Image, Penampilan dan Kepercayaan


Kemarin saya baru memaksa anak didik saya untuk menggunting kukunya yang panjang. Kukunya yang dibentuknya berminggu-minggu lamanya, yang diwarnai dengan cairan pewarna kuku yang aneh warnanya, saya paksa untuk digunting habis!

Saya katakan bahwa image yang baik seringkali rusak oleh hal kecil yang kelihatannya tidak penting. Abeth (anak didik saya) adalah seorang siswa “homeschooling fulltime” yang di dalamnya mempelajari musik, mengetik (ketika mengerjakan tugas atau belajar), mencuci piring, masak nasi, dll. Ketika orang melihat apa yang Abeth kerjakan, maka mereka akan memiliki penilaian yang baik tentang Abeth. Namun bayangkan jika kemudian mereka melihat kuku Abeth yang sangat panjang, maka penilaian mereka mungkin akan berkurang. Hal yang tidak penting seperti kuku panjang yang diwarnai bisa mengurangi penilaian orang pada kita, bukankah ironis?

Kemarin kami kedatangan tamu. Ia seorang pria baik yang memiliki masa lalu yang tidak baik. Masa lalunya membuatnya tidak bisa memberikan kesaksian hidup jika dia tidak memiliki keberanian untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya itu. Begitu banyak sahabatnya yang dia tipu. Beberapa tertipu jutaan, beberapa puluhan juta, beberapa ratusan juta. Modusnya sama, bertemu di hotel bintang lima, berpura-pura meminjam handphone atau melihat barang yang akan dibeli, kemudian kabur lewat pintu belakang.

Kemarin, saya mendapat keberuntungan karena menjadi satu dari sedikit sekali orang yang mendengarkan kesaksiannya. Saat saya tanya, “memangnya ga ada pilihan waktu itu”, dia jawab “Tidak. Tidak ada seorang pun yang membantu saat saya jatuh, bahkan keluarga besar saya sendiri. Saya melihat, menipu adalah satu-satunya cara mendapat uang untuk menghidupi keluarga saya. Apa saya salah?”.

Kejadian terakhir dan terburuk yang menjadi titik baliknya adalah ketika dia menipu seorang preman yang merangkap debt collector. Setiap malam kumpulan preman itu menjemputnya, memukulinya, dan melepasnya menjelang subuh. Esoknya hal yang sama terjadi, begitu pula esoknya dan esoknya dan esoknya. Hingga dia tidak tahan lagi.

Kemudian dia menghubungi teman saya (yang pernah tertipu juga puluhan juta namun memutuskan untuk memaafkan dia). Teman saya yang sebenarnya sudah jengkel memberinya tiga potong kemeja miliknya yang paling bagus, satu potong celana, sepatu yang bagus dan uang 100 ribu rupiah kemudian menyuruhnya pergi dari kota ini untuk mencoba mengadu untung ke Jakarta.

Saat perjalanan ke Jakarta, dia berdoa sama Tuhan kurang lebih seperti ini, “Tuhan, saya ingin berubah. Tolong berikan aku cara yang baik, dan aku tidak akan menipu lagi.” Doa yang luar biasa baik, dan Tuhan mendengarnya. Namun setibanya di Jakarta, permasalahan kembali muncul. Apa yang dapat dilakukan dengan hanya Rp. 100.000, sebuah tas berisi 3 kemeja, celana dan sebuah sepatu.

Kemudian dia mendapat ide, kurang lebih idenya adalah “penampilan membentuk image seseorang”. Dia mengenakan kemeja terbaik yang diberikan teman saya, celana, dan sepatu bagus. Setelah dia yakin dirinya berpenampilan “perlente”, dia mencari sebuah rumah kos. Mengatakan bahwa dia datang dalam rangka pekerjaan dan akan mendapat uang dari pekerjaannya dalam waktu 2 minggu.  Ibu kos mempercayainya dan masalah pertama mengenai tempat tinggal terselesaikan.

Setelah itu, Tuhan membantunya. Tidak ada lagi tipu menipu. Namun kendalanya hanya satu. Jika dia kembali ke Bandung, dia belum memiliki cukup uang jika harus membayar semua kerugian yang ditimbulkannya pada orang-oraing yang dia tipu. Saya berdoa agar Tuhan memberkatinya dan memberinya jalan untuk kehidupan yang lebih baik.

Jangan salah sangka dengan tulisan saya, saya tidak bermaksud mengajari Anda untuk berpenampilan perlente agar menipu orang. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah apa yang kita kenakan menentukan bagaimana orang menilai kita. Jangan salahkan orang yang menilai kita buruk jika kita memakai pakaian yang tidak sepantasnya. Jangan salahkan orang yang tidak mempercayai kita jika kita mengenakan kostum yang salah untuk suatu acara.

Dan…saya juga ingin mengingatkan kita semua pada sebuah ayat “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang” (Efesus 13:14a). So… Para pelajar, cek kuku, rambut, dirimu, sikapmu, apakah kamu sudah memancarkan Kristus?

Advertisements