Saya suka sekali dengan materi matematika kelas 1 SMP dan 1 SMA tentang LOGIKA MATEMATIKA. Dulu, saya melihatnya hanya sebagai sebuah materi pelajaran. Tapi setelah saya dewasa (dan pernah menjadi guru yang mengajar materi ini), bagi saya logika matematika itu merupakan sebuah pelajaran mendasar dan paling penting yang harus diajarkan kepada para siswa (mungkin itulah kenapa materi ini disimpan setiap awal pelajaran matematika, baik SMP maupun SMA).

Hal yang saya sukai dari Logika matematika adalah persamaan-persamaan sakti yang SEHARUSNYA diterapkan dalam hidup sehari-hari jika kita ingin dikatakan manusia yang cerdas. Saya beri contoh sederhana dari sebuah persamaan” jika A maka B. Dalam persamaan matematikanya ditulis A ->B, di mana jika A bernilai benar, dan B bernilai benar maka A->B adalah benar, namun belum tentu B disebabkan oleh A saja. Bingung? Saya beri contoh.

A: Saya kehujanan
B: Saya sakit
A -> B: Jika saya kehujanan, maka saya sakit

Namun dengan persamaan ini, tidak berarti bahwa saya sakit hanya disebabkan oleh saya kehujanan (mudah-mudahan Anda menangkap maksud saya). Bisa saja saya sakit karena saya salah makan, atau saya sakit karena saya terlalu lelah. Jadi hanya berlaku satu arah, A hanya salah satu penyebab B.

Berbeda dengan persamaan “B jika dan hanya jika A” (ditulis A<->B) seperti ini:

A: Saya nakal
B: Saya dihukum mama
A<->B : Saya dihukum mama jika dan hanya jika saya nakal.

Artinya, mama tidak menghukum saya jika saya mendapat nilai jelek atau saya sakit, atau saya baik atau alasan lainnya. Mama menghukum saya jika dan hanya jika saya nakal.

Agak memusingkan sampai sini, tapi tenanglah, saya tidak menulis ini untuk membahas tentang masalah logika matematika saja. Saya menulis ini dalam hubungan penerapan logika matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita melihat orang-orang yang berbuat tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan hukum logika matematika ini. Contohnya mereka yang membuang sampah sembarangan. Mereka tahu bahwa jika sampah dibuang sembarangan, maka akan menyebabkan banjir (walau banjir tidak hanya disebabkan oleh sampah). Walau mereka tahu kenyataan ini, mereka tetap saja membuang sampah sembarangan dan menyalahkan pihak lain karena banjir yang disebabkan oleh sampah mereka.

Atau dalam sebuah hubungan (ini sebenarnya inti dari tulisan saya). Pernahkah Anda menemukan seseorang yang suka sekali membuat gara-gara. Mungkin ini disebabkan sikap bawaan yang aneh dan tidak terkendali, mungkin juga karena dia memang sengaja melakukan ini untuk menarik perhatian, tidak ada yang tahu selain dia sendiri. Karena sikapnya yang aneh ini, orang di sekitarnya bereaksi bukan? Tentu saja, mahluk hidup akan bereaksi pada apa yang terjadi di sekitarnya.

Ini merupakan sebuah persamaan logika matematika sederhana seperti : Jika kamu aneh, maka sekelilingmu akan bereaksi negatif terhadap keanehanmu. Walau sikap negatif sekeliling kita tidak selalu disebabkan karena keanehan kita, namun seperti yang pernah saya bilang, kita tidak bisa mengendalikan orang lain, kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri.

Memang, “aneh” sendiri sebenarnya adalah relatif. Mungkin saja saat ini pun Anda berpikir bahwa saya aneh dan Anda bereaksi negatif terhadap keanehan saya. Namun bukankah itu masih memenuhi teori logika matematika yang saya buat tadi? Jika kita aneh, sekeliling kita akan bereaksi negatif (tidak peduli siapa yang aneh dan bagaimana keanehannya karena itu relatif).

Nah, belum lama ini saya menemukan seseorang yang menurut saya aneh (sebenarnya sudah lama saya berpikir bahwa dia aneh), dan saya pun yakin tidak hanya saya yang berpikir bahwa dia aneh (bukankah keanehan seseorang itu bisa disahkan jika banyak yang berpikir dia aneh?)

Karena dia seorang yang sudah berumur, maka seringkali banyak orang memaklumi keanehannya dan berpikir bahwa “ah, dia memang orang aneh” atau “ya, harap maklum saja, dari muda dia begitu”. Nah suatu kali, saya bereaksi atas keanehannya karena saya pikir, “wah, ini sudah udah luar biasa aneh”. Mungkin saya juga dianggap aneh karena menanggapi orang aneh. Namun saat itu saya tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak bereaksi terhadap keanehan yang luar biasa ini.

Namun seperti yang sudah saya pikirkan sebelumnya, pada akhirnya sayalah yang dinilai menjadi tokoh antagonis karena reaksi saya tersebut (walau tak sedikit juga yang senyum-senyum sendiri dan menyetujui reaksi saya). Mungkin Anda bertanya, jika saya sudah menebak bahwa akhirnya saya dinilai negatif, lalu mengapa saya lakukan juga. Hmm, pernahkah Anda merasa tidak tahan lagi sebuah keanehan yang dilakukan orang lain kepada Anda dan Anda bereaksi? Mungkin tidak, karena Anda tinggal di negara timur yang terlalu banyak aturan dan kekang pada anak muda. Namun anggaplah aturan dan kekang itu dicabut, apakah Anda akan bereaksi?

Jika tidak, hmmm….mungkin memang saya yang aneh haha… Bahkan saya merasa bahwa tulisan kali ini pun anehnya bukan main… Sudahlah,…Happy Sunday All…

Advertisements