Profesi saya saat ini adalah seorang konsultan. Saya memberikan konsultasi kepada beberapa perusahaan dalam membuat suatu sistem HRD yang baik dan berkualitas. Hal yang paling menarik adalah karena di setiap perusahaan pasti saja ada konflik antar pegawai, entah itu disebabkan oleh seorang pegawai yang sok berkuasa, senioritas, atau karena ketidak pedulian pemimpin terhadap pekerjaan divisinya.

Di perusahaan klien tempat saya memberikan konsultansi saat ini, ada seorang ibu yang tidak disukai oleh rekan-rekan sejawatnya. Kedudukannya sebagai sekretaris komisaris membuatnya terlalu sering “sok ikut campur” urusan di luar pekerjaannya dan bertindak seolah-olah ia memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding rekan-rekannya yang lain.

Salah satu hal yang menjadi keberatan teman-teman sejawatnya adalah mengenai kebiasaannya menagih-nagih laporan yang bukan kapasitasnya, dan mencela pekerjaan semua orang yang ada di tempat itu. Namun seperti permasalahan klasik lainnya, ibu ini berhasil mengambil hati komisaris sekaligus pemilik perusahaan, sehingga tak ada satu pun yang bisa menunjukkan ketidaksukaannya blak-blakan karena yang bersangkutan pasti akan mengadu.

Sebagai seorang bawahan, ibu ini mungkin merupakan tipe bawahan teladan, siap melaporkan apapun, siap mewakili pemilik (walau tanpa surat penunjukkan), siap menjilat sepatu siapapun yang menjadi bosnya. Sebagai rekan sejawat, ibu ini adalah tipe rekan yang sangat menyebalkan, tidak bisa diajak kompromi, sok mengadu (dengan atau tanpa bukti yang jelas), sok tahu dan sok mengatur.

Di sekeliling kita seringkali menemukan orang-orang seperti ini bukan? Sejak kita SD ada saja anak-anak emas yang menjadi pengadu di kelas, berusaha menarik perhatian guru dan suka mengatur. Anak semacam ini tidak peduli jika teman-teman sekelasnya tidak menyukainya karena toh ia disukai oleh otoritas tertingginya, sang guru.

Setiap orang ingin menjadi nomor satu. Beberapa menjadi nomor satu dengan berlari sekuat-kuatnya, beberapa menjadi nomor satu dengan menendang dan menyakiti yang lain, dan beberapa lainnya menjadi nomor satu dengan tanpa usaha karena memang diberi kemampuan khusus.

Saya mengenal juga seorang bapak yang selalu ingin bersaing dengan orang lain dalam segala hal. Mulai dari wajah bayinya harus (dipastikan) lebih manis dan lucu dari wajah bayi saingannya. Sekolah puterinya harus (dipastikan) lebih baik dari sekolah puteri saingannya. Lucunya, ia bersaing secara brutal. Anak saingannya baik dalam kecerdasan logika (matematika), maka ia memaksa puterinya untuk baik dalam matematika, anak saingannya baik dalam memainkan alat musik, ia memaksa puterinya untuk belajar musik (yang mungkin tidak disukai puterinya).

Saking sibuknya ia dengan persaingannya ia sampai lupa, bahwa puterinya memiliki kehidupannya sendiri, bahwa jika ia menaruh puterinya dalam kehidupan orang lain, maka puterinya tidak akan pernah bisa sukses. Bahwa seandainya saja ia memberi keleluasaan pada puterinya untuk berkarya, maka puterinya akan menjadi orang yang lebih sukses dari yang ia kira.

Setiap orang ingin menjadi nomor satu. Namun persaingan dengan orang lain tidak akan pernah bisa membawa seseorang menjadi nomor satu, malah justru akan membuat seseorang memiliki kecenderungan menjadi jahat dan egois. Apalagi kecenderungan seseorang adalah tidak suka jika melihat orang lain lebih baik dari dirinya.

Ada sebuah adegan dalam film “three idiot” yang saya sukai, yaitu ketika tiga sahabat (Farhan, Rancho dan Raju) mengikuti ujian. Ketika pengumuman dipasang, Farhan dan Raju melihat bahwa mereka berdua menempati urutan terbawah dan kedua terbawah. Karena ekspektasi mereka pada Racho rendah, maka mereka mencari Racho di daftar terbawah dan tidak menemukannya. Saat itu mereka sedih karena mengira sahabat mereka tidak lulus ujian.

Tak lama mereka sadar ketika orang yang dharapkan menjadi nomor satu di kelas menangis karena hanya menjadi nomor dua, dan ternyata yang menjadi “terbaik” di kelas itu adalah Rancho.

Suatu kalimat yang saya sukai dari Farhan adalah “kami tidak pernah menyangka, bahwa  mengetahui bahwa sahabat kita tidak berhasil itu terasa buruk, namun mengetahui bahwa sahabat kita lebih baik dari kita terasa lebih buruk lagi.”

Lain kali saya mungkin akan menuliskan reviewnya. Tapi di sini saya cuma ingin menyampaikan bahwa, persaingan melawan orang lain tidak akan pernah berhasil. ingin menjadi nomor satu hanyalah merupakan kesia-siaan saja. Mengutip kata seorang Raja yang bijak “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pengk 4:4).

Bersainglah melawan diri sendiri, bagaimana caranya agar kita selalu lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana caranya agar pencapaian hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini.

 Dan mengenai kedudukan, bukankah Tuhan Yesus pernah berkata,

“Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.

Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.  Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 14 : 8 – 11)

 

Advertisements