Anjing dan remah-remah


Filip

Suatu kali, seorang sahabat pernah memberi kami dua ekor anjing pom, untuk saya dan teman saya. Anjing yang saya pilih bernama Filip, karena konon menurut teman saya Filip lebih tenang, menyisakan anjing bernama Sansan untuk teman saya. Pertimbangan saya? Filip akan saya berikan untuk menjadi teman nenek saya, dan sudah tentu nenek saya akan kerepotan jika diberi anjing yang cukup aktif, sedangkan teman saya akan memberikan San2 untuk anak-anaknya yang pasti lebih suka anjing yang aktif.

Setelah hampir setahun di rumah yang terpisah, Sansan dan Filip menunjukkan karakter yang berbeda. Filip terlihat sekali anjing orangtua, begitu taat dan penuh dengan aturan. Filip masuk kandang sendiri pukul 9 malam untuk tidur dan tidak mau tidur di tempat lain selain kandang, Filip menunggu tante saya pulang di sore hari. Filip hanya makan yang diberikan padanya, Filip tidak kencing sembarangan dan merasa sangat bersalah jika sampai “kelepasan” kencing di dalam rumah, Filip menggonggong ketika ada tamu datang untuk memberitahu nenek saya.

Sansan

Sedangkan Sansan adalah anjing anak-anak, senang berlari ke sana kemari, bisa dibonceng sepeda atau motor, menggonggong saat tuannya datang untuk menyambutnya, bisa tidur di mana saja, merasa tersiksa jika harus masuk kandang, baru bisa belajar kencing di luar rumah. Well, saya tidak terlalu tahu karakter Sansan karena jarang sekali bertemu dengannya. Namun saya menemukan persamaan dari kedua anjing ini, mungkin juga sama dengan anjing-anjing lainnya.

Anjing suka meminta remah-remah dari meja tuannya. Ketika tuannya sedang makan, ia akan menatap dengan pandangan memelas dan memohon agar tuannya sudi memberikan potongan kecil, bekas atau apapun namanya untuk dirinya. Ya, bagi seekor anjing, remah-remah dari seorang tuan cukup untuk dirinya, biasanya, anak-anak suka sekali menyelundupkan makanan dari piringnya untuk anjingnya… Saya suka melakukan itu, memotong sedikit bagian saya dan memberikannya untuk Filip.

Saya jadi ingat kisah mengenai seorang wanita Kanaan yang dikatai anjing oleh Tuhan Yesus ketika ia minta Yesus menyembuhkan anak gadisnya yang kerasukan setan. Tidak! Jangan berpikir kalau Yesus kasar. Dia mengatakan “tidak pantas memberikan roti untuk anak-anak kepada anjing” dengan satu tujuan. Saat itu orang Israel besar kepala karena merasa keturunan dari Abraham. Mereka memandang rendah orang-orang dari bangsa lain.

Sebenarnya Yesus ingin menunjukkan pada orang Israel bahwa siapapun, tak peduli dari keturunan apapun, berhak mendapatkan bagian dari Tuhan. Tuhan tahu iman yang besar dari orang wanita Kanaan itu, dan Dia ingin menunjukkannya kepada orang Israel yang memandang sebelah mata kepada wanita itu.

Gayung pun bersambut, wanita itu menjawab, “benar Tuhan, tapi anjing di bawah meja itu pun makan dari remah-remah anak-anak tuannya.” Bagi seekor anjing, tidak masalah makan dari remah-remah tuannya. Tidak ada harga diri yang terlalu tinggi bagi seekor anjing untuk makan dari remah-remah milik anak majikannya. Justru itu yang diharapkan anjing, remah-remah dari anak-anak majikannya.

Hasilnya? Anak wanita itu disembuhkan oleh Yesus.¬†Pantaslah Tuhan Yesus berkata “Berbahagialah orang yang rendah hati; Tuhan akan memenuhi janji-Nya kepada mereka!” (Matius 5:5 versi BIS).

Apakah Anda memiliki anjing di rumah? Jika ya, sekali-kali Anda mengamati dan dapat belajar banyak dari mereka.

Advertisements