Saya pernah mendengar percakapan dua orang ibu di ruang ganti sebuah gym kurang lebih seperti ini:

Ibu A: “urang mah boga budak temaja teh meni kasiksa, siga setan. Dibejaan meni teu nurut. Nepi urang mah sok nangis sorangan” (saya merasa tersiksa punya anak remaja, kelakuannya seperti setan. Dikasihtau ga mau nurut. Sampai saya suka nangis sendiri)

Ibu B: “heeh urang ge sarua. Mun dititah mandi teh teu bisa sakali dua kali. Kudu tilu kali, eta ge bari ngabentak” (saya juga sama. Kalau disuruh mandi ga bisa sekali dua kali. Harus 3 kali, itu juga sambil membentak.)

Ibu A: “bisana teh mentaan duit we ka kolot.” (Bisanya cuma minta uang ke orangtua)

Ibu B: “dibelaan wae deui ku emana, nepi urang teh keuheul. Ai bareto ka urang meni keras-keras teuing. Ayeuna ka incu meni kitu” (dibela terus lagi sama neneknya. Dulu ke kita sikapnya sangat keras, sekarang ke cucu kok begitu)

Itu kurang lebih percakapan dua nenek lampir, ehm, maksud saya dua ibu muda yang lagi galau karena anak remaja mereka yang sulit diatur.

Saya sendiri memiliki seorang anak didik sepenuh waktu yang masih remaja. Saya katakan sepenuh waktu karena saya menjadi pendidik sekaligus walinya selama 24 jam dalam sehari 28,5 hari dalam sebulan.

Sungguh aneh karena biasanya anak remaja bisa membentak orangtuanya sendiri namun tidak berani membentak orang lain. Entah apakah ini bukti kasih pada orangtua, saya tidak tahu. Tapi dugaan kuat saya adalah sebagai bentuk pertahanan diri, karena orang tuanya yang membentak duluan, sejak dia anak-anak.

Walau memiliki ciri khas anak remaja lain, namun saya memiliki keuntungan karena dia tidak bisa membentak saya, dan saya bisa mengoreksi dia tanpa harus kuatir akan dibentak.

Baru saja saya mengoreksi dia tentang dua hal. Pertama adalah kebiasaanya tidak bereaksi saat menerima perintah, “Beth, cuci piring”, hening…. “beth…” hening… Memang saya tahu pasti dia sedang tanggung mengerjakan sesuatu, tapi saya lebih menerima jawaban “nanti sebentar” daripada tidak dijawab.

Jadi, karena ini sekolah kehidupan, daripada marah-marah, sebaiknya beritahu, “kalau diajak ngomong, biasakan merespon, supaya yang ngajak ngomong tahu kalau kamu mendengar. Jawab ‘nanti tanggung’ juga gapapa, asal pastikan nanti dilakukan”.

Kedua, soal kebiasannya merespon dengan ‘haah’ saat diajak bicara. Saat saya tanya, ’emang ga kedengeran Beth? Nih saya ada obat tetes telinga’ dia jawab, “sebenarnya kedengeran, tapi kebiasaan” walau demikian saya tetap memaksanya membersihkan telinga.)

Tapi soal kebiasaan kedua ini, saya rasa bukan anak didik saya saja yang memilikinya. Bahkan saya pun dulu pernah ditegur mama saya karena kebiasaan ini.

Intinya, pembaca… Anda punya anak yang menginjak remaja? Awali dari Anda, jangan membentak. Jika memang sudah terlanjur (sejak kecil Anda bentak2), ajak dia bicara, “mari kita tetapkan aturan mainnya… kamu sudah remaja, mama tidak akan bentak kamu lagi. Tapi mama harap kamu juga tidak membentak mama. Dan karena kamu sudah remaja, ada beberapa kebiasaan yang harus kamu bangun supaya kita tidak saling membentak, dan mulai saling mempercayai…(lanjutkan)”

Percayalah, itu jauh lebih baik daripada mengata-ngatai anak remaja Anda seperti setan pada orang lain. Lagipula, bukankah kasih menutupi segala sesuatu?

Advertisements