Kemarin saya marah besar… Masih ingat masalah gembok yang pernah saya ceritakan di sini? Nah, sejak itu saya mencoba untuk taat aturan (ditambah malas membeli gembok baru), saya selalu ingat untuk tidak membiarkan barang saya menginap di loker.

Ceritanya, kemarin malam, jam 19.50 saya minta tolong anak didik saya untuk mengambilkan tas saya di loker. Hari sabtu, biasanya tempat fitness tsb tutup pk.20.00. Lima menit kemudian, anak didik saya kembali dengan tas saya dan wajah kesal. Saat saya tanya kenapa, dia menjawab bahwa gembok saya sudah dirusak oleh petugas keamanan. Menurut murid saya, petugas tersebut berkata, “jika ibu Yoanna keberatan, akan saya ganti”

Mendengar itu tentu saja saya naik pitam. Tentu saja saya keberatan gembok saya dirusak. Bukan karena harga gembok yang tidak seberapa, tapi ini sih udah menyangkut aturan dan harga diri. Saya langsung menghadap manajer dari tempat tersebut sambil menahan kejengkelan saya?

Saya tanya, “Mba, sekarang sudah jam delapan, belum?” Yang dijawab dengan “belum” oleh manajer itu. Saya kemudian bertanya lagi, “oke, kalau gitu kenapa gembok saya dirusak?”. “Sama siapa?” Tanyanya, yang dijawab “security” oleh saya.

Mungkin manajer yang bersangkutan juga sedang banyak masalah, karena ia langsung masuk ruang manajemen, memanggil security dan menyerahkan kasus saya pada seorang customer service yang sepertinya siap menerima ledakan amarah saya.

Saat itu saya menekankan bahwa saya keberatan gembok saya dirusak sebelum jam tutup dan bahwa yang saya permasalahkan adalah jaminan keamanan, dan bukannya harga gembok. Jadi saya tidak terima dengan pernyataan, “jika ibu Yoanna keberatan, akan saya ganti”.

Ketika saya menyampaikan keberatan saya, turunlah staff keamanan tersebut yang tadi sudah dipanggil oleh manajer. Saat itu rupanya saya agak lepas kendali, ketika dia mengatakan, “dari atas sudah saya periksa tapi sudah tidak ada orang” yang langsung saya balas dengan setengah membentak, “saya tidak peduli ada orang atau tidak. Ini belum jam delapan, kenapa mba rusak gembok saya. Memangnya aturannya bagaimana?

Kok sembarangan saja merusak gembok. Ini sudah kedua kalinya saya terpaksa mempertanyakan keamanan tempat ini. Dulu sebelum aturan gembok, saya pernah menemukan jam 10 kurang 15 loker saya dalam keadaan dibuka dengan tas saya di dalamnya”

Hal yang paling membuat saya marah adalah, dia tahu pasti gembok siapa yang dia rusak, dan dia tahu kantor saya di bawah sehingga saya pasti mengambilnya sebelum jam 8.

Ketika dia janji mau mengganti gembok, saya makin marah, “Mba ngerti ga sih. Masalahnya bukan soal gembok, tapi aturan dan keamanan yang saya pertanyakan.”

Apalagi saat itu teman saya cerita bahwa ada loker yang tidak dirusak walau menginap. Ini membuat saya berang dan mempertanyakan aturan yang jelas-jelas tidak konsisten dan terkesan sentimen pribadi.

Saya mulai melunak saat dia mengaku salah, tidak berkelit lagi, dan minta maaf.

Well, seringkali ketika kita jelas-jelas salah, kita punya mental koruptor, berkelit dan cari pembenaran diri, di saat sebenarnya kalimat, “iya saya salah, maafkan saya. Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya” bisa membuat semua masalah selesai.

Saya ini termasuk orang yang jarang marah karena saya membedakan kesalahan menjadi “kelalaian” dan “kesengajaan” (mencakup kemalasan yang berakibat fatal). Kelalaian adalah kesalahan yang diakibatkan ketidaktahuan atau ketidaksengajaan, sedang kesengajaan adalah kesalahan yang dilakukan dengan sesadar-sadarnya.

Security tsb mungkin ingin pekerjaannya cepat selesai sehingga tidak mau menunggu waktu tutup sebelum merusak gembok. Ini jelas bukan kelalaian, dan saya marah untuk kasus begini.

Baru saja security yang bersangkutan menghampiri saya, meminta maaf sekali lagi dan mengatakan tidak bisa menemukan gembok yang persis sama. Saya baru menjawabnya bahwa saya punya 5 gembok yang persis sama seperti yang kemarin dia rusak, tapi jika dia mau ganti, gembok apapun akan saya terima. (Saya terpaksa membongkar gembok yang biasa kami gunakan untuk permainan treasure hubt)

Saya juga mengatakan padanya untuk lihat loker-loker yang ada, begitu banyak yang rusak, tidak bisa ditutup karena ulah dia merusak gembok begitu saja.

image

image

Gambar atas: mantan loker saya yang sekarang tidak bisa ditutup
Gambar bawah: loker-loker lain yang rusak, tidak bisa ditutup

Saya tidak lagi mempermasalahkan kejadian kemarin padanya, toh dia sudah minta maaf. Walau terkadang minta maaf saja tidak menyelesaikan masalah karena dampak dari kesalahan yang masih ada.

Sekali lagi, terkadang kalimat “iya saya salah, maafkan saya. Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya” adalah kalimat yang cukup efektif untuk meredakan kekesalan orang yang terkena dampak langsung dari kesalahan kita.

Advertisements