Saya pernah cerita kalau saya seorang yang naif, mempercayai semua yang dikatakan pada saya. Tapi seseorang juga pernah bilang bahwa saya seorang fatalis, “now or never” dan “my way or i don’t care” atau “o atau 100” (Saya tidak yakin juga sebenarnya apakah ini yang disebut fatalis atau bukan).  Hubungan antara kedua hal itu? Banyak yang menasihati saya agar menjadi “cerdas”, tidak mudah tertipu, dan jangan naif. Jadi, saya sekarang memutuskan untuk tidak naif lagi, tapi karena saya seorang fatalis akibatnya saya malah cenderung tidak mempercayai semua orang (tepatnya sulit mempercayai kehidupan).

Baik, itu tadi hanya pengantar. Saya akan menceritakan duduk masalahnya tanpa tambahan apapun dulu (yang sudah diceritakan dengan gaya adik saya di sini). Dua hari yang lalu papa saya kehilangan handphone (untuk kesekian kalinya, karena kesibukan di apotek, papa menyimpannya di etalase, dan seseorang yang merasa tertarik memutuskan untuk mengambilnya). Handphone papa saya yang diambil bukan blackberry atau i-phone atau smartphone mahal lainnya. Hanya handphone china dengan 3 kartu di dalamnya.

Kemarin, papa saya menelepon saya meminta saya membeli handphone yang sama persis dengan yang hilang, Qwerty, dual gsm dan cdma, merk cross. Sepulang dari klien, saya mampir di BEC untuk mencari handphone yang dimaksud, mengelilingi BEC dan hasilnya nihil. Tidak satupun kios yang menjual HP sejenis HP papa saya yang hilang, menurut mereka sih, sudah tidak diproduksi lagi.

Jadi, saya telepon papa saya untuk melapor bahwa handphone yang dicarinya tidak ada. Walau saya menawarkan alternatif lain (membeli samsung dual gsm cdma), papa saya memutuskan untuk “ya udah ga usah dah”.

Malamnya, papa saya menelepon saya saat saya sedang di rumah nenek saya. Menceritakan bahwa handphone-nya sudah ditemukan. Katanya, salah seorang kenalan papa saya menelepon nomor papa saya dan diangkat oleh si pemegang HP. Kemudian teman papa saya mengusulkan agar papa saya menelepon nomor-nya untuk mengenal lebih jauh si pemegang handphone itu (sebenarnya untuk menagih).

Menurut cerita papa saya pula, kemudian papa saya menelepon si pemegang handphone dan bertanya dari mana ia bisa mendapatkan handphone itu. Menurut si pemegang, dia mendapatkannya dari orang yang menjualnya dengan harga Rp.300.000 (yang dijawab oleh papa saya “mahal-mahal teuing, 200 rb juga kemahalan”, reaksi yang sama seperti saya saat papa saya cerita). Tapi karena di dalamnya ada nomor telepon penting papa saya, dan papa saya malas mengurus nomor baru, dan pertimbangan handphone dual gsm dengan cdma (jadi 2 kartu) sudah tidak diproduksi lagi, akhirnya papa saya berkata “ya udah anterin dah, nanti saya ganti yang 300 rebu sama ongkosnya).

Saat papa saya cerita seperti itu, saya tidak percaya pada cerita orang itu, saya bilang pada papa saya, “ah, mugkin dia sendiri yang ngambil, atau temennya terus ga laku dijual jadi mutusin untuk balikin lagi dengan nagih duit.” Saya baru tahu barusan kalau orang tersebut ternyata mengatakan “bapak orang Chinese? kata teman saya, kalau orang Chinese banyak uangnya, bisa panggil polisi” yang dijawab oleh papa saya “ah, masa uang segitu aja panggil polisi. Udah anterin aja, saya butuh nomornya” Cerita ini menambah kecurigaan saya pada si pemegang HP.

Tadi pagi, saya telepon papa saya untuk menanyakan mengenai HP-nya. Papa saya bilang bahwa si pemegang HP belum mengembalikan HPnya seperti janjinya kemarin. Namun ketika saya telepon papa saya lagi di malam hari, papa menceritakan bahwa HPnya sudah ada di tangannya. Si pemegang HP, yang mengaku berprofesi sebagai tukang bangunan, menelepon papa siang hari dan meminta maaf karena tidak bisa mengantar (kalau saya, mungkin sudah mengamuk. saya paling sebal dipermainkan seperti ini). Namun kemudian papa saya meminta tolong pegawainya mengambil handphone itu, dan uang Rp.300.000 yang dijanjikan papa saya.

Saat ini HP itu sudah kembali pada papa saya. Namun tadi malam saat saya menelpon, saya menyampaikan kembali kecurigaan saya pada papa saya, “sepertinya sih itu kalau engga dia ya temannya yang mengambil, tapi kemudian ga laku dijual, karena handphone china. Jadi dia memutuskan, sepertinya lebih mudah jika mengembalikan pada pemilik namun dengan bayaran. Dengan pertimbangan si pemilik pasti butuh nomornya.”

Setelah saya menyampaikan kecurigaan saya, papa saya menceritakan versi si pemegang HP (saya rasa saya tahu dari mana saya mewarisi sikap “mudah percaya sama orang lain”). Menurut si pemegang HP, dia membelinya dari seorang yang mengaku tidak punya uang dan akan pulang kampung. Dengan pertimbangan di dalamnya ada 3 kartu, maka dia membelinya dengan harga Rp.300.000 (di mana menurut saya tidak masuk akal seorang tukang bangunan membeli HP bekas Rp.300.000 padahal HP sejenis yang baru saja harganya segitu).

Ya, saya sampai sekarang tidak percaya cerita itu. Tapi jika saya pikir-pikir, banyak hal yang tidak saya percayai dari orang lain (bahkan mungkin pada kehidupan). Anda mungkin dapat mengatakan saya skeptis, atau sakit jiwa. Memang ada akal budi, logika, dan perasaan. Saya belajar bahwa perasaan tanpa logika itu berakhir pada ditipu dan sakit hati. Saat ini logika dan akal budi hampir mendominasi hidup saya. Orang bilang perasaan membuat hidup lebih berwarna. Mungkin memang benar, namun bagi saya, perasaan pun berlandaskan pada logika.

Mungkin Anda bertanya, bagaimana dengan Tuhan, apakah harus masuk logikamu? Saya akan tanya balik, logika siapa yang Anda maksud? Bagi saya, kisah mengenai Tuhan yang menjadi manusia itu sangat logis. Tuhan begitu mengasihi ciptaan-Nya, ingin menunjukkan jalan yang hanya Dia sendiri yang mengetahuinya. Karena Dia Tuhan, satu-satunya jalan adalah dengan menjadi manusia untuk menunjukkan jalan pada manusia yang bebal, bodoh dan tidak berdaya ini. Sangat logis menurut saya.

Hanya kisah kematian di kayu salib yang tidak logis (walau bukan berarti tidak mungkin), namun saya percayai sepenuhnya. Justru tidak logisnya kasih yang ditunjukkannya di salib itu yang membuat saya menyerahkan hidup saya pada-Nya.

Well, selebihnya, semuanya harus masuk akal, di luar itu, hanya orang kurang waras yang melakukannya. Wah, kok jadi kemana-mana dan gak nyambung sama masalah naif dan skeptis tadi ya…

Enough for now. Sudah jam setengah 2. Besok saya akan membahas tentang image, penampilan dan kepercayaan. Jangan lupa mampir lagi ya…

Advertisements