Monyet di dunia manusia


Saya baru saja menahan diri untuk tidak menegur seseorang yang meludah sembarangan di area Braga City Walk. Rasanya kata-kata sudah ada di lidah saya, tapi saya putuskan untuk menahannya mengingat dua hal. Pertama, kalau diingat-ingat sepanjang minggu ini saya sudah cukup memarahi orang berkaitan dengan aturan, nilai atau norma (pertama satpam yang saya ceritakan tempo hari, kedua pria yang nekad masuk toilet wanita dengan alasan ‘sepi kok di toilet wanita’).

Kedua, ini hari terakhir saya di BCW, dan di saat bersamaan banyak tukang yang sedang bekerja. Melontarkan teguran pada mereka yang memiliki kualitas hidup rendah sama saja dengan mengajari monyet untuk membaca.

Namun, betapa kita lelah setiap hari berhadapan dengan para monyet, bukan? Mereka hidup semau-maunya seperti di hutan. Bahkan saya pikir, monyet pun punya aturan hidup di hutan untuk para monyet (walau itu tidak mencakup dilarang buang kulit pisang sembarangan).

Jka Anda tidak terganggu, itu berkat bagi Anda. Saya sih, luar biasa terganggu dan kesal melihat monyet-monyet berkeliaran setiap hari. Mereka yang sembarangan saja meniupkan asap rokok di tempat umum. Beberapa langkah saja saya keluar dari kantor saya dan tubuh saya akan beraroma asap rokok. Atau meniupkan asap rokok sembarangan tidak peduli di belakang mereka ada orang yang terganggu.

Mereka yang tidak memakai toilet dengan cara yang benar. Menginjak dudukan toilet atau menyemprotkan air kemana-mana sehingga toilet yang seharusnya kering menjadi becek

Belum lagi mereka yang buang sampah sembarangan, memenuhi kali dengan sampah mereka dan menyalahkan gubernur atau pemerintah saat terjadi banjir. Satu-satunya kesalahan pemerintah adalah tidak mengedukasi masyarakat, atau hukum mati saja sekalian mereka yang suka buang sampah ke kali.

Atau monyet-monyet yang suka nongkrong di pinggir jalan, menyuiti anak remaja putri yang lewat atau mengganggu siapa saja yang lewat. Saya bahkan pernah melihat anak-anak yang berteriak pada pengendara mobil, “pak, pak, bannya muter”, mengganggu dan tidak lucu sama sekali. Jika saya tidak di motor, tentu sudah saya hampiri anak-anak itu.

Mungkin sebagian orang membaca ini, mencoba sok bijak dan mengatakan, “kebahagiaan itu pilihan”. Ohoho tidak bung…saya tidak sedang bicara tentang kebahagiaan saya. Saya sedang bicara tentang kualitas hidup bangsa ini! Anda tidak merasa terganggu? Itu mungkin karena Anda tidak tahu aturan main dalam hidup, atau Anda tidak peduli pada kehidupan itu sendiri.

Seseorang pernah bertanya pada kami mengenai siswa homeschooling kami, “dia mau diarahin untuk masuk mana?” Yang dengan spontan saya jawab, “kehidupan”. Si penanya tidak mengerti dan mengulang, “maksud saya, untuk jadi apa?” Yang saya jawab, “manusia”. Penanya merasa bingung dan sekali lagi bertanya, “ya belajar apa?”. Akhirnya teman saya yang menyahut, “ya supaya tidak jadi monyet. Supaya bisa hidup sebagai manusia”.

Bagi Anda yang terganggu dengan tindakan monyet-monyet yang tidak bertanggungjawab, ada dua hal yang menurut saya bisa kita lakukan (selain mencalonkan diri jadi presiden), sebelum kita menjadi apatis dengang bangsa ini.
1. Ubah dulu diri kita. Jangan egois! Susah sedikit cari tempat sampah, atau tahan jangan merokok. Pahami karakter DISCRETION: batasi kebebasan kita untuk menghormati hak-hak orang lain
2. Jadi tutor untuk siapa saja yang dekat dengan Anda. Tegur dengan konsisten jika anak Anda buang sampah sembarangan, ajari pembantu Anda menggunakan toilet umum, beritahu suami Anda yang suka merokok di tempat umum. Andakan tidak mau mereka lama-lama jadi monyet.

Hal terpenting adalah membangun kebiasaan baik. Singapura membangunnya dengan menetapkan denda di mana-mana dan perasaan bahwa mereka diawasi. Jika kita tidak bisa seperti itu, setidaknya kita memulai hal yang baik, walau sedikit demi sedikit.

Advertisements