Kemarin malam saya menonton Mata Najwa, sebuah talk show yang dipandu oleh seorang reporter handal, Najwa Shihab, di Metro TV. Episode hari itu membahas tentang kurikulum 2013 yang akan menggantikan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang digunakan sejak 2006. KTSP sendiri merupakan kurikulum penyempurnan dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang digunakan sejak 2004.

Talk Show saat itu didahului oleh menteri pendidikan yang menyebutkan alasan-alasan kementerian pendidikan mengubah kurikulum (melalui webcam), yang kemudian dikritisi oleh dua orang wanita hebat yang kontra terhadap kebijakan ini, praktisi pendidikan Weilin Han dan sekjen PSGI Retno Listyarti. (Anda bisa menonton episode itu di sini).

Mendikbud, M.Nuh mengatakan bahwa kurikulum 2013 inilah yang terbaik karena merupakan kurikulum siap pakai. Beliau menyampaikan bahwa dalam kurikulum tersebut, mata pelajaran dikurangi, IPA dan IPS yang saat ini justru menjadi mata pelajaran terpenting, akan digabung dengan pelajaran lain. Di lain pihak, anak-anak akan senang ke sekolah karena beban buku menjadi ringan.

Beberapa pendapat kontra jika dirangkum akan menjadi sebagai berikut, “Pendidikan di negara ini kurang berkualitas karena SDM pengajar yang tidak berkualitas. Guru dinilai kurang berkualitas karena tidak dilengkapi dengan pelatihan yang memadai.”

Menurut saya, minimnya kualitas pengajar disebabkan 3 faktor:
1. Motivasi guru
2. Usia produktif guru
3. Pemerintah dan korupsi

Jujur sajalah, motivasi orang menjadi guru SAAT INI kebanyakan adalah sebagai berikut:
1. Satu-satunya cara mudah diterima di univ favorit adalah program MIPA yang ujung-ujungnya jadi guru. Untuk tipe ini, minim pengetahuan mengajar karena memang tidak diajar untuk menjadi guru.
2. Kuliah pendidikan itu mudah, murah, cepat. Untuk tipe ini, sebenarnya harusnya bisa mengajar, tapi, pikir sendiri bagaimana tipe orang yang ingin kuliah mudah, murah, cepat.
3. Banyak hari liburnya. Anak libur, guru ikut libur. Untuk tipe ini lebih gawat lagi, bisa jadi sembarang orang jadi guru, tidak terlatih, hanya bisa menumpahkan isi kepala.
4. Tidak diterima bekerja di tempat lain, sementara jadi guru dulu. Untuk tipe ini, mereka bekerja setengah hati, tanpa komitmen.
5. Suka anak-anak/remaja. Kedengarannya motivasi yang bagus? Jangan heran jika Anda melihat tipe ini sibuk bermain bersama anak tanpa memberi bobot belajar dalam kegiatan bermainnya.
6. Suka mengajar. Ini motivasi yang paling baik. Tapi keburukannya, biasanya orang yang suka mengajar merasa metodenya paling tepat sehingga sulit untuk diajar.

Anda mengatakan saya skeptis? Baik, tanyakan pada guru yang Anda kenal, bagaimana perasaan mereka ketika membuat RPP dan silabus (akan dibahas di bagian selanjutnya).

Baik, setelah motivasi, kita soroti usia produktif. Lihatlah guru-guru SD di sekolah-sekolah negeri maupun swasta, katakan pada saya, berapa usia mereka? Menurut pengamatan saya (saat mengunjungi SD Negeri dalam kaitannya dengan pelayanan, atau memberi training guru), kebanyakan berusia di atas 50 tahun. Bahkan ada yang berusia 70an dan masih mengajar.

Jangan salah sangka, saya tidak mendiskreditkan para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Saya menyoroti gap usia yang terlalu luas ini berpeluang menimbulkan konflik. Kebanyakan guru menerapkan metoda lama (yang diperolehnya saat mereka belajar dulu) untuk mengajar generasi muda abad 21 ini. Hal ini jelas akan menimbulkan kesulitan karena peningkatan teknologi yang begitu pesat membuat pola pikir anak cepat berkembang, dibanding generasi abad 20an.

Belum lagi guru usia 50 ke atas sebagian besar menentang teknologi dan tidak mau tahu pada apa yang terjadi dengan dunia maya.

Bagaimana dengan yang berusia kebih muda? Saya pernah menjumpai guru di salah satu SMP Negeri pinggiran yang tidak pernah masuk kelas untuk mengajar. Padahal mata pelajarannya butuh tatap muka, yaitu matematika. Apa yang dilakukannya sebagai gantinya? Ia membuat blog (sekalian ajang cari uang), mengupload soal-soal ujian, menscan buku pelajaran, dan mendorong anak didiknya membuka blognya untuk belajar sendiri dan mengerjakan soal dari blognya.

Absen dinilai dari komentar murid di blog tersebut. Betapa dunia pendidikan di negeri ini sudah sekarat!

Terakhir, faktor pemerintah. Menurut sekjen PSGI, ibu Retno, tidak ada rencana training guru dalam anggaran tahunan kemendikbud. Menunjukan bahwa pemerintah kita tidak peduli pada kualitas guru. Entah apakah pemerintah naif dengan berpikir bahwa selama ini masalah rendahnya kualitas pendidikan adalah karena kurikulum, ataukah pemerintah memanfaatkan kesempatan perubahan kurikulum ini sebagai ajang mengumpulkan rupiah untuk kantong pribadi mereka.

Training guru secara merata diikuti dengan mentoring berkesinambungan dan regulasi yang tegas merupakan jalan keluar untuk masalah pendidikan di negeri ini.

Saat ini, pendidikan swasta di negeri ini jauh lebih baik daripada pendidikan si sekolah negeri, berbeda dengan di luar negeri. Ah, andai saja pendidikan sepenuhnya ditangani swasta, atau…pemerintah berbesar hati untuk bekerjasama dengan para pakar pendidikan, atau sekedar meminta pendapat mereka.

Toh semuanya untuk masa depan bangsa, untuk Indonesia yang lebih baik.

Saya tidak mau membuat pembaca bosan, bagian ini saya hentikan dulu. Di bagian berikutnya saya akan membahas mengenai apa itu kurikulum 2013, dan komentar saya, tentunya…. (ini kan blog pribadi saya, bukan media informasi hehe…)

Advertisements