I’m turning 31 and will spread my wings


Haduh, kemarin perasaan baru umur 19 sekarang udah 31 aja. Well, happy birthday to me (yee, i am the first one who contratulate myself)… Tidak pernah menyangka sama sekali kalau akan merasa seperti ini di usia 31. Seperti ini itu maksudnya, still feel young. Waktu remaja dulu saya pikir usia 31 itu saat seseorang menjadi tante-tante, sibuk antar jemput anak dan beli sayur dengan rol masih di kepala dan pakai daster, perlahan-lahan namun pasti menjadi tua dan mengalami ketertinggalan.

Yah, ternyata saya sekarang tiba di usia kepala tiga yang tidak diakhiri dengan angka 0…Tiga puluh SATU. Pertanyaan yang pasti ditanyakan setiap orang adalah “sudah berkeluarga?”, sedikit menyebalkan ditanya seperti itu karena bagaimana pun sejak kecil kita hidup dalam keluarga, bukan? Seolah-olah mereka bertanya “kamu punya keluarga atau sebatang kara”. Lebih menyebalkan lagi karena secara terpaksa saya harus menjawab “belum”, seolah-olah membenarkan bahwa saya adalah orang yang hidup sebatang kara.

Baik, saya mengerti mungkin maksudnya adalah apakah saya sudah menikah dan memiliki anak-anak atau belum. Saya pernah bercerita tentang marketing sebuah perusahaan kartu kredit (atau asuransi) di sini yang tiba-tiba bertanya “ibu sudah punya anak”. Ketika saya jawab “belum”, dia dengan gagah berani menjawab lagi “kalau gitu tunggu apalagi bu”.

Sebuah pertanyaan yang selalu saya tanyakan adalah, dalam usia 30an, seorang wanita belum lagi keriput atau memiliki kerut-kerut di wajah. Namun walaupun didandani gaya abg, kenapa orang bisa langsung menebak usianya yang sudah kepala 3. Ketika saya mengamat-amati diri saya di cermin. Saya menemukan bahwa setiap tahun seorang wanita memiliki tambahan gurat kedewasaan di wajahnya, mulai dari di sisi hidung hingga di bawah bibir. Yah, itu baru namanya takdir. Sesuatu yang tidak bisa diubah.

Kalau saya ditanya mengenai pendapat saya tentang “berusia 31 dan tetap melajang” saya akan menjawab, “memangnya kenapa?”. Ya, ini jaman modern di mana tidak ada paksaan seorang wanita harus menikah pada usia tertentu dan punya anak. Jangan salah sangka, saya tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun yang memutuskan menikah muda dan memiliki anak. Tidak juga sebagai bentuk pembelaan diri karena saya sendiri masih melajang di usia 31. Namun, bagi saya, usia muda adalah usia di mana seseorang memiliki kesempatan untuk berkarya sebanyak-banyaknya.

Ya, bagai seorang ibu yang sedang menunggu persalinan, saya sedang menunggu lahirnya buku dan audiobook “Letters From Parents”. Sebenarnya tidak ada masalah yang berarti, hanya penundaan dan pengulangan di sana sini menyebabkan batas waktu penyelesaian mundur terus.

Kemarin, setelah kami menyelesaikan rekaman dan mastering untuk Audiobook, ternyata kami baru menemukan bahwa tempat menggandakan CD yang akan kami gunakan jasanya telah menutup usahanya. Di tengah kepanikan yang luar biasa, saya kemudian membuka internet dan mencari perusahaan pengganti. Puji Tuhan kami menemukannya, jauh lebih murah, namun di Jakarta. Jadi saat ini, saya sedang menimbang-nimbang. Apakah saya harus ke Jakarta, ataukah cukup mengirimkan file mastering kemudian membayar sejumlah uang dan menunggu kedatangan CD2 itu??

Kemungkinan besar minggu depan saya akan survey perusahaan itu ke Jakarta, dan memulai prosesnya. Menurut marketing yang kami telepon, hanya dibutuhkan 2 – 3 hari untuk membuat sejumlah CD yang kami inginkan. Satu hal yang jelas adalah launching buku dan audiobook LAGI-LAGI molor, membuat saya sedikit kesal. Namun, satu hal yang saya pastikan: BUKU DAN AUDIOBOOK ITU PASTI AKAN LAUNCHING!!!!

Baik, kembali ke pembicaraan semula…Saat ini, di usia 31, saya merasa belum puas dengan pencapaian hidup saya. Walau agak sesak juga mengingat bahwa saya sudah berusia 31 tahun, namun yang pasti adalah, saya akan mengembangkan sayap saya selebar-lebarnya, terbang tinggi…makin tinggi…tentu saja bersama pencipta saya.

Advertisements