Baru saja saya mendengar (tepatnya membaca) suatu berita yang luar biasa mengejutkan. Seorang teman dipanggil pulang oleh Tuhan. Teman ini memang sudah sekitar 8 tahun tidak saya temui. Namun 8 tahun yang lalu, kami bersama-sama melayani di salah satu satelit Gereja saya di Bandung karena dia adalah salah seorang mahasiswa Teologia yang memang wajib melayani di salah satu satelit.

Dia adalah seorang yang begitu baik, begitu helpful, begitu lembut, walau tidak terlalu banyak bicara saat itu. Setelah dia lulus dari sekolah Teologia tersebut, dia pulang ke kampung halamannya, atau entah di mana dia bertugas melayani Tuhan, saya tidak pernah melihatnya lagi.

Hari ini, Tuhan memanggilnya setelah beberapa minggu ia berjuang melawan penyakit yang Tuhan ijinkan dideritanya. Saya yakin apapun yang terjadi dirancangkan Tuhan untuk kebaikan bagi siapa saja yang mengasihi Dia.

Melihat timelinenya di facebook hari ini menimbulkan sebuah pemikiran menarik. Timelinenya hari ini dipenuhi ungkapan simpati dari sahabat dan orang-orang dekat. Suatu hal yang biasa di dunia maya, ungkapan yang tidak dapat terucapkan oleh kata atau surat. Hanya untuk menunjukkan pada orang-orang terdekat lainnya bahwa mereka peduli dan mengasihi teman yang dipanggil Tuhan (reaksi yang berbeda dengan reaksi para malaikat yang berpesta pora menyambut seorang anak yang dipanggil pulang oleh Bapa.)

Betapa banyak akun di Facebook yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Pemiliknya meninggal tanpa mewariskan password facebooknya, meninggalkan sebuah catatan kenangan untuk orang-orang yang ditinggalkan. Beberapa meninggalkan timeline yang penuh dengan kata -kata positif, beberapa lainnya meninggalkan timeline yang penuh dengan kata-kata kotor atau makian.

Saya mengenal seorang remaja yang status facebooknya berisi tiga hal: makian kasar untuk temannya, keinginannya untuk mati, pujian pada Tuhan. Ya, memang aneh, ketiga hal tersebut mewarnai timeline facebooknya. Seperti seorang remaja labil yang tidak tahu kemana hidup akan membawanya. Namun sedihnya, betapa banyak remaja sekarang yang timelinenya dihiasi oleh hal-hal seperti itu. Di suatu saat memuji Tuhan, di saat lain memaki-maki orang.

Mungkin jejaring sosial seperti facebook merupakan suatu nisan yang berbicara. Walau pasti diakhiri dengan kata-kata manis dan ucapan selamat tinggal tulus dari orang yang bersimpati, namun cukup menggambarkan pemiliknya yang sebenarnya.

Hidup lebih kompleks dari facebook. Apa yang kita katakan, lakukan, perbuat terekam dalam diri orang-orang sekitar kita. Kepergian seorang teman cukup untuk mengingatkan kita. Jika suatu saat tugas kita selesai dan Tuhan memanggil kita, status seperti apa yang akan dibaca orang di akun jejaring sosial kita. Terlebih lagi, kenangan macam apa yang akan kita tinggalkan di hati orang-orang sekeliling kita? Apakah kenangan baik, kenangan buruk, atau tidak ada kenangan sama sekali??

Lebih jauh, peninggalan apa yang akan kita tinggalkan untuk mereka yang masih hidup? Karya yang baik, buruk, atau tidak ada karya sama sekali??

Tidak ada gunanya saya mengucapkan selamat jalan untuk teman sepelayananku, Yapi… Mungkin kalimat “selamat bertemu lagi” lebih tepat. Tuhan pasti sangat menyayanginya, sehingga dia dipanggil sebelum dunia ini semakin sulit…

Buat semua yang ditinggalkan, dan semua pembaca yang baru ditinggalkan oleh orang terkasih. Saat-saat berkabung akan segera lewat, menyisakan sebuah pertanyaan besar, apa yang akan terjadi jika kita yang mendapat giliran??

Advertisements