Bukan simbol, tapi iman! (The Rite)


image

Kemarin malam saya menonton sebuah film semi supernatural yang diangkat dari kisah nyata dan sarat dengan makna teologis. Jarang sekali saya puas ketika menonton sebuah film. Tapi setelah nonton film ini saya merasa seperti pulang dari sebuah pesta besar dengan banyak makanan enak… benar-benar puas. Saya malah merasa bahwa film itu layak menggantikan kotbah minggu yang belakangan isinya tidak beda dengan acara Mario Teguh.

Film ini berjudul “the Rite”, mengisahkan tentang seorang yang memiliki rasa penasaran yang besar tentang keberadaan Tuhan dan Iblis, hingga ia mengikuti sebuah seminari Katolik, namun keluar justru di tahun terakhir karena merasa kurang iman, baik pada Tuhan maupun Iblis.

Dalam film itu diceritakan bahwa kelas yang membuat Michael, tokoh pahlawan kita, meragukan imannya adalah mengenai keberadaan Iblis. Ia skeptis ketika Bapa Matthew membawakan sessi mengenai jenis-jenis Iblis dan bagaimana mereka bekerja. Bagi Michael Iblis itu mungkin hanya bualan, dan sejumlah kasus kerasukan mungkin hanya masalah syaraf saja, atau halusinasi.

Dari kilas balik yang menghiasi film, terlihat bahwa sejak kecil Michael sudah meragukan adanya Tuhan. Ia masuk sekolah seminari hanya karena beasiswa, karena kurangnya pastor di sejumlah gereja. Ketambahan lagi ia menghindar untuk meneruskan usaha ayahnya,… rumah duka.

Ketika ia menyampaikan keraguannya pada Bapa Matthew, ia malah diutus untuk menjumpai Bapa Lucas di Roma, seorang pastor unorthodox yang konon memiliki kuasa mengusir setan.

Perjumpaan dengan Bapa Lucas ternyata tidak membuatnya percaya, justru malah meningkatkan keraguannya. Ia melihat sosok Pastor yang emosional ketika berhadapan dengan Iblis yang merasuki Rosaria,seorang wanita hamil, korban perkosaan ayahnya sendiri, terlebih ketika ia melihat pastor Lucas menginterupsi proses pengusiran setan karena menerima telepon.

Walau ia sempat tercengang karena melihat beberapa paku keluar dari mulut wanita itu, ia masih merasa bahwa wanita itu butuh psikiater untuk menyembuhkan luka hati akibat perkosaan ayahnya.

Beberapa hal yang dikatakan Bapa Lucas, yang dengan sangat baik diperankan Anthony Hopkins, pernah saya dengar dari seorang pembina remaja yang melayani pelepasan saya (lain waktu detilnya saya ceritakan), bahwa mengusir setan itu butuh waktu lama, bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Bapa Lucas mengatakan ini setelah satu sessi pengusiran setan yang tidak berhasil karena setan itu menolak menyebutkan namanya (tersirat dalam film ini, membuat setan menyebutkan namanya adalah sesuatu yang penting, menunjukkan bahwa setan itu takut… seperti legion yang menyebutkan namanya pada Yesus, dan mempermudah pengusiran).

Mendengar ini, Michael bertanya, “dari mana kau tahu bahwa dia (iblis) masih menguasai diri wanita itu”. Dijawab oleh pastor dengan, “mengapa pencuri tidak menyalakan lampu ketika masuk ke rumah? Karena mereka ingin kita percaya bahwa mereka tidak ada di sana”, yang dengan cerdik dijawab lagi oleh Michael “lucu sekali mengakui keberadaan sesuatu justru jarena ketidak beradaannya”.

Dalam salah satu sessi pengusiran setan yang dilakukan Bapa Lucas pada Rosaria, iblis dalam wanita itu menyebut Michael dengan sebutan si peragu… menebak dengan benar kondisi hatinya yang ragu.

Saya tidak akan membeberkan semuanya, sebaiknya Anda membeli dvdnya dan menontonnya sendiri. Saya akan lompat ke akhir cerita.

Setelah kematian Rosaria, rupanya Bapa Lucas mengalami suatu keanehan, Iblis dari Rosaria merasukinya. Michael yang saat itu mencari Bapa Lucas untuk menanyakan sesuatu melihat keanehan ini. Antara sadar dan tidak Bapa Lucas berkata, “ini terjadi padaku, ikat dan tinggalkan aku, kau tak kan mampu mengusirnya”, kemudian Bapa Lucas memuntahkan paku, dan tindak tanduknya persis seperti Rosaria ketika kerasukan.

Betapa ironis bukan? Ini mengingatkan saya pada apa yang iblis katakan ketika tujuh orang anak imam mencoba mengusir setan, “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tapi kamu ini siapa?” (Kis 19:15).

Bagaimana mungkin seorang Bapa yang mengusir setan kerasukan?

Nah bagian yang paling saya sukai dari film ini adalah, ketika Iblis melalui mulut Lucas melancarkan tuduhan demi tuduhan pada Michael dan temannya, seorang jurnalis Italia. Bukankah itu yang dilakukan iblis menurut Firman Tuhan, menuduh kita dengan dosa-dosa kita dan keadaan buruk kita, membuat kita merasa lebih layak untuk Iblis daripada Tuhan?

Dalam salah satu kilas balik, diperlihatkan Michael kecil membengkokkan salib karena keraguannya, juga kata-kata mamanya saat ia kecil, “you are never alone” (yang maksudnya adalah bahwa Tuhan mengutus malaikat untuk melindungi anak-anakNya). Iblis ingin Michael percaya bahwa ia dari semula dilahirkan untuk jadi pengikut Iblis.

Dari praktek pengusiran setan oleh Bapa Lucas ditunjukkan bahwa Bapa Lucas menggantungkan harapannya pada  simbol-simbol dan doa-doa. Ia percaya bahwa salib dan salam Maria bisa mengusir iblis, namun ternyata tidak… wanita itu justru mati dan iblis berpindah tempat, menguasai tubuhnya.

Ketika disinggung oleh Iblis bahwa Michael sejak kecil berniat mematahkan salib dan tidak percaya Tuhan, dan dia didesak untuk mengakui kepercayaan dan imannya pada Iblis, di situ Michael menemukan imannya pada Tuhan.

“Ya, aku percaya padamu (pada iblis), aku percaya kau ada dan hidup.” Ketika iblis tertawa senang, ia melanjutkan, “karena itulah aku percaya oada Tuhan yang kebih berkuasa melalui AnakNya Kristus, yang telah mengusirmu ke bumi paling bawah…” dst, dengan imannya dan otoritas Tuhan ia menentang si Iblis sampai Iblis menyebutkan namanya Baal, dan meninggalkan tubuh Bapa Lucas.

Melalui film ini, kita diajar bahwa
1. Bukan simbol yang penting, tapi iman. Iman yang benar pada Tuhan yang hidup
2. Kita memiliki otoritas yang diberi oleh Tuhan sendiri, otoritas untuk menjadi anak-anaknya dan menang melawan Iblis
3. Iblis itu bapa pendusta, akan menuduh kita dengan dosa-dosa kita. Namun ingatlah, kita punya Kristus, pengantara, juru selamat, yang telah menghapuskan hutang dosa kita dengan darahNya.

Film ini sepertinya kurang mendapat pujian dari dunia perfilman holliwood walau tidak juga dikategorikan B-movie karena ada Anthony Hopkins di dalamnya. Namun dari sudut theologia, menurut saya, ini film yang hebat, saya merekomendasikan film ini… 4 thumbs up…

Advertisements