Saya sebal sekali jika ketenangan di jalan raya terganggu oleh segerombolan manusia berpakaian biru, mengibarkan bendera sambil berteriak-teriak. Ya, mereka adalah viking, pendukung persib yang sangat penuh semangat namun bagi saya lebih menyerupai sekelompok anak muda yang tidak tahu aturan dan suka mengintimidasi.

Entah apa yang ada di pikiran mereka saat mereka berteriak-teriak di jalan dan memaksa mobil dan motor yang ada di depan mereka untuk minggir sambil berteriak, “minggir anjing”. Belum lagi orang lain yang mengambil kesempatan untuk ikut maju bersama mereka.

Saya sendiri sering melihat hal ini, dan pernah satu kali terlibat sedikit adu mulut. Mereka meminta saya minggir sambil memukul mobil saya yang saya jawab dengan, “mau minggir kemana lagi, depan juga penuh”, dan kemudian mereka mengancam, “daripada nti diapa-apain mending minggir”.

Bagi saya ini suatu ketololan besar. Mereka tidak peduli lampu lalu lintas merah dan mobil-mobil dari arah timur dan barat mereka sedang padat. Mereka berteriak memaki-maki sambil menggerung-gerungkan motor, meminta diberi jalan, sementara polisi yang tidak kalah tolol hanya bengong tidak bisa berbuat apapun.

Mereka gunakan motor untuk 4 orang sambil membawa bendera besar, atau menghentikan mobil dengan bagian belakang terbuka untuk dinaiki.

Jangan salah sangka, walau saya bukan pecinta bola, saya juga tidak membenci aktivitas persepakbolaan ini. Saya bahkan membanggakan murid saya dulu dengan mata sipitnya mendatangi markas pemain persib untuk meminta tandatangan mereka.

Saya pun tidak mendiskreditkan pecinta persib yang setia menunggu pertandingan persib di televisi sambil makan popcorn dan berteriak mengekspresikan perasaan.

Hanya saja, bukankah sebuah klub akan lebih bangga jika pendukungnya adalah orang-orang cerdas dan tidak kampungan. Saya tidak bicara masalah pendidikan atau strata ekonomi, tapi masalah sikap dan perbuatan.

Bagaimana perasaan pemain persib, jika mengetahui saat mereka kalah, sebagian kota ini hancur? Ya, warga mengharapkan persib menang bukan karena 100 persen mendukung, tapi takut pada kerusakan yang dibuat pengikutnya.

Pot bunga pinggir jalan yang pecah hingga tanah berhamburan, kaca-kaca yang dilempari, rumah yang dicoret-coret. Ironisnya, hal ini mulai dimaklumi sebagai gaya hidup, “pantas, persib kalah”. Seolah membenarkan lohika, “jika persib kalah, maka kota ini hancur”.

Ah, masakan kami bangsa yang ingin maju ini harus bertoleransi pada tindakan anarkis, intimidasi dan ketololan macam ini?

Advertisements