I see Jesus in …


Saya baru saja membaca sebuah artikel luar biasa mengenai kiprah Gubernur Jakarta yang luar biasa Joko Widodo, dikenal dengan Jokowi atau Mas Joko di kampungnya.

Dalam artikel yang saya baca dilampirkan gambar seperti di samping ini: Seorang gubernur yang mau turun ke gorong-gorong untuk memantau apa yang perlu dikerjakan. Seorang gubernur yang rela menanggalkan pakaian dinas untuk turun ke bawah…

Menurut artikel lain, Jokowi bahkan jarang sekali memakai pakaian dinas, dan lebih memilih kemeja putih dan celana hitam ala pekerja paling rendah di kantoran.

Akibat aksinya yang merakyat, seorang kolumnis Malaysia menulis.

Wanted badly: A Malaysian Jokowi

mengatakan, Jokowi yang baru menjabat Gubernur Jakarta akhir Oktober tahun lalu lebih menekankan kerja nyata ketimbang sibuk dengan urusan politik

Oh….ya,….Siapapun menginginkan pemimpin yang mengetahui SIAPA YANG DIPIMPINNYA, dan APA YANG HARUS DILAKUKAN. Banyak pemimpin saat ini keblenger dengan jabatannya sehingga lebih memusingkan “bagaimana mempertahankan kursi” dibanding dua hal yang saya sebutkan di atas.

Sebagai orang Kristen, saya cuma bisa mengatakan, “i see Jesus in him”, sesuatu yang ironisnya tidak bisa saya  temukan dalam orang-orang yang mengaku diri PENDETA BESAR. Seorang Jokowi yang mengerti “menjadi sama dengan yang dipimpinnya untuk menunjukkan mana yang benar” versus Pendeta Besar yang “mengajar mana yang benar setelah itu tidak peduli”. Seorang Jokowi yang mengenakan pakaian sederhana agar rakyat tidak merasa canggung bicara dengannya versus Pendeta yang sibuk memikirkan jas dan dasi yang harus dipakai sehari-hari.

Ketika Firman Tuhan mengatakan agar kita menjadi “kepala” dan bukan “ekor” saya percaya itu tidak bicara soal gengsi, tapi soal teladan. Ketika seseorang menjadi pemimpin, yang penting bukanlah gengsi yang dimilikinya karena menjadi pemimpin, tapi bagaimana ia menjadi teladan hidup yang diikuti oleh “tubuh” dan “ekor”. Tapi ironisnya, saya melihat dalam gereja yang dipentingkan adalah GENGSI.

Banyak orang berebut-rebut menjadi majelis, atau pemimpin dalam departemen agar mendapatkan gengsi. Bersembunyi dibalik “melayani Tuhan” untuk merasa superior dari jemaat lain. Memikirkan mobil, jas dan perangkat gengsi lain ketika ia terpilih menjadi salah satu pemimpin gereja.

Menurut wakilnya, Basuki, Jokowi bangun di waktu subuh untuk bekerja. Semangat ini pastinya menular pada anak buahnya, yang pastinya sungkan jika bersantai-santai saat pemimpinnya bekerja.

Sementara di Mega Church atau Gereja Bintang Lima, seringkali arogansi pemimpin puncak menular ke pemimpin-pemimpin kecil, menyisakan jemaat yang kebingungan (yang tidak jarang juga di”pekerjakan” dengan slogan “melayani Tuhan” untuk kebesaran nama si pemimpin).

Well, jika Yesus belum turun dulu itu… Mungkin orang lebih mengira Jokowi sebagai juruselamat ketimbang para pendeta Mega Church itu… Itu sih menurut saya, bagaimana dengan Anda?

Dan….jika Anda adalah pemimpin, apakah anak buah atau orang lain yang melihat Anda akan berkata, “i see Jesus in you”?

Advertisements