika memang siswi berjilbab ini mengutamakan kehormatan, mengapa rela diam dan membiarkan ini terjadi sampai 4 kali demi nilai dan ijazah. Apalagi itu terjadi di awal tahun ajaran. Ceritakan saja pada orangtua atau yang berwajib, lalu pindah sekolah.

Pertemuan selanjutnya yang menurut saya lebih aneh. Menurut pengakuan MA, guru T meneleponnya, janjian di jalan dekat pintu tol. Di situ guru T menjemput MA. Sudah ada bantal di bagasi. Maaf, bukannya tidak melindungi hak anak, tapi ini tidak masuk akal. Lebih tidak masuk akal lagi ketika MA mau saja disuruh masuk bagasi yang ada bantalnya supaya tidak terlihat tetangga. Lalu kemudian diam-diam masuk rumah guru T. MA tahu untuk apa bantal itu, tanpa perlawanan keluar dari mobil, masuk bagasi…aneh sekali.

Jika memang guru ini cabul dan menggunakan ancaman, mengapa sekedar (maaf) oral sex. Apa mungkin supaya sulit dibuktikan? (Tidak ada bukti adanya hubungan intim pada organ seksual MA).

Berikutnya, kenapa merasa tidak tahan dan melapor justru setelah 4 kali dan pada waktu hampir ujian nasional. Jika sejak Juli tentu kalaupun memang benar dia diancam, dia bisa pindah sekolah dengan mudah, dan kehormatannya terjaga.

Dan bagaimana dengan guru Y? Banyak pelajar di SMAN 22 membenarkan adanya hubungan khusus antara guru Y dan MA, hanya mereka berdua yang tidak mengaku. Kalau sudah begini, siapa maling teriak maling? Apakah MA dan Y menjebak T atau MA dan Y adalah korban T?

Lucunya, di acara yang saya tonton, MA justru menjerit histeris “pembohooong” saat Y sedang mengatakan, “saya dan siswi M tidak ada hubungan apa-apa selain guru dan murid”, lama setelah T bicara. Intinya, menurut saya ada kejanggalan pada kasus ini.

Kalau saya boleh berpendapat, seorang remaja berusia 17 tahun bukanlah seorang polos yang selalu jadi korban. Remaja berusia 17 yang berasal dari keluarga tidak baik atau kurang nasihat orangtua, bisa melakukan hal-hal mengejutkan, bahkan kriminal. Ini peringatan untuk orangtua sebenarnya.

Nilai-nilai apa yang Anda tanamkan pada putra putri Anda sejak kecil?

http://www.lettersfromparents.com

Advertisements