Saya sedang menonton idola cilik RCTI. Suatu acara yang (seharusnya) mendidik, menghibur, dan ditujukan untuk anak-anak. Saya tidak tahu dan tidak peduli dengan politik kotor berkaitan dengan pulsa dan sms yang ada di balik acara-acara pencarian bakat di Indonesia, walau hal tersebut tentunya berpengaruh pada mentalitas dari para peserta, dalam hal ini anak-anak.

Saat menonton acara ini, saya senang melihat bakat-bakat cilik Indonesia dengan suara emas mereka. Namun saya juga sedih karena pada saat yang bersamaan tayangan tersebut mempertontonkan hal-hal negatif yang ironisnya ditunjukkan oleh orang dewasa, pemandu acara dan para juri.

Ada dua hal hal negatif yang paling jelas dari acara ini, yang akan saya angkat di tulisan ini.

1. Respect (sikap menghargai orang lain)
2. Responsibility (tanggung jawab)

Pertama adalah kurangnya (bahkan hampir tidak ada) sikap hormat dan menghargai yang ditunjukkan oleh juri kepada rekan sejawat. Bukannya menghargai pendapat juri lain, juri di acara ini malah memotong, meremehkan dan melecehkan pendapat juri lain.

Sebagai contoh, ketika kak Naga (lila) menyarankan pada salah satu peserta untuk mencoba eksplorasi lagu lain, Rafi Ahmad memotong dengan celetukan, “pengen lagunya dibawain kali”, yang kemudian dilanjutkan dengan saling cela antara dua juri.

Baik, mungkin Anda berkata, “itu cuma bercanda”. Pertanyaan saya, apakah anak-anak di rumah yang menonton tahu? Kalaupun tahu, begitukah cara bercanda, meremehkan orang lain?

Contoh lain lagi ketika kak Naga memberi masukan yang baik, lagi-lagi kak Rafi Ahmad nyeletuk, “tumben, komentarnya bagus”.

Dan masih banyak sekali contoh-contoh tidak mendidik lain, yang tidak hanya ditunjukkan oleh juri (khususnya Rafi Ahmad yang entah bagaimana bisa ada di deretan juri), tapi juga oleh pembawa acara yang dalam salah satu kesempatan melecehkan fisik gitaris dan menyinggung mengenai hubungan percintaan Rafi Ahmad.

Budaya melecehkan di panggung ini mungkin terinspirasi oleh beberapa acara dewasa yang saling menghina seperti “bukan empat mata”, “indonesia mencari bakat” dan beberapa acara talk show lain, yang memang tidak mendidik.

Anak-anak menangkap apa yang ada di sekitarnya dan mengubahnya menjadi sebuah persepsi, dan akhirnya sesuatu yang mereka yakini sebagai kebenaran. Jika kita sebagai orang dewasa memperlihatkan sesuatu yang tidak mendidik pada mereka, apalagi dikemas dengan manis, menjadi tontonan umum, dan ditertawakan, maka mereka akan melihat hal itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang positif.

Saya tidak heran jika suatu saat bangsa ini akan terdiri dari orang – orang yang egois dan tidak dapat menghargai orang lain. Perlu ada audisi untuk siapa saja yang terlibat dalam acara untuk anak!

Respek ini juga terlihat di acara lain sejenis, Indonesia Mencari Bakat yang mencampurkan finalis dewasa dan anak-anak. Saya sangat terganggu dengan finalis anak-anak yang mengucapkan dengan lantang “terimakasih” saat juri memberi mereka masukan. Tanpa mempedulikan apa masukan juri mereka berteriak, “terimakasih” tanpa sebutan ‘kak’ atau ‘tante’ atau ‘om’, yang sungguh tidak sopan.

Minggu kemarin, saya menonton lagi acara IMB ini dan senangnya saya ketika seorang finalis cilik dengan bakat Jaipong mulai mengubah kebiasaannya. Biasanya ia hanya bilang, “terimakasih”, tapi minggu kemarin, ia mengucapkan, “terimakasih om deddy”, atau “terimakasih tante soimah”, dst.

Ini hal sepele, tapi saya sungguh berterimakasih pada siapapun yang mengajari anak ini. Saya pikir pihak transtv yang mengajarinya, tapi ketka melihat kumpulan penari cilik wanita berusia 12an yang masih berteriak, “terimakasih”, saya tidak yakin trans tv yang memiliki inisiatif itu.

Ini adalah hal sepele yang jika diperhatikan akan berpengaruh pada etika kaum muda dan anak-anak bangsa.

Hal kedua adalah mengenai tanggungjawab. Dengan mudah seorang anak menyalahkan cuaca, atau kondisi fisiknya ketika ia lupa lirik lagunya atau tidak dapat mempertahankan pitch dalam lagu yang dibawakannya.

Saya pikir, acara seperti ini seharusnya berperan serta dalam pembangunan karakter peserta pada khususnya, dan anak-anak pada umumnya. Ketika kamu salah, akui… tidak perlu mencari pembenaran dengan alasan-alasan. Dalam kehidupan nyata yang sesungguhnya, kita bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahan kita, tak peduli apakah saat melakukannya cuaca sedang buruk atau kita sedang masuk angin. Karena menjaga kesehatan adalah bagian dari tanggungjawab!

Sekian dulu review saya mengenai acara anak yang (seharusnya) mendidik…

Advertisements