Bacaan yang (lebih) berat: kurikulum 2013 (bag.2)


Sesuai janji saya kemarin, hari ini saya akan membahas masalah yang cukup berat. Mungkin hanya dimengerti sebagian orang. Tapi tak apalah, mudah-mudahan cukup informatif dan menggelitik.

Saya akan memulai pembahasan saya dari definisi kurikulum itu sendiri.

Curriculum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum di artikan jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah.

Dalam perkembangannya, kurikulum didefinisikan sebagai, suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggungjawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.

Di negara ini, kurikulum ditetapkan oleh kementrian (dulu dept.) Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud). Beberapa kurikulum yang pernah digunakan di Indonesia adalah sbb: (boleh dilewat hungga tanda — di bawah).
1. 1947-Leer Plan
Isi: Jenis-jenis mata pelajaran dan waktu belajar, garis-garis besar pengajaran
Penekanan: pendidikan watak (karakter), kesadaran bermasyarakat
Pengajaran: dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, seni, olahraga

2. 1952 – Rencana Pelajaran Terurai
Mulai menggunakan Silabus

3. 1964 – Rentjana Pendidikan
Ciri utama: pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.

4. 1968 – kurikulum 1968
Kurikulum 1968 adalah penyempurnaan dari Kurikulum 1964. Pada kurikulum ini, struktur pendidikan diubah, dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.

Kurikulum ini merupakan kurikulum terintegrasi pertama. Beberapa mata pelajaran, seperti Sejarah, Ilmu Bumi, dan beberapa cabang ilmu sosial mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial. Beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPS) atau yang sekarang sering disebut Sains

5. Tahun 1975 – Kurikulum 1975
Kurikulum ini bertujuan agar pendidikan lebih efisien dan efektif.
Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Pada kurikulum ini mulai dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 ini sepertinya mimpi buruk bagi guru, karena mereka dibuat sibuk dengan berbagai catatan kegiatan belajar mengajar.

6. Tahun 1984 – Kurikulum 1984
Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Pendekatan pada kurikulum ini adalah proses belajar, tanpa melupakan tujuan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL).

Saya masih mengalami kurikulum ini saat SD. Kurikulum yang luar biasa karena guru berperan sebagai fasilitator. Salah satu yang saya ingat adalah, kami diminta mengamati kecambah, kemudian membuat laporan hasilnya.

7. Tahun 1994 dan 1999 – Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Dalam kurikulum 1994 beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum sehingga Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.

Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada merevisi dan pengurangan beban sejumlah materi.

8. Tahun 2004 – Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi yang harus dicapai siswa. Kurikulum ini cenderung Sentralisme Pendidikan, Kurikulum disusun oleh Tim Pusat secara rinci; Daerah/Sekolah hanya melaksanakan. Kurikulum yang tidak disahkan oleh keputusan/Peraturan Mentri Pendidikan ini mengalami banyak perubahan dibandingkan Kurikulum sebelumnya baik dari orientasi, teori-teori pembelajaran pendukungnya bahkan jumlah jam pelajaran dan durasi tiap jam pelajarannya.

Berdasarkan hal tersebut pemerintah baru menguji cobakan KBK di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa saja. Hasilnya kurang memuaskan. Maka sebagian pakar pendidikan menganggap bahwa pada tahun 2004 tidak terjadi perubahan kurikulum, yang ada adalah Uji Coba Kurikulum di sebagian sekolah yang disebut dengan KBK untuk kemudian disempurnakan pada tahun 2006.

9. Tahun 2006 – Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004.

Perbedaan yang paling menonjol pada Kurikulum ini adalah lebih konstruktif sehingga guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengembangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.

Saya mengalami kurikulum 1984 saat saya SD dan 1994 saat saya SMP-SMA. Kalau melihat penjelasan di atas, bukankah aneh kalau sesuatu yang baik di kurikulum 1984 bisa menurun drastis di tahun 1994. Kemudian naik lagi di tahun 2006 yang ternyata penerapannya tidak sebaik kurikulum 1984.

Kurikulum 1947 hingga 1964 menekankan pada pembentukan karakter dan moral bangsa, entah bagaimana kemudian digantikan dengan Pendidikan Pancasila yang pada akhirnya dipenuhi dengan seperangkat hafalan-hafalan yang tidak ada (atau sulit dicari) hubungannya dengan etika, moral atau karakter.

Tragisnya masalah karakter ini tidak disebut-sebut lagi hingga kurikulum 2006 ini, walau secara wacana memang pernah disebutkan bahwa karakter akan dimasukkan ke dalam kurikulum.

Nah, sudah mulai kepanjangan lagi. Di bagian 3 nanti saya akan mendeskripsikan mengenai kurikulum 2013 dan tuntutan guru. Untuk sementara segini dulu ya…

Advertisements

One thought on “Bacaan yang (lebih) berat: kurikulum 2013 (bag.2)

Comments are closed.