Saya baru membaca artikel luar biasa yang jika dikeluarkan lima puluh tahun yang lalu maka akan sulit untuk dipercaya. Kisah tentang penyewaan rahim di India. Menurut artikel tersebut, saat ini India didorong oleh pemerintahnya menjadi pusat wisata medis, di mana turis-turis dari seluruh dunia akan datang untuk mencari solusi yang tidak dapat mereka temukan di negara lain. Sayangnya arti “wisata medis” ini bukannya berobat, melainkan “meminjamkan rahim” wanita India.

Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Ini bukan seperti pelacuran di mana seorang wanita tidur dengan pria yang ingin memiliki anak. Ini murni merupakan jasa peminjaman rahim. Pasangan suami istri yang sulit memiliki anak, pasangan gay yang ingin memiliki anak, wanita single yang ingin memiliki anak tanpa repot-repot hamil namun dari telurnya sendiri, mereka semua dapat datang ke India, memilih wanita yang diinginkan, dan taruhkan benih di rahimnya.

Biasanya, wanita yang sedang dipinjam rahimnya ini (wanita yang sedang hamil anak yang bukan anak kandungnya) dikumpulkan dalam sebuah klinik dan benar-benar dirawat serta dipastikan asupan gizi dan kesehatannya.

Benar-benar sebuah industri yang sukar dipercaya, industri yang mendatangkan sekitar Rp.19,4 triliun setahun untuk negara ini, walaupun setiap wanita yang meminjamkan rahimnya dibayar tidak setinggi yang seharusnya (hanya sekitar 58 juta). Artinya ada sekitar 334.500 wanita setiap tahun yang meminjamkan rahimnya kepada orang asing. Artinya ada 334.500 bayi dilahirkan bukan oleh orangtua kandungnya sendiri.

Meskipun pemerintah India tidak melakukan apa-apa (malah cenderung bangga) dengan masalah orang asing kaya yang membayar penduduk India yang miskin untuk memiliki bayi, namun para cendekiawan India dan banyak orang India lain memiliki kekhawatiran etis  tentang masalah “pabrik bayi” ini.

Lucunya, tidak ada yang bisa disalahkan dalam masalah ini. Dokter yang menangani hal ini malah mengatakan, siapapun yang menentang hal ini adalah orang bodoh. Jika melihat dari dua pihak, maka hal ini seperti sebuah simbiosis mutualisme. Di satu pihak ada pasangan orangtua yang mendambakan buah hati namun tidak dapat memilikinya karena keterbatasan, di pihak lain ada wanita India miskin yang membutuhkan uang untuk memberi makan keluarga dan membiayai sekolah anak-anak mereka.

Belum lagi rasa bangga mereka karena merasa telah melahirkan anak-anak yang menurut mereka “cantik” (karena kebanyakan yang meminjam jasa rahim mereka adalah pasangan bule) dan mereka jadi merasa sebagai bagian dari keluarga bule tersebut.

Ketika membaca artikel ini, saya merasa benar-benar eneg karena beberapa hal ironis yang saya temukan, terutama dalam kaitannya dengan peran “IBU”. Dalam bahasa Inggris, seorang wanita yang menyewakan rahimnya disebut surrogate mother. Dalam bahasa Indonesia ada beberapa kerancuan karena istilah mother diterjemahkan sebagai ibu, di mana panggilan ibu ini dapat juga digunakan untuk wanita yang bukan ibu kita.

Bagi saya, seorang MAMA adalah orang yang telah membesarkan seorang anak, baik itu anak yang dilahirkannya sendiri ataupun yang diadopsinya dari orang lain (di sini saya tidak menggunakan kata Ibu untuk membedakannya dengan “panggilan untuk wanita yang sudah berumur” karena saya juga dipanggil ibu oleh pak satpam padahal saya bukan ibunya).

Jadi maksud saya adalah, bagi saya seorang MAMA lebih menunjukkan fungsi secara sosial dan psikologis daripada secara biologis.

Namun dalam bahasa Indonesia, ada istilah “ibu kandung”, mengacu pada ibu yang melahirkan. Entah mengapa mereka menggunakan istilah ini karena jika saya sudah seusia ini dan diberitahu bahwa mama yang saya kenal ternyata bukan orang yang melahirkan saya, maka saya tidak akan peduli, karena toh yang saya kenal sebagai mama adalah mama yang membesarkan saya. Jika ternyata saya memiliki ibu kandung, toh itu hanya sebatas pengetahuan saya “oke, kamu orang yang melahirkan saya, tapi kamu bukan mama saya”

Mudah-mudahan pembaca mengerti maksud saya…

Namun walaupun saya pribadi tidak mempedulikan apakah mama yang membesarkan saya dengan luar biasa adalah mama kandung atau bukan, namun dalam kenyataannya, masyarakat saat ini masih mempedulikan istilah “ibu kandung” yang dalam bahasa inggrisnya secara mengejutkan menggunakan istilah “biological mother”.

Kenapa saya katakan mengejutkan? Ada dua perbedaan yang signifikan antara ibu kandung dan biological mother. Ibu kandung adalah ibu yang menggunakan kandungannya untuk memberikan kehidupan pada seorang anak untuk kemudian diantar ke dunia melalui proses persalinan. Dalam pengertian ini, orang Indonesia manapun akan mengatakan bahwa Ibu kandung lah yang memberikan sel telurnya untuk keberadaan bayi yang ada dalam kandungannya.

Sedangkan definisi dari Ibu biologis adalah (hanya) ibu yang memberikan sel telurnya untuk seorang anak.

Mungkin perbedaan definisi ini terjadi karena adanya perbedaan nilai dan norma antara Indonesia dan masyarakat barat. Atau mungkin juga ketika istilah “ibu kandung” dibuat, bangsa kita tidak memperkirakan bahwa suatu saat akan ada teknologi yang memungkinkan seorang ibu menggunakan kandungannya untuk memberikan kehidupan pada anak yang tidak berasal dari sel telurnya sendiri.

Di Barat, istilah ini tidak perlu dipertanyakan lagi, karena walaupun mereka meminjam kandungan (rahim) wanita lain untuk menyimpan anaknya selama 9 bulan, toh secara biologis mereka tetap orangtua anaknya, dan toh mereka yang nanti akan membesarkan anak yang akan dilahirkan oleh wanita India itu

Jadi, dilihat dari pembahasan logis mengenai MOTHER / IBU / MAMA, sepertinya untuk jaman sekarang, tidak ada yang salah dengan sewa menyewa rahim ini (khususnya bagi masyarakat di negara barat)

Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang sosial.

Mereka di India mungkin berkata, “kedua pihak diuntungkan kok…” Memang benar, semua pihak merasa diuntungkan. Dengan kemajuan teknologi, saya bisa mengesampingkan resiko meninggal ketika melahirkan, toh mereka semua melahirkan secara caesar untuk menjamin keselamatan si anak yang orangtua biologisnya sudah membayar mahal.

Namun jika kita lebih jauh bertanya, apa yang menyebabkan wanita India mau menyewakan rahimnya untuk orang lain? Jawabannya adalah “Karena UANG”. Yah, pada akhirnya memang semua yang dilakukan kelihatannya adalah karena uang. Orang bekerja di perusahaan karena uang, orang membuka usaha dagang untuk uang, orang sekolah agar bisa bekerja dan dapat uang.

Menurut prinsip ekonomi yang saya pelajari di sekolah dulu, menurut Maslow, kebutuhan manusia terbagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:

Kebutuhan mendasar adalah yang berkaitan dengan fisiologis mereka, khususnya makanan. Jika kebutuhan mendasar ini tidak dapat dipenuhi maka sulit untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan, cinta, harga diri apalagi aktualisasi diri.

Dalam negara-negara terbelakang, masyarakatnya seringkali mentok di kebutuhan dasar ini. Masalahnya, untuk memenuhi kebutuhan dasar ini diperlukan UANG. Karena itulah dalam masyarakat terbelakang, jika Anda bertanya, “kamu lakukan ini untuk apa” pasti ujungnya adalah UANG.

Contoh: “kamu sekolah untuk apa” | “supaya bisa bekerja” | “kenapa harus bekerja”? | “supaya dapat uang”. Ya, bahkan anak kecil pun akan menjawab seperti itu.

Namun tanpa disadari, kebutuhan fisiologis ini dicukupi dengan mengorbankan kebutuhan akan “harga diri” dan “aktualisasi diri”. Untuk makan, seorang wanita India rela menjatuhkan harga dirinya sendiri, mengorbankan rahimnya untuk mengandung anak orang lain. Membuang 9 bulan waktunya untuk berada di klinik, mengorbankan aktualisasi diri karena toh akhirnya dia hanya akan menjadi nobody dalam keluarga itu, “saya sudah bayar, good bye”

Mari kita bahas dari segi agama. Ini merupakan hal yang sensitif untuk dibahas. Namun saya akan memberanikan diri untuk membahasnya. Ketika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, tujuan utama-Nya bukanlah untuk memiliki keturunan, walaupun itu adalah perintah lanjutan. Tujuan utamanya adalah agar mereka saling melengkapi dan mengasihi satu dengan lain, karena tidak baik jika seorang diri saja.

Kemudian selanjutnya, melalui persetubuhan suami-isteri, Tuhan mempertemukan sel telur dan sel sperma yang kemudian menjadi embrio, bakal anak yang ditaruhnya pada rahim si wanita sebagai buah cinta dan warisan bagi kedua orang ini. Merupakan salah satu tanggungjawab wanita untuk melahirkan buah cintanya dengan suaminya. Dengan kata lain, otoritas mempertemukan sperma dengan sel telur adalah otoritas dari Tuhan.

Namun teknologi yang diciptakan memungkinkan manusia membuat manipulasi “pertemuan sperma-telur” di luar rahim, yang biasa kita sebut dengan bayi tabung atau menyuntikkan sel sperma ke dalam rahim wanita, yang biasa kita kenal dengan inseminasi buatan. Belum lagi usaha yang dibuat manusia untuk mencegah kehamilan.

Nah, mengenai pinjam meminjam rahim ini, saya  pikir ada beberapa hal yang melawan “takdir” yang ditetapkan Tuhan:

  1. Wanita memang ditakdirkan untuk mengandung anaknya, bukan orang lain (Kej 3:16). Meminjam rahim wanita lain tidak hanya berarti melepaskan tanggungjawab, tapi juga mempertanyakan otoritas Tuhan, dan sebagai bentuk “ingin-mendapatkan-anak-dengan-cara-tidak-normal” (contoh: untuk pasangan gay atau wanita single yang tidak mau terlibat dengan pria namun ingin melahirkan anak)
  2. Tuhan yang berkehendak atas kehidupan. Memanipulasi hal ini sama dengan manusia sedang “bermain menjadi tuhan”

Setiap orang berhak memiliki pendapat sendiri mengenai sesuatu. Satu hal yang harus diingat, manusia dilengkapi dengan logika dan hati nurani. Seringkali hati nurani menegur kita walau secara logika kita berkata “tidak ada yang salah”. Bagi saya, walaupun saya orang yang mengagung-agungkan logika, hati nurani adalah perlengkapan ajaib yang diberikan Tuhan.

Beberapa orang memiliki hati nurani yang tumpul, beberapa orang tajam. Namun tumpul atau tajamnya hati nurani bukanlah takdir, tapi tergantung dari bagaimana kita menyerahkan diri kita pada pimpinan pencipta. Bahkan seorang penjahat sekalipun tidak akan merasa tenang setelah melakukan kejahatan, bukti bahwa hati nurani berbicara.

Jadi mengenai sewa menyewa rahim ini, apakah menurut Anda benar atau tidak? Biarkan hati nurani yang menjawab…

Kalau saya, menurut logika, tidak ada yang salah…tapi hati nurani saya membisiki saya “ada yang salah dengan semua ini”

 

Advertisements